MAHAR 10 MILIAR

MAHAR 10 MILIAR
Bab 56


__ADS_3

Tin tin


Suara klakson membuyarkan lamunan Fara. Saat itu Fara menunggu suaminya datang menjemput. Gita sudah pulang duluan karena ada urusan mendesak. Fara segera menoleh ke sumber suara. Ketika dia melihat mobil suaminya, Fara langsung berlari ke arah sana. Naas, kaki Fara tersandung karena kurang hati-hati.


"Ah, perutku." Fara meremat bagian perutnya yang sakit. Mama Cindy dan Cello yang melihat Fara terjatuh langsung panik. Cello bergegas turun kemudian menggendong Fara ke dalam mobil. Mama Cindy membantu membuka pintu mobil bagian belakang.


"Lain kali hati-hati sayang," ucap Mama Cindy. Dia tak tega melihat Fara kesakitan.


"Tahan ya sayang!" pinta Cello. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Tak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah sakit. Setelah tiba di depan ruang UGD. Cello membawa Fara keluar. "Tolong! Tolong istri saya. Fia terjatuh kondisinya sedang hamil."


Fara terkejut mendengar ucapan suaminya. Hamil? Dari mana Cello tahu padahal Fara sendiri tidak menyadari itu.


"Ah..." Fara menangis kesakitan. Fia dibawa oleh para perawat untuk mendapatkan pertolongan.


Cello meremat jari-jari tangannya. Dia begitu khawatir melihat keadaan sang istri. "Ma, Fara dan bayinya akan selamat bukan?"


"Abang tenang ya! Kita doa sama-sama." Mama Cindy berusaha tenang agar bisa tidak membuat Cello semakin panik.


Setengah jam kemudian dokter yang menangani Fara keluar. "Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Cello. Dia ingin segera menemui istri dan calon anaknya.


"Untungnya kandungannya tidak apa-apa. Saya akan kasih obat penguat kandungan. Di trimester awal memang janin rentan sekali keguguran," terang dokter yang merupakan dokter spesialis kandungan itu.


"Alhamdulillah, Ma." Cello tersenyum haru. Dia bersyukur anak dan calon bayinya selamat.


Tak lama kemudian Fara dipindahkan ke ruang rawat pasien. Cello dan ibunya masuk menemui wanita yang tengah hamil itu. "Maafkan aku, Mas. Aku kurang hati-hati. Hampir saja aku mencelakakan..."

__ADS_1


Cello memeluk istrinya erat. "Aku bersyukur kamu dan anak kita selamat," ucapnya dengan lembut.


Sesaat kemudian Cello mengurai pelukannya. Dia mendaratkan sebuah kecupan di kening sang istri. "Terima kasih sudah mengandung buah cinta kita."


Fara tersenyum haru. Dia tak menyangka kalau dia bisa hamil padahal seingatnya dia masih mengkonsumsi pil KB. "Bagaimana Mas Cello bisa tahu kalau aku hamil?" tanya Fara penasaran.


"Aku hanya heran saat naf*su makanmu bertambah. Lalu aku tanya mama. Rencananya kita mau ajak kamu ke dokter kandungan hari ini. Namun, siapa sangka kamu malah terjatuh," jawab Cello.


"Maaf aku terlambat menyadari kalau aku sedang hamil." Fara menitikkan air mata. Cello mengusap air mata istrinya dengan satu jari.


"Apa kamu tidak suka dengan kehamilan ini?" Cello mengusap perut istrinya yang masih rata.


Fara menggelengkan kepalanya. "Sebenarnya selama ini aku mengkonsumsi pil kontrasepsi untuk mencegah kehamilan." Belum selesai Fara menjelaskan Cello lebih dulu menyela.


"Aku mengganti obat itu dengan obat penyubur kandungan."


Cello memeluk istrinya agar lebih tenang. "Sayang kenapa kamu menunda kehamilan?" tanya Mama Cindy.


Fara mengusap air matanya dengan punggung tangan. "Aku ingin fokus belajar, Ma. Maaf mas aku berbohong padamu," ucap Fara sambil menunduk.


"Tidak apa-apa. Aku sudah memaafkan kamu." Cello mencolek hidung mancung istrinya.


"Yang penting sekarang kamu jaga kesehatan kamu sayang. Kalau kamu ada kesulitan belajar nanti biar mama cari tutor yang hebat buat ngajarin kamu," kata Mama Cindy memberikan solusi pada menantunya.


"Terima kasih, Ma. Ajari aku jika aku tidak mengerti dalam menjaga dia, Ma." Fara mengusap perutnya sendiri.


Tak lama kemudian Mama Cindy pamit pada anak dan menantunya. "Mama pulang dulu. Jaga istri dan anak kalian baik-baik," pesan Mama Cindy pada putra sulungnya.

__ADS_1


Cello mengangguk paham. "Tentu. Apa tidak sebaiknya mama aku antar?" Cello menawarkan tumpangan.


"Tidak, aku akan minta Daisy menjemputku," tolak Mama Cindy.


Daisy yang masih di kantor Cello kaget ketika handphonenya berbunyi. "Mas, aku angkat telepon dulu," kata Daisy pada Anwar yang kini tengah berada di atas tubuhnya.


Mereka hampir saja melakukan hubungan suami istri jika saja Daisy tak mendengar bunyi telepon. Ya, Anwar menggunakan kamar pribadi Cello yang ada di dalam ruangannya untuk bercinta dengan Daisy.


Hasrat keduanya yang selama ini ditahan akhirnya seperti bom yang meledak ketika salah satu memicunya. Daisy menutup tubuhnya yang polos dengan selimut sebelum mengangkat telepon. "Hallo, Ma."


"Daisy, jemput mama di rumah sakit sekarang," perintah Mama Cindy pada putrinya.


"Hah, siapa yang sakit?" tanya Daisy panik.


"Kakak iparmu. Dia jatuh ketika di kampus tadi. Sudah cepat jangan banyak bertanya. Mama tunggu sekarang!"


"Oke, Ma. Dua puluh menit lagi nyampe."


Setelah menutup teleponnya Daisy memakai pakaiannya kembali. "Maaf, aku harus menjemput mama," ucapnya tak enak pada Anwar yang sudah on. Tapi Anwar memaklumi.


Anwar memberi sebuah kecupan di bibir Daisy. "Mulai sekarang kamu milikku meskipun kita belum sampai melakukannya. Jangan pernah melirik laki-laki manapun," bisik Anwar di telinga Daisy.


Kalau saja mamanya tidak memanggil maka sudah dipastikan hari ini dia sudah tidak perawan lagi. "I love you," ucap Daisy setelah membalas kecupan Anwar. Anwar ingin rasanya melanjutkan aktivitas bercinta mereka tapi orang lain tentu akan curiga.


"Pergilah! Hati-hati di jalan," pesan Anwar pada wanita yang baru saja resmi menjadi kekasihnya.


Aw aw aw Mas Anwar diam-diam gigit ya dears.

__ADS_1


__ADS_2