
Mendengar kegaduhan yang terjadi di luar, Miranda segera kabur. Dia tak sempat membawa Cio. Tapi dia membawa sejumlah uang yang dia ambil dari lemari Riska.
Di luar rumah, Fara dan Cello menerobos masuk setelah berdebat dengan Riska. Tapi gadis itu tiba-tiba pingsan. Fara tak mempedulikannya. Wargalah yang menolong Riska kemudian mereka membawa Riska ke rumah sakit. Fara dan Cello mencari keberadaan anaknya. Cio ditemukan dalam keadaan pingsan dan dengan tangan terikat di bagian ujung tempat tidur.
Farah berteriak histeris ketika mendapati anaknya tak sadarkan diri. Cello segera melepas ikatan anaknya. Cara menepuk pipi Cio tapi dia tidak mau bangun juga. "Mas bagaimana ini?"
"Kita bawa ke rumah sakit sekarang sebelum terlambat." Cello mengambil alih gendongan Cio dari tangan istrinya. Dia berlari secepat mungkin menerobos kerumunan orang-orang yang bergerombol di rumah Riska.
"Beri jalan!" Teriak Cello agar orang-orang itu memberinya ruang.
Cello dan Fara masuk ke dalam mobil. Cello mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Untung saja saat itu tidak mengalami kemacetan sehingga mereka bisa sampai ke rumah sakit dengan tepat waktu. "Tolong anak saya!" perintah Fara pada salah seorang perawat yang dia temui.
Ketika Cio dibawa masuk ke dalam ruang UGD Fara menangis sesenggukan. Cello kemudian merangkul bahu istrinya agar lebih tenang. "Kita berdoa untuk keselamatan Cio, Sayang." Fara mengangguk lemah.
Tak lama kemudian dokter yang menangani Cio keluar dari ruang UGD. "Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya Cello.
"Badannya sangat lemas dia kekurangan gizi dan dehidrasi sebaiknya dirawat beberapa hari di rumah sakit," jawab Dokter wanita itu.
"Baik lakukan yang terbaik untuk anak saya," kata Cello.
Tak lama kemudian Cio dipindahkan ke ruang perawatan pasien. Fara dan Cello mengikuti anaknya ke sana. Sarah tidak tega melihat keadaan Cio yang terbaring lemah. Lagi-lagi dia menangis sambil menggenggam sebelah tangan Cio.
Cello membiarkan istrinya bersama sang anak. Dia keluar sebentar untuk menghubungi ayahnya, Devon. "Pa kami sudah menemukan Cio. Hanya saja sepertinya Miranda yang kami duga sebagai pelaku penculikan Cio kabur. Tolong serahkan anak buah Papa untuk menangkap wanita lak*nat tersebut."
"Kamu tenang saja biar Papa yang urus," jawab Devon melalui sambungan telepon.
Setelah itu Cello membeli minuman untuk istrinya di kantin rumah sakit. Saat dia kembali Cio sudah mulai sadar. Cello mendekat ke arah anaknya. "Syukurlah kamu sudah sadar sayang papa dan mama sangat khawatir dengan keadaan kamu."
"Cio mengangguk lemah dan menangis mengingat kejadian buruk yang menimpanya." Farah segera membawa Cio ke dalam pelukannya. Dia tidak mau sampai Cio mengalami traumatis.
__ADS_1
Sesaat kemudian Mama Cindy dan Daisy datang ke rumah sakit. Anwar juga ikut masuk setelah kedua wanita itu. "Bagaimana keadaan cucuku?" tanya Mama Cindy pada anak dan menantunya.
"Sepertinya Cio mengalami trauma," jawab Cello. Mama Cindy jadi tidak tega melihat Cio yang sejak tadi memeluk ibunya.
"Semoga saja ini tidak berlangsung lama," imbuh Mama Cindy.
"Bagaimana dengan kamu Anwar apakah kamu sudah siap bekerja kembali? Terus terang tenagamu lebih aku butuhkan," tanya Cello pada adik iparnya itu.
"Bukankah kamu sudah punya Bella?" Ledek Anwar. Fara yang mendengar ucapan Anwar menatap tajam suaminya.
