MAHAR 10 MILIAR

MAHAR 10 MILIAR
Bab 69


__ADS_3

Hari ini Daisy tiba di rumah sekitar pukul sepuluh pagi. Dia datang menggunakan taksi. Daisy memang tidak diantar oleh Anwar karena laki-laki itu juga berangkat menggunakan taksi.


"Pagi, Ma," sapa Daisy.


"Kamu sudah pulang, Nak?" tanya Mama Cindy.


"Kok sepi, Ma?" tanya Daisy. Seingatnya Fara tinggal di sana selama beberapa hari.


"Papa dan abangmu kerja. Fara sudah mulai masuk kuliah," jawab Mama Cindy.


"Owh, pantas saja. Kak Fara udah nggak tinggal di sini?" tanya Daisy.


"Dia kembali ke apartemen semalam. Kamu ganti baju dulu sana! Habis itu turun, mama udah masak buat kamu."


"Iya, Ma."


Daisy memasuki kamarnya. Dia melepas blazer yang dia kenakan. Daisy bercermin untuk melihat bekas percintaan yang semalam dia lakukan dengan Anwar. "Untung saja tidak terlalu banyak," gumam Daisy.

__ADS_1


Dia tersenyum ketika mengingat semalam mereka melakukan penyatuan. Sesaat kemudian Daisy mengusap perutnya yang rata. "Bagaimana kalau nantinya akan ada anak Mas Anwar yang tumbuh di sini?" gumam Daisy.


Namun, nyatanya setelah ditunggu selama sebulan, Daisy tak kunjung hamil. Parahnya lagi dia malah datang bulan. "Ck, kenapa nggak jadi sih kecebongnya Mas Anwar? Apa karena baru melakukannya sekali ya?" gumam Daisy.


Kesal sekali rasanya dia tidak bisa memberikan alasan agar sang ayah mengabulkan permintaannya untuk menikah dengan Anwar.


"Mas Anwar kok nggak ngelamar aku juga ya? Apa dia bohong dan ingkar janji?" gumam Daisy. Karena penasaran, dia pun mendatangi rumah Anwar.


Kebetulan hari ini tanggal merah, dia tidak ada jadwal kerja jadi dia putuskan untuk datang berkunjung ke rumah Anwar.


"Anwar, ibu ingin kamu menikahi Laras," pesan sang ibu pada Anwar.


"Tapi Bu..."


"Nak, Laras sudah tidak punya bapak, dia butuh sandaran untuk berlindung. Selama ini dia yang merawat ibu. Izinkan ibu membalas jasanya untuk menikahkan dia denganmu, Anwar."


Daisy yang kala itu masuk ke dalam rumah Anwar mendengar semua yang Bu Murni katakan pada anaknya. Dia menutup mulutnya tak percaya. Daisy pun memilih pergi diam-diam.

__ADS_1


"Laras, kamu bersedia bukan menikah dengan anak ibu?" tanya Bu Murni. Laras mengangguk malu-malu.


"Sekarang ibu bisa tenang." Sesaat kemudian Bu Murni menghembuskan nafas terakhir.


Anwar yang biasanya dingin kini air matanya meleleh tak terbendung. Dia menangis di depan jenazah ibunya. Begitu juga dengan Laras. Wanita yang rumahnya berjarak satu rumah dari rumah Anwar itu ikut menangis.


Kemudian Anwar meminta warga membantu pemakaman ibunya. Anwar memberikan kabar pada Cello. Cello beserta keluarganya datang untuk memberikan penghormatan terakhir pada ibunda Anwar.


"Kami turut berduka, Bro." Cello menepuk bahu Anwar agar laki-laki itu tegar menghadapi kepergian sang ibu.


"Mas, aku turut berduka cita," ucap Daisy dengan nada datar. Dia mengenakan kaca hitam.


Daisy tak mau Anwar melihat matanya yang sembab karena habis menangis. Daisy benar-benar kecewa pada Anwar meskipun belum diketahui pasti keputusan Anwar. Tapi sebagai anak yang berbakti tentu saja Daisy bisa menebak kalau laki-laki yang dia cintai itu memilih menikah dengan pilihan ibunya.


"Daisy," panggil Anwar dengan suara lirih. Dia bingung harus memilih Daisy ataukah Laras. Keduanya sama-sama kandidat yang kuat. Jika Daisy adalah wanita yang dia cintai maka Laras juga wanita yang berjasa pada ibunya. Anwar kini dilema.


Segini dulu nanti dilanjut lagi ya, VOTE nya jangan lupa

__ADS_1


__ADS_2