
Semalaman Daisy menemani Anwar. Dia ingin menebus kesalahannya pada sang suami. Walau jahitan bekas operasinya masih sakit tapi dia tahan.
"Ah." Anwar mukai membuka mata. Dia merasakan kakinya sakit. "Kakiku kenapa?" tanya Anwar.
Daisy yang menyadari suaminya bangun kemudian membuka mata. Semalam dia tidur dalam keadaan duduk. "Mas, kamu sudah bangun?" Ada rasa lega di hati wanita yang sudah empat tahun menikah dengan Anwar tersebut.
Daisy mengambil air minum untuk suaminya. "Ini minumlah dulu, Mas."
Anwar menerima gelas yang diberikan oleh Daisy. "Terima kasih," ucap Anwar sambil tersenyum. Sumpah demi apa dia sangat senang ditemani oleh istrinya lagi.
"Mas Anwar kecelakaan. Kakimu patah dan kemaren baru saja dioperasi," kata Daisy memberi tahu.
"Apa aku membuat kamu cemas?" tanya Anwar.
"Sangat, aku takut kehilangan kamu, Mas." Daisy memeluk suaminya erat. Dia sangat rindu saat ini. Saat dia merajuk dan pulang ke rumah orang tuanya, Daisy begitu merindukan suaminya. Namun, memeluk saja tidak bisa karena dia tidak mau bertemu dengan Anwar.
Anwar mendapatkan jawaban yang sesuai dengan harapannya. Padahal dia belum memberikan bukti kalau malam itu dia tidak melakukan sesuatu pada Laras.
"Apa kamu sudah tidak marah lagi?" Jantung Anwar berdegup kencang ketika menunggu jawaban istrinya.
Daisy menggeleng. "Maafkan aku telah menuduhmu yang bukan-bukan. Aku menyesal, Mas." Daisy menunduk.
Anwar mengangkat dagu istrinya. "Sudahlah, yang penting sekarang kamu percaya kalau aku tidak menduakanmu." Daisy tersenyum malu-malu. Sesaat kemudian Anwar menempelkan bibirnya ke bibir sang istri. Sayangnya, ketika mereka hendak berciuman seorang dokter dan seorang perawat datang berkunjung.
"Selamat pagi," sapa dokter tersebut.
Daisy menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu. Sedangkan Anwar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Bagaimana keadaan Pak Anwar hari ini?" tanya Dokter itu sekilas dia melirik ke arah Daisy.
__ADS_1
"Baik, Dok. Hanya sedikit syok karena melihat kaki saya harus di gip seperti ini," jawab Anwar.
"Tidak ada keluhan lain?" tanya Dokter itu lagi.
"Ada, Dok. Lapar belum sarapan." Anwar melirik istrinya. Daisy tersenyum malu-malu. Dokter dan perawat itu memperhatikan interaksi antara Anwar dan Daisy.
"Baik, saya rasa hanya menunggu pemulihan. Saya tinggal dulu agar Anda bisa sarapan," sindir dokter itu.
Setelah dokter dan perawat itu keluar, Daisy memukul bahu suaminya. "Dasar mesum!" Anwar jadi terkekeh.
"Ayo, beri aku sarapan!" Anwar menarik lengan baju istrinya. Tanpa ragu lagi, Daisy memberikan apa yang diminta sang suami. Dia mencium Anwar dengan lembut di bagian bibirnya. Keduanya sangat menikmati ciuman mereka karena keduanya saling merindukan satu sama lain.
Namun, lagi-lagi datang pengganggu. Kali ini kedua orang tua Daisy datang berkunjung. Devon reflek menutup mata Mama Cindy. "Papa apaan sih? Mama juga pengen nonton adegan live." Mama Cindy menyingkirkan tangan suaminya.
"Ehem." Devon berdehem untuk menunjukkan keberadaan dirinya. Daisy dan Anwar pun melepas pagutannya. Anwar masih tenang dan menghapus bibirnya yang basah bekas ciuman sang wanita pujaan.
Daisy menjadi malu karena orang tuanya melihat dia berciuman dengan sang suami. "Mama, papa, masuk kok nggak ketuk pintu dulu?" protes Daisy.
"Hish, mama." Daisy malu lalu bergelayut manja di lengan sang ibu.
"Anwar, bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya Devon dengan nada bicaranya yang tegas.
"Baik, Pa." Wajah Anwar terlihat berseri-seri meskipun kaki dan kepalanya sedang diperban.
"Aku kira ketika bangun kamu akan amnesia. Ternyata tidak sesuai prediksiku."
"Papa," protes Daisy dan Mama Cindy secara bersamaan.
"Ya, papa kan lihat di film-film begitu, Ma. Mama kemaren tidak lihat darah yang keluar dari kepalanya begitu banyak. Seperti saus yang tumpah dari botolnya."
__ADS_1
"Papa." Lagi-lagi kedua wanita itu protes pada ucapan Devon.
"Kalian ini kenapa sih? Kompak banget," cibir Devon. Anwar hanya tersenyum. Akhirnya mereka kembali berkumpul.
Meski tidak memiliki keluarga, tapi keluarga istrinya sangat hangat hingga dia enggan untuk meninggalkan keluarga yang telah banyak membantunya sejak remaja.
Ya, Devon pernah membantu biaya rumah sakit ibunya Anwar dan memberi uang untuk biaya sekolah laki-laki itu ketika dia masih remaja. Kebaikan Devon itulah yang membuat Anwar setia pada Cello.
"Eh, papa harus berangkat ke kantor. Daisy kamu temani saja suamimu. Tapi katakan jika kamu merasa lelah. Mamamu akan menggantikan kamu." Devon berpesan pada putri bungsunya itu.
"Baik, Pa. Papa hati-hati di jalan."
"Pa, mama nanti naik taksi saja. Sekalian mau ke rumah Fara. Mama kangen sama Cio." Devon mengangguk menanggapi ucapan istrinya.
Sementara itu di tempat kerja posisi Anwar saat ini digantikan oleh Bella. Sekertaris yang menjabat di bawah Anwar. "Bel, kamu sekarang menggantikan Anwar untuk sementara waktu. Dia sakit dan butuh waktu penyembuhan agak lama."
Bella mengangguk patuh. "Baik, Pak."
"Mulai sekarang pekerjaan kamu akan dibantu oleh salah seorang pegawai di bawah kamu. Tunjuk saja satu di antara mereka untuk membantumu."
"Terima kasih banyak, Pak." Cello mengangguk setelah itu menyuruh Bella keluar.
"Yes, akhirnya aku bisa deket-deket sama Pak Cello," gumam Bella. Diam-diam dia mengagumi Cello. Selain tampan dan mapan, Cello juga ramah pada bawahannya. Namun, itu terjadi karena pengaruh Fara. Dia yang mengubah Cello sedingin es menjadi sehangat mentari.
Apakah Bella akan jadi duri dalam rumah tangga Cello dan Fara?
...♥️♥️♥️...
Udah senin nih yuk kasih VOTE nya. Sambil nunggu jangan lupa mampir ya ke novel baruku
__ADS_1