
Sudah hampir empat tahun Daisy dan Anwar menikah. Namun, mereka belum dikaruniai seorang anak. Daisy malah sering mengajak keponakannya jika sedang tidak bekerja.
"Malam ini Cio biar tidur di rumah aku ya, Bang." Daisy meminta izin pada Cello.
Cello mengubah posisi duduknya. "Ck, tanya sama ibunya sana!
"Kak Fara Cio biar tidur sama aku ya nanti malam," rengek Daisy.
"Iya, boleh. Besok aku akan ikut sidang skripsi jadi nitip Cio ya." Fara menyetujui permintaan Daisy. Daisy senang bukan kepalang. Sejak kecil anak itu sudah terbiasa dengan Daisy.
"Kalau begitu aku ambil baju Cio dulu." Daisy memasuki kamar Cio dia mengambil dua stel baju milik anak usia tiga setengah tahun itu.
Usai mengambil baju, Daisy mengajak Cio berpamitan. "Jangan nakal ya Cio kalau di rumah onty." Fara berpesan pada anaknya.
"Iya, Mom." Fara mencium anaknya sebelum masuk ke dalam mobil. Cio melambaikan tangan ketika mobil Daisy mulai melaju.
Sesampainya di rumah Daisy mengajak Cio masuk. "Om, Anwal," panggil anak kecil bernama lengkap Arcio Genandra Felix itu.
"Eh, Cio kok ada di sini?" tanya Anwar.
"Aku yang ajak dia ke sini. Besok Kak Fara mau ujian skripsi jadi Cio tidur sini, Mas. Iya kan, Cio?" Daisy meminta dukungan Cio.
Arcio mengangguk membenarkan ucapan bibinya. "Yuk maem dulu!" Daisy mengajak keponakannya itu makan malam. Anwar berjalan mengikuti keduanya.
Anwar senang melihat anak kecil itu, tapi dia sebenarnya menginginkan anak yang lahir dari rahim istrinya. Namun, selama empat tahun menikah dengan Daisy tak pernah sekalipun Anwar membahas soal anak karena dia tidak ingin menyakiti Daisy.
Anwar menerima wanita itu apa adanya. Meski saat ini pernikahan mereka terlihat tak sempurna tanpa hadirnya seorang anak, tapi Anwar berharap suatu hari nanti Daisy bisa hamil.
Daisy menyuapi Cio dengan telaten. Setelah itu dia mengajak Cio bermain. Tak lama kemudian Arcio menguap. Itu tandanya dia sudah mulai mengantuk. Daisy mengajak Cio ke dalam kamar.
Anak itu termasuk anak yang penurut dan tidak rewel. Daisy hanya mengelus kepalanya beberapa kali, Arcio langsung tertidur.
Setelah Cio tertidur, Daisy keluar kamar. Anwar berdiri di depan kamar itu. "Mas Anwar ngagetin saja." ucap Daisy sambil memegang dadanya.
Anwar tersenyum. "Kita ngobrol di kamar yuk!" ajak Anwar. Daisy tersenyum menyeringai.
"Penting banget?" goda Daisy.
Anwar menarik lengan Daisy. "Sini duduk dulu!" Anwar meminta istrinya duduk di tepi ranjang. "Sayang, apa kamu ingin punya anak?" tanya Anwar. Dia membelai lembut rambut panjang istrinya itu.
__ADS_1
Daisy memegang tangan Anwar. "Aku sangat ingin, Mas. Tapi mau bagaimana lagi kalau belum dikasih."
"Bagaimana kalau kita periksa ke dokter," usul Anwar. Selama ini, Daisy menolak ketika dia ingin diajak ke dokter. Namun, kali ini Daisy mengangguk. Dia menurut perintah suaminya.
Anwar tersenyum. "Baiklah, aku akan izin pada abangmu untuk mengantarmu ke dokter. Kita titipkan Cio ke mama, bagaimana?" tanya Anwar.
"Iya, Mas. Malam ini aku akan menemani Cio. Kamu tidak apa-apa bukan jika tidur sendiri?" tanya Daisy.
"Tidak apa-apa," jawab Anwar. Daisy pun menuju ke kamar Cio.
