MAHAR 10 MILIAR

MAHAR 10 MILIAR
Bab 96


__ADS_3

Rena sengaja masuk ke komplek perumahan Daisy untuk berpura-pura bertanya alamat palsu. Rena menyelediki tempat tinggal Daisy dan Anwar. Mereka belum lama pindah ke komplek perumahan elit yang sengaja dibeli oleh Anwar untuk menunjukkan pada orang tua Daisy kalau dia benar-benar layak untuk menjadi menantu di keluarga Devon.


Rena berencana untuk menyebar gosip di kalangan ibu-ibu komplek elit tersebut.


Rena turun dari mobil dan sengaja mencari mangsa. Kebetulan ada seorang wanita yang akan menaiki mobil. "Bu, permisi saya mau tanya alamat ini?" tanya Rena.


"Owh, rumahnya Mbak Daisy?" tanya wanita itu.


"Saya bukan cari Daisy, tapi cari suaminya," jawab Rena dengan wajah yang dipasang sendu.


"Lho kamu siapanya Mas Anwar?" tanya wanita itu penasaran hingga dia tidak jadi naik ke mobilnya.


"Ada masalah apa kalau saya boleh tahu?" Rena tersenyum tipis. Wanita itu masuk dalam perangkapnya.


"Mas Anwar sudah membuat saudara saya depresi, Bu. Saya mau minta dia menjenguk saudara saya. Dulu Mas Anwar berjanji akan menikahi dia tapi pada akhirnya dia mengingkari janji itu."


Rena berpura-pura meneteskan air mata. Ibu-ibu itu terkejut dengan penuturan Rena. Setahu dia Daisy dan suaminya memang jarang bersosialisasi karena keduanya orang sibuk. Tapi dia tidak menyangka kalau ada masalah serius yang mereka tutupi, pikir wanita itu.


"Kejadiannya sudah lama berarti? Mbak Daisy kan lagi hamil sekarang?" tanya ibu itu lagi.


Rena menggeleng. "Justru saat Daisy dikira tidak punya anak, Mas Anwar berselingkuh dengan saudara saya. Saya tahu kelakuan mereka itu tidak dibenarkan. Saya hanya meminta dia menjenguk saudara saya walau sekali. Setidaknya meyakinkan kalau hidupnya masih panjang. Saya kasian sama dia." Rena kembali pura-pura terisak.

__ADS_1


"Wah rumit juga ya masalahnya. Coba aja datang ke sana, Mbak. Tapi biasanya Mas Anwar belum pulang. Rumahnya nggak jauh dari sini," kata ibu itu memberi tahu.


"Terima kasih banyak, Bu." Rena kembali memasuki mobilnya. Tapi dia tidak benar-benar masuk ke rumah Daisy. Dia hanya melihat keadaan rumah itu sekilas.


Sesaat kemudian mobil Anwar memasuki gerbang rumahnya. Anwar pulang lebih cepat hari ini karena mereka akan ke rumah sakit untuk mengantar Fara yang akan persiapan operasi sesar.


Anwar menatap asing pada mobil merah yang berhenti sekilas di depan rumahnya lalu pergi. Tapi dia tidak menaruh curiga.


"Sayang, apa kamu sudah siap?" tanya Anwar.


"Sudah, Mas. Aku jadi deg-degan," kata Daisy.


"Aku bayangin aja sakitnya dibelah gitu. Aku sempat menonton di media sosial kalau prosesnya itu sangat menyakitkan," ungkap Daisy.


"Kurangi menonton hal-hal seperti itu. Walau aku tidak tahu bagaimana rasanya melahirkan. Tapi kamu jangan khawatir karena aku akan selalu menemani kamu dalam situasi apapun."


Daisy merasa terharu mendengar ucapan manis suaminya. "Yuk, berangkat sekarang!" ajak Daisy. Anwar pun membukakan pintu mobil untuk istri tercintanya.


Mereka menuju ke rumah sakit di mana Fara akan menjalani operasi. Di sana sudah ada Mama Cindy dan Papa Devon. Mama Cindy sama khawatirnya dengan Daisy. Dia meras ngilu ketika membayangkan menantu kesayangannya akan dioperasi.


"Tangan mama dingin banget?" tegur Devon saat sengaja meraih tangan istrinya yang sejak tadi diremat.

__ADS_1


"Aku deg-degan, Pa. Rasanya ngilu membayangkan perut Fara yang akan dibelah," jawabnya. Devon malah terkekeh.


"Kamu tenang saja, Ma. Dokter yang menangani operasi Fara adalah dokter terbaik di rumah sakit ini," ucap Devon untuk menenangkan istrinya. Mama Cindy percaya pada sang suami.


Tak lama kemudian Daisy dan Anwar tiba di rumah sakit. "Ma, apa Kak Fara sudah masuk ke ruang operasi?" tanya Daisy.


"Sudah tiga puluh menit yang lalu," jawab Mama Cindy.


"Kita doakan keselamatan untuk Kak Fara dan bayinya ya Ma," kata Daisy sambil memeluk ibunya.


Satu jam kemudian dokter yang melakukan operasi keluar. "Bagaimana, Dok?" tanya Devon mendahului.


"Operasinya lancar. Bayinya laki-laki lahir dengan sehat."


"Ye...adik Cio sudah lahir," seru Cio antusias.


"Terima kasih banyak, Dok." Dokter itu menangguk lalu melenggang pergi.


Mereka masih menunggu Fara dipindahkan ke ruang perawatan. Sementara itu di ruang operasi Cello yang menemani Fara diminta untuk mengumandangkan adzan setelah bayinya dibersihkan.


"Terima kasih sayang kamu telah memberi anak-anak yang lucu padaku." Cello mencium kening istrinya yang masih lemah.

__ADS_1


__ADS_2