
Tok tok tok
Mendengar pintu rumahnya diketuk Miranda pun membukakan pintu untuk tamunya. Namun, dia tidak menyangka kalau tamunya adalah para polisi.
"Selamat malam," sapa salah satu polisi tersebut pada Miranda.
"Malam, Pak. Ada apa ini rame-rame?" tanya Miranda bingung.
"Anda kami tangkap atas tuduhan usaha pembunuhan," jawab polisi tersebut sambil menunjukkan surat penangkapan untuk Miranda.
Miranda melotot tak percaya. "Ini semua fitnah. Saya tidak mungkin membunuh orang. Siapa yang anda maksud?" tanya Miranda bingung.
"Anda telah berusaha membunuh nyonya Fara istri dari Pak Cello." Tak mau memperpanjang waktu akhirnya polisi tersebut menyeret Miranda secara paksa.
"Ma, mama, jangan bawa mama saya," teriak Riska histeris. Dia sangat syok ibunya ditangkap oleh polisi.
Sementara itu di tempat lain, Cello setia menemani Fara di rumah sakit. Dia masih menunggu Fara sadar. Tak lama kemudian dokter yang memeriksa Fara memasuki ruang rawat istrinya.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Kenapa sampai saat ini dia tidak sadar juga?" tanya Cello cemas.
"Setelah kami observasi ternyata istri anda mengalami kondisi koma, kami akan memasang beberapa alat untuk mendukung perawatannya," kata dokter itu.
Cello ingin berteriak rasanya. Istrinya yang selalu ceria dan berisik kini tak bisa bersuara bahkan tak dapat bergerak sama sekali.
Setelah dokter itu pergi Cello meninju tembok hingga tangannya terluka. Di saat yang bersamaan Anwar datang untuk melapor pada atasannya. "Pak, tangan anda terluka," ucap Anwar ketika melihat tangan Cello berdarah.
"Biarkan Anwar." Cello menepis tangan Anwar yang ingin melihat kondisi tangannya.
"Bagaimana dengan tugas yang diperintahkan padamu?" tanya Cello.
"Beres, Pak. Nyonya Miranda telah ditangkap. Pengacara kita akan mengurus semuanya," lapor Anwar.
"Bagus. Berikan dia hukuman yang seberat-beratnya. Dia telah membuat istriku koma," ungkap Cello. Anwar sangat terkejut mendengar kondisi Fara saat ini. Tapi dia bahagia karena dia bisa melihat Cello begitu peduli pada Fara. Dia bisa menebak kalau Cello mulai mencintai istrinya.
__ADS_1
"Apa anda ingin saya membawakan sesuatu?" tanya Anwar.
"Bawakan baju gantiku. Aku akan menemani dia sampai dia sadar."
"Tidak, Pak. Perusahaan membutuhkan anda. Anda bisa kembali setelah bekerja. Kita akan dalam masalah jika anda tidak menghandle secara langsung," bujuk Anwar.
"Aku percaya padamu Anwar. Kamu bisa mengurus perusahaan. Tolong gantikan aku untuk sementara waktu," rengek Cello.
"Sampai kapan anda akan menunggu? Bahkan anda tidak tahu kapan istri anda akan sadar atau dia tidak akan sadar selamanya."
Bug
Cello menonjok muka Anwar. Dia tidak terima ketika Anwar mendoakan istrinya meninggal. "Jaga ucapanmu! Kamu sudah sangat keterlaluan."
Anwar mengusap ujung bibirnya yang berdarah kemudian dia bangkit. "Apa anda sudah mulai peduli dengan gadis itu?" tunjuk Anwar ke ruangan Fara.
"Yang kamu sebut itu adalah istriku Anwar," bentak Cello.
Anwar sengaja berkata demikian untuk mengetahui seberapa besar cinta Cello pada Fara. Cello menarik kerah kemeja Anwar. "Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan Fara. Bawakan aku surat perjanjian itu," perintah Cello pada bawahannya.