Keesokan harinya, Daisy mengajak Cio masuk ke mobil. "Kita akan jalan-jalan ya, Onty?" tanya Cio polos.
"No, Cio. Kita akan ke rumah oma. Onty sama om mau ke dokter buat periksa," jawab Daisy.
"Onty sakit ya?" tanya Cio. Daisy menggeleng.
"Onty hanya tanya-tanya sama pak dokter," jawab Daisy sambil mengusap lembut kepala anak itu.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Anwar.
"Ready, go!" seru Cio bersemangat.
"Assalamualaikum, Ma."
"Waalaikumsalam. Lho cucu oma kok ada di sini?" tanya Mama Cindy.
"Iya, semalam aku membawa Cio menginap di rumahku. Kak Fara ada sidang pagi ini. Ma, tolong jaga Cio karena Mas Anwar mengajak aku ke dokter."
"Anwar sakit?" tanya Mama Cindy.
"Bukan, Ma. Kami akan konsultasi ke dokter kandungan untuk program hamil," jawab Daisy.
"Baguslah. Semoga kalian berhasil ya sayang." Mama Cindy merasa kasian pada anaknya.
"Daisy pamit, Ma." Daisy mencium pipi Mama Cindy lalu pergi.
"Da, Onty," seru Cio.
Setelah itu, Daisy masuk ke dalam mobil suaminya. "Ayo, Mas. Berangkat sekarang!" Anwar mengangguk.
__ADS_1
Mereka menuju ke sebuah rumah sakit yang lumayan besar di kota tempat mereka tinggal. "Kamu tunggu di sini ya sayang. Aku akan daftarkan dulu," kata Anwar.
Daisy menunggu di kursi yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Dia melihat seorang wanita yang hamil besar tengah duduk di sampingnya. "Anak ke berapa?" tanya Daisy basa-basi pada wanita hamil itu.
"Yang kedua," jawabnya.
"Kalau mbak sendiri sudah punya anak berapa?" Wanita itu bertanya balik pada Daisy. Daisy menggeleng.
"Belum punya," jawabnya dengan senyum yang dipaksakan.
"Saya doakan mbak cepat dapat momongan ya."
"Daisy," panggil Anwar.
"Saya permisi," pamit Daisy pada wanita tersebut.
"Kamu kenal sama dia?" tanya Anwar.
"Tidak, aku hanya mengajak dia mengobrol saja," jawab Daisy sambil tersenyum.
Kemudian Daisy menunggu antrian di bagian poly kandungan. Usai menunggu selama tiga puluh menit, kini giliran Daisy dipanggil ke dalam.
"Jadi kami ke sini ingin konsultasi, Dok. Sudah empat tahun kami menikah tapi belum memiliki keturunan," kata Anwar memberi tahu dokter wanita yang mengenakan hijab itu.
"Baik, kita periksa dulu ya kondisi rahim istrinya, Pak."
Daisy melalui serangkaian pemeriksaan. "Di rahim ibu terdapat miom sehingga ibu kesulitan hamil. Ukurannya lumayan besar jadi nanti kita jadwalkan operasi saja, bagaimana?" tanya Dokter itu meminta persetujuan.
"Apa berbahaya, Dok?" tanya Daisy. Mendengar kata operasi dia jadi bergidik ngeri.
"Jika miom tidak diangkat maka akan beresiko pada kesehatan anda. Selain itu, bukankah anda ingin hami? Kita obati miomnya dulu baru ibu bisa program hamil." Dokter itu memberikan saran pada Daisy dan suaminya.
"Ikuti saja apa kata dokter, sayang." Anwar menggenggam tangan Daisy yang begitu dingin.
Usai memeriksakan kandungan sepasang suami istri itu kembali ke rumah. "Maaf rupanya selama ini aku yang bermasalah." Daisy terlihat sendu.
"Jangan menyalahkan diri sendiri. Yang penting sekarang kita sudah tahu penyebabnya. Coba saja kalau kita tahu dari dulu, pasti kita sudah punya anak."
Tanpa sadar ucapan Anwar menyinggung perasaan Daisy. Daisy merasa kalau Anwar sedang menyalahkan dia.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka diam-diam Mas Anwar melimpahkan kesalahan padaku," gumam Daisy dalam hati.