MAHAR 10 MILIAR

MAHAR 10 MILIAR
Bab 46


__ADS_3

"Tidak ada yang perlu dimaafkan," kata Daisy menjawab omongan Arjuna ketika laki-laki itu meminta maaf padanya.


"Daisy aku tahu aku salah karena telah selingkuh di belakang kamu tapi tidak bisakah kamu memberiku kesempatan kedua?" tanya Arjuna. Dia memohon pada wanita itu.


Petir dan hujan yang begitu lebat menambah suasana di ruangan tersebut menjadi bertambah tegang. "Aku tidak tahu apakah aku ini jahat atau tidak. Akan tetapi perbuatan kamu sudah membuat hatiku terluka, Mas. Aku butuh waktu untuk menyembuhkannya. Jadi jika sekarang kamu ingin minta kembali rasanya aku tidak bisa."


Dengan kata lain, Daisy menolak Arjuna. Laki-laki itu paham Jika Daisy tak mau memaafkan dirinya. Tapi Arjuna berjanji akan mendapatkan maaf dari seorang Daisy. "Aku pergi," pamit Arjuna pada Daisy.


Daisy memalingkan wajahnya. Dia bahkan enggan menahan kepergian Arjuna. Setelah Arjuna menutup pintu dia melupakan perasaan dengan menangis. Daisy menutup wajah dengan kedua telapak tangan.


Anwar berpapasan dengan Arjuna yang baru saja keluar dari ruangan Daisy. Dia ingin mengantarkan pakaian ganti untuknya. Mereka beradu tatap sejenak lalu Anwar tersenyum sinis pada Arjuna. Dilihat dari ekspresi wajahnya Anwar bisa menebak kalau dia habis bertengkar dengan Daisy.


Tok tok tok


"Masuk!"


Anwar pun membuka engsel pintu. "Aku bawakan barang-barang kamu," kata Anwar seraya meletakkan tas yang dia bawa di atas sofa.


"Terima kasih. Seharusnya Mas Anwar tidak perlu repot. Besok aku juga pasti sudah diperbolehkan keluar," kata Daisy dengan percaya diri.


Anwar berdiri di depan Daisy. "Jangan menangisi laki-laki pengkhianat seperti dia!"


"Tidak, siapa yang menangis?" elak Daisy seraya memalingkan wajahnya.


"Matamu merah, pipimu juga basah. Apalagi kalau tidak sedang menangis?" tebak Anwar.


"Kenapa tidak ada yang menunggui kamu?" tanya Anwar karena dia tidak menjumpai satu orang pun keluarga Daisy.


"Tadi ada Kak Fara mungkin dia pulang saat Arjuna datang ke sini," jawab Daisy.


"Apa mau aku temani?" tanya Anwar.


"Tidak, ada perawat di sini. Lagipula aku sudah besar aku bisa menjaga diriku sendiri," tolak Daisy.


Anwar tidak memaksa. Meski Daisy menolaknya Anwar tetap tidur di luar.


Sementara itu di apartemen Cello sedang mencari gunting untuk membuka bungkus camilan yang dia beli di minimarket beberapa waktu lalu. Namun, dia menemukan obat di laci meja dekat tempat tidurnya. "Ini apa?" gumam Cello lalu membaca petunjuk yang ada di label obat tersebut.

__ADS_1


Cello mencengkeram botol obat itu kuat-kuat. "Jadi selama ini kamu konsumsi pil kontrasepsi?" Giginya menggertak menahan amarah.


"Sayang," panggil Fara.


Cello menyembunyikan obat tersebut. "Iya," jawab Cello.


"Tolong ambilkan handuk! Aku lupa bawa handuk," teriak Fara dari dalam kamar mandi. Cello pun bangun dari tempat duduknya. Dia mengambil handuk kemudian memberikan handuk itu pada Fara.


Setelah itu Fara keluar dari kamar mandi. Dia mengusap rambutnya yang basah. "Mau aku bantu keringkan nggak rambutnya?" Cello menawarkan bantuan.


"Boleh," jawab Fara dengan senyum di wajahnya.


"Kamu kenapa Mas?" tanya Fara yang menatap wajah Cello dari cermin.