"Apa? Surat perjanjian?" Suara mama Cindy membuat Anwar dan Cello menoleh. Cello melepas cengkeraman tangannya secara perlahan.
"Mama," panggil Cello lirih.
Mama Cindy melebarkan langkahnya. "Katakan pada mama! Surat perjanjian apa yang kamu maksud?" tanya Mama Cindy pada putranya.
"Perjanjian pra nikah, Ma," jawab Cello sambil menunduk.
Plak
Mama Cindy menampar pipi Cello kala itu. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan anaknya. Dada mama Cindy naik turun karena menahan amarahnya. Cello menerima hukuman dari ibunya. "Ma, tolong dengarkan aku dulu!"
"Apa?"
__ADS_1
Cello membujuk ibunya untuk duduk agar mereka bisa bicara berdua. Lalu dia memberi kode pada Anwar agar menjauh. Anwar mengangguk patuh.
"Mama tidak habis pikir bagaimana bisa kamu melakukan perjanjian pra nikah?" tanya Mama Cindy.
"Itu semua aku lakukan agar aku bisa terbebas dari rumor gay yang mama sebarkan," jawab Cello menyerang balik ibunya. Mama Cindy terkejut mendengarnya.
"Apa maksud kamu?" tanya Mama Cindy pura-pura.
"Aku sudah menyuruh orang untuk menyelediki siapa dalang di balik gemparnya dunia karena fitnah yang ditujukan padaku, Ma. Orang itu adalah mama bukan?"
Mama Cindy menarik ujung bibirnya. "Kamu tahu kenapa mama buat rumor itu?" tanya Mama Cindy balik. Cello menggelengkan kepalanya.
"Agar kamu mau menikah dengan seorang wanita. Mama malu punya anak yang mau menginjak kepala tiga tapi tidak juga punya gandengan. Mama tahu kamu patah hati setelah putus dengan Mitta. Jadi mama memikirkan ide gila itu agar kamu bisa mengatasinya. See, kamu akhirnya menikah. Tapi mama sungguh kecewa ketika kamu menikah hanya pura-pura."
"Cello tidak pura-pura, Ma. Awalnya Cello membuat suara perjanjian menikah selama seratus hari lalu kami sepakat akan bercerai dengan imbalan sepuluh miliar yang Cello bayarkan pada rentenir yang berusaha memeras Fara," terang Cello panjang lebar.
"Jadi hutangnya sebanyak itu?" tanya Mama Cindy tidak mengerti.
"Dia dan keluarganya hanya berhutang seratus juta tapi mereka meminta bunga pada Fara."
Mama Cindy jadi geram. "Apa sebanyak itu bunganya? Itu namanya pemerasan."
"Mama tidak usah khawatir aku telah menyerahkan mereka ke polisi dan mengambil uangku kembali. Dan uang itu aku masukkan ke rekening bank yang aku buat atas nama Fara, Ma. Sebagai mahar yang aku berikan padanya."
"Kalau boleh tahu untuk apa Fara dan keluarganya berhutang uang seratus juta?" tanya Mama Cindy penasaran.
"Untuk membayar biaya perawatan ayahnya di rumah sakit, Ma. Tapi dia bilang tidak sebanyak itu. Hanya saja ibu dan saudara tirinya suka berfoya-foya sehingga Fara harus banting tulang seorang diri untuk membayar hutang pada rentenir itu. Asal mama tahu aku bertemu dia saat aku menyelamatkannya dari para orang suruhan rentenir itu. Entah kenapa aku ingin melindungi gadis yang pertama kali aku temui saat itu."
Cello memutar kembali ingatannya. Dia tersenyum walau sebenarnya hatinya sakit memikirkan kondisi istrinya yang sedang koma.
Mama Cindy menatap nanar putranya. "Tidak bisakah kamu merobek surat perjanjian itu dan memperpanjang jangka waktunya hingga seumur hidup? Mama sangat menyayangi Fara," ucap Mama Cindy setengah memohon.
Apa jawaban Cello pada ibunya?
__ADS_1