
Keesokan harinya, Devon dan Cindy datang ke rumah sakit untuk menemui Lisa. Namun, ketika mereka sampai di sana, ruangan itu kosong. "Ma, apa benar Lisa dirawat di sini?" tanya Devon.
"Betul, Pa," jawan Mama Cindy.
"Lalu ke mana dia?" tanya Devon panik.
Sebelumnya, Devon telah menceritakan pada istrinya kalau dia menolong Lisa karena ingin balas budi. Mama Cindy pun tak menyangka kalau wanita itu telah mendonorkan sebelah ginjalnya pada sang suami.
Kemudian Mama Cindy mengatakan pada suaminya tentang kejadian yang dia lihat ketika menemani Fara periksa kandungan di rumah sakit.
"Kita tanya perawat , Ma."
Kemudian Devon menemui perawat. "Pasien atas nama Ibu Lisa di mana, Sus?" tanya Devon
"Ibu Lisa sudah dibawa keluarganya pagi ini," jawab perawat tersebut. Devon dan Cindy saling menatap.
"Apa kita hubungi saja nomor teleponnya?" tanya Mama Cindy meminta pendapat.
"Tidak, kalau Lisa tidak meminta tolong pada kita, kita tidak bisa mencampuri urusan rumah tangga mereka," kata Devon dengan bijak. Setelah itu keduanya pun pulang.
Sementara itu, Lisa dibawa suaminya kembali ke rumah. "Katakan! Pada siapa kamu mendonorkan ginjalmu yang sebelah?" tanya Ferdian.
"Mas tidak perlu tahu. Walau aku hidup dengan satu ginjal, tapi aku masih bisa bertahan. Setidaknya ini kebaikan yang bisa aku lakukan untuk orang lain," kata Lisa seraya mengingat kembali perbuatannya dulu yang hampir merusak rumah tangga Devon dan Cindy.
Plak
Sebuah tamparan mendarat di pipi Lisa. "Aku sudah pasrah hidup denganmu, Mas. Aku pernah melakukan fitnah pada orang lain, mungkin ini balasanku di masa lalu."
"Dasar wanita tidak tahu diuntung!" umpat Ferdian.
"Memang apa keuntunganmu menyiksaku?" tanya Lisa. Ferdian hendak keluar dari kamar Lisa.
"Jika kamu sudah puas menyiksaku, maka lepaskan aku!" pinta Lisa. Ferdian menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Aku akan mengabulkan permintaan kamu," ucap Ferdian dengan ekspresi wajah datar. Setelah itu dia membanting pintu.
Ada perasaan lega tapi sebenernya Lisa takut kehilangan. Dia berpikir akan kesepian setelah bercerai dengan suaminya nanti. "Tidak apa-apa. Aku akan mencari panti asuhan yang mau menampungku. Aku ingin mengabdikan hidupku untuk anak-anak yang kurang beruntung," gumam Lisa.
Setelah beberapa hari, Ferdian benