MAHAR 10 MILIAR

MAHAR 10 MILIAR
Bab 65


__ADS_3

"Ah." Lisa meringis ketika merasakan perutnya sakit. Dia sedang berjalan sendirian usai belanja di mini market.


Di saat yang bersamaan, suaminya turun dari mobil. Dia memang mengikuti Lisa berharap dia bisa menangkap Lisa kali ini. Namun, ketika Ferdian ingin meraih tangan Lisa, wanita itu ambruk di depannya. Ferdian panik. Dia menepuk pipi istrinya itu tapi tidak ada respon.


Laki-laki yang masih kelihatan gagah di usianya itu menggendong Lisa dan memasukkannya ke dalam mobil. "Sebenarnya kamu kenapa?" gumam Ferdian.


Setelah itu dia mengendarai mobil menuju ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit Ferdian langsung memanggil perawat. "Pasien kenapa, Pak?" tanya salah seorang perawat.


"Saya tidak tahu, dia tiba-tiba pingsan," jawab Ferdian.


Setelah melalui serangkaian pemeriksaan maka diketahui jika Lisa mengalami sakit di bagian ginjalnya. Dokter yang menangani Lisa pun keluar. "Bagaimana dengan keadaannya?" tanya Ferdian cemas. Bagaimana pun Lisa sudah lama menjadi istrinya.


"Apa dia pernah mendonorkan ginjalnya pada orang lain?" Ferdian terkejut mendengar penuturan dokter itu. Kening laki-laki itu berkerut. Dia berpikir pada siapa istrinya mendonorkan ginjal.


Setelah Lisa dipindah ke ruang rawat pasien, Ferdian menyusul. Saat itu Lisa bingung kenapa tiba-tiba dia ada di rumah sakit. "Mas."


Lisa terkejut dengan kedatangan suaminya. Saking takutnya dia mencopot jarum infus yang tertancap di tangannya agar dia bisa lari. Namun, langkahnya terhenti ketika sang suami menghadang wanita itu.


"Biarkan aku pergi!" pinta Lisa dengan mata berkaca-kaca.


Ferdian mencengkeram dagu sang istri. "Katakan! Pada siapa kamu mendonorkan ginjalmu?" tanya Ferdian dengan tatapan membunuh.


Di saat yang bersamaan Mama Cindy tak sengaja melihat ke arah ruangan di mana Lisa dirawat. Pintu ruangan Lisa terbuka setengah karena Ferdian tak sempat menutup pintu.


Saat itu ibunda Cello itu akan pergi ke toilet. Mama Cindy sedang menemani menantunya periksa kandungan ke rumah sakit. Beberapa saat yang lalu Fara mengeluh jika dia mengalami flek.

__ADS_1


Cello tidak bisa menemani karena dia harus meeting penting yang sudah terjadwal seminggu yang lalu dengan klien penting.


Mama Cindy memastikan penglihatannya dengan menyipitkan mata. "Lisa," gumam Mama Cindy lirih. Dia pun berjalan dengan cepat untuk menolong Lisa.


"Apa yang kamu lakukan pada Lisa?" tanya Mama Cindy dengan suara lantang.


Ferdian melepas cengkeraman tangannya. Lisa terduduk lemas di lantai karena darah mengalir dari tangannya bekas jarum infus yang dia lepas paksa.


"Siapa kamu?" tanya Ferdian balik.


Mama Cindy tak menghiraukan laki-laki itu. Dia memanggil perawat untuk menolong Lisa. Setelah itu dua orang perawat masuk ke ruangan Lisa dan membopongnya naik ke atas ranjang.


Ferdian keluar untuk meredam amarahnya. Ketika dia berjalan, dia tak sengaja menabrak bahu Fara. Gadis itu mencari keberadaan mama mertuanya yang tiba-tiba menghilang. "Maaf," ucap Ferdian tanpa melihat ke arah orang yang ditabrak. Sementara Fara hanya diam.


"Owh, kamu tunggu di lobi sebentar mama akan menyusul ke sana," perintah Mama Cindy pun dipatuhi oleh Fara.


"Lisa, aku harus mengantarkan menantuku pulang. Kamu baik-baik di sini. Aku akan datang ke sini lagi bersama Mas Devon," pesan Mama Cindy pada wanita itu. Lisa mengangguk lemah.


Awalnya dia tidak mempercayai ucapan Lisa tentang suaminya. Namun, ketika dia melihat suami Lisa hampir saja membunuhnya Mama Cindy malah menaruh iba pada wanita itu.


Kemudian Mama Cindy menghampiri Fara yang sedang duduk di lobi sendirian. "Maafkan mama sayang. Mama tak sengaja bertemu teman mama yang sedang dirawat di rumah sakit ini," terang Mama Cindy.


Fara tersenyum. "Tidak apa-apa, Ma. Nanti aku mau ke rumah mama dulu. Biar Mas Cello jemput aku sepulang kerja." Mama Cindy mengangguk setuju.


"Bagaimana dengan kandungan kamu?" tanya Mama Cindy sambil berjalan menuju ke parkiran.

__ADS_1


"Dia baik-baik saja. Dokter sudah memberi obat penguat, Ma," jawab Fara.


"Alhamdulillah. Mama sempat khawatir sayang. Semoga cucu oma ini kuat ya, nak." Mama Cindy mengelus perut Fara.


"Mau mampir beli sesuatu?" tanya Mama Cindy.


"Tidak, Ma. Aku ingin istirahat saja di rumah," tolak Fara. Akhir-akhir ini dia mungkin kelelahan karena banyaknya aktivitas di kampus.


"Kamu harus kurangi kegiatan kamu, sayang. Jaga kehamilan kamu ini," pesan Mama Cindy.


"Iya, Ma. Aku mungkin kelelahan karena bolak-balik kampus," ungkap Fara.


Sesampainya di rumah, Mama Cindy dan Fara berpapasan dengan Daisy. Dia membawa koper besar. "Daisy, kamu mau ke mana?" tanya Mama Cindy.


"Aku harus ke luar kota, Ma. Papa menugaskan aku untuk menangani hotel papa yang di sana karena ada masalah," jawab Daisy.


"Kok mendadak sekali?" tanya Fara.


"Iya, kami baru mendapatkan kabar dari orang-orang yang mengurus hotel di sana pagi ini," jawab Daisy.


Setelah berpamitan pada ibu dan kakak iparnya, Daisy pergi ke bandara dengan menaiki taksi. Saat dia sampai di sana, Daisy melihat Anwar melambaikan tangan ke arahnya. "Lho Mas Anwar ngapain ikut ke sini?" tanya Daisy bingung.


"Abangmu menugaskan aku untuk mewakili dia mengurus hotel yang ada di luar kota bersamamu. Dia tidak bisa ikut karena dia bilang Fara sedang mengalami masalah dengan kandungannya," terang Anwar panjang lebar.


Daisy mengulas senyum. Ini adalah kesempatan untuk berduaan dengan kekasihnya. Daisy melihat jam tangan yang ada di pergelangan tangannya. "Ayo kita berangkat sekarang!" ajak Daisy seraya menarik tangan Anwar. Anwar pun menarik ujung bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2