"Yang, apa kamu keberatan kalau kita punya anak?" Pertanyaan Cello membuat Fara merasa bersalah karena dia yang ingin menunda momongan.


"Kenapa tiba-tiba tanya seperti itu, Mas?" tanya Fara.


"Ah tidak, aku hanya merasa rumah kita ini terlalu sepi," jawabnya dengan wajah sendu.


Fara berdiri lalu balik badan. Tangannya mengalung ke leher suaminya. "Kamu ingin anak berapa?" goda wanita itu.


Cello menempelkan bibirnya ke bibir Fara. "Jangan menggodaku!" ucapnya sambil mengangkat tubuh Fara.


"Mas, aku baru saja mandi," tolak Fara.


"Memangnya kenapa? Kamu bisa mandi lagi. Apa kamu ingin kita mandi bersama?" goda Cello. Wajah Afra bersemu merah.


"Dasar iblis mesum," ledek Fara.


Cello tak memberi ampun. Dia menghukum Fara dengan memberikan ciuman panas di bibir istrinya. "Maafkan aku, Mas. Aku terpaksa menunda untuk mendapatkan momongan," ucap Fara dalam hati.


Keesokan harinya Cello berangkat kerja sambil mengantarkan istrinya ke kampus. "Aku pulang agak malam karena ada lembur hari ini. Jadi nanti kamu naik taksi saja," pesan Cello pada Fara ketika akan turun dari mobil.


"Iya, Mas. Aku masuk dulu ya," pamit Fara. Dia melambaikan tangan pada suaminya.


"Fara," panggil Gita.

__ADS_1


"Diantar suami ya?" tanya Gita pada sahabatnya. Fara mengangguk.


"So sweet banget sih. Aku jadi iri," ujar Gita sambil memanyunkan bibirnya.


"Makanya cari sopir pribadi," ledek Fara.


"Aku biasa naik taksi," jawab Gita yang tak mengerti maksud Fara. Fara menggelengkan kepalanya.


"Maksud aku itu cari pacar. Biar ada yang nganter kamu ke mana-mana," terang Fara.


"Ah, mana ada cowok yang mau sama aku." Gita merasa minder.


"Ada, setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan," jawab Fara. Gita tersenyum.


"Beruntung banget laki-laki yang menikah sama kamu. Selain kamu baik kamu juga tidak pilih-pilih teman. Padahal kamu bisa saja berteman dengan gadis yang lebih kaya daripada aku."


"Apaan sih? Masuk aja yuk! Nanti kita telat ikut mata kuliah pertama," kata Fara sambil menarik tangan Gita untuk memasuki ruangan.


Sementara itu Cello yang mengunjungi adiknya di rumah sakit terkejut ketika melihat Anwar tertidur di depan ruang rawat Daisy. "Anwar," panggil Cello. Dia mengguncang tubuh bawahannya itu.


Anwar membuka mata. "Pak, maaf saya tidur di sini."


"Pulanglah, lalu kembali ke kantor! Terima kasih telah menjaga adikku semalaman," ucap Cello dengan tulus. Anwar mengangguk patuh.


Setelah itu Cello masuk ke ruangan Daisy. "Pagi," sapa Cello.


"Pagi, Bang."


"Lho rupanya ada mama di sini?" tunjuk Cello.


"Tapi kenapa tidak bangunin Anwar tadi?" tanya Cello heran.


"Mama kasian sama Anwar. Jadi mama biarin dia tidur di luar," jawab Mama Cindy.


"Apa? Mas Anwar semalam tidur di luar?" tanya Daisy tak percaya. Padahal dia mengusirnya semalam. Daisy merasa tidak enak.


"Apa dia masih di luar?" tanya Daisy. Cello menggeleng.

__ADS_1


"Sudah aku suruh pulang? Kenapa? Semalam kamu mengusirnya ya?" tebak Cello. Daisy mengangguk. Cello tersenyum.


"Dasar gadis nggak peka!" Cello mengacak rambut adiknya gemas. Mama Cindy dan Daisy sama-sama menatap Cello dengan tatapan penuh tanya.


__ADS_2