"Aku lebih nyaman jika bekerja denganmu," jawab Cello takut-takut.
"Baiklah besok aku akan kembali," jawab Anwar.
Di tempat lain Miranda sedang bersembunyi dan melarikan diri ketika orang-orang sedang mengejarnya. "Sial ini tidak sesuai perkiraanku," gumam Miranda di balik pohon sambil mengintai keadaan sekitar.
"Siapa kalian?" Tanya Miranda pada beberapa orang laki-laki berjasa hitam dan kacamata yang senada. Mereka tidak menjawab dua orang diantara para bodyguard itu menangkap tangan Miranda kemudian membawa dia masuk ke dalam mobil.
"Lepaskan lepaskan aku!" Miranda berusaha memberontak tapi kekuatannya tidak sebanding dengan para laki-laki berpakaian serba hitam itu. Agar Miranda diam mereka mengikat tangan Miranda ke belakang punggung dan menempelkan solasi di bagian mulutnya.
Setelah menempuh 30 menit perjalanan mereka tiba di rumah yang tidak asing. Salah satu dari laki-laki yang mendampingi Miranda membuka mobil kemudian menggiringnya masuk ke dalam rumah. "Selamat datang Miranda," sapa Devon dengan nada yang terkesan dingin.
Miranda sampai bergidik nyari melihat aura Devon yang begitu menakutkan. "Kamu tahu kenapa saya menyuruh anak buah saya membawa kamu ke sini?" tanya Devon. Miranda menggelengkan kepala di apura-pura tidak tahu.
Devon tersenyum smirk. "Jangan berbohong! Bukankah kamu yang telah menculik cucuku?" tuduh Devon. Miranda hanya bisa berteriak dalam keadaan mulut terkunci dan menggelengkan kepala untuk menyangkal tuduhan Devon.
"Buka mulutnya agar dia bisa mengaku!" perintah Devon pada anak buahnya.
"Aw..." Miranda berteriak ketika mereka melepas plester yang menempel di mulutnya dengan kasar.
__ADS_1
"Akuilah Miranda bukankah kamu yang telah menculik Cio?" tanya Devon sekali lagi. Bukannya menjawab Miranda malah tertawa renyah.
"Ya aku yang menculiknya. Aku yang telah membawa anak Fara pergi." Akhirnya Miranda mengakui kesalahannya. Tanpa dia sadari Devon merekam ucapan Miranda dengan kamera tersembunyi.
"Apa kamu tidak sadar kalau perbuatan kamu itu termasuk perbuatan kriminal?"
"Aku tidak peduli aku hanya ingin membalaskan dendamku pada Fara. Gara-gara anak sialan itu aku masuk penjara. Semua harta yang ditinggalkan suamiku tidak satu persen pun jatuh ke tanganku. Aku mau Fara kehilangan semuanya."
Miranda mengatakan itu dengan sadar. Devon sampai geleng-geleng kepala melihat sikap wanita yang pernah sekali masuk ke dalam bui.
"Berarti kamu siap untuk hidup selamanya di dalam penjara. Bukankah kamu sudah menetap beberapa tahun di sana? Apa kamu masih merindukan tempat itu sehingga kamu mengulangi perbuatan burukmu?" Ledek Devon.
Setelah itu Devon memberikan kode pada anak buahnya untuk menyerahkan Miranda ke kantor polisi beserta bukti yang bisa memberatkan hukuman Miranda.
"Lepaskan aku tua bangka!" Devan tak menggubris teriakan wanita itu.
Setelah mengurus biang kerok yang menyebabkan Cio hilang selama beberapa hari, Devon menyusul keluarganya ke rumah sakit. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan cucunya.
"Cio," panggil Devon ketika dia tengah berada di ruang rawat Cio.
"Opa." Cio merentangkan tangan agar Devon segera memeluknya.
"Opa kangen sekali sama kamu."
"Aku juga opa," jawab Arcio sambil menangis.
Hari ini semua orang berkumpul di rumah sakit. "Oma akan mengadakan pesta penyambutan untuk Cio jika kamu sudah pulang dari rumah sakit nanti."
"Apa betul Oma?" tanya Cio antusias. Mama Cindy mengangguk.
__ADS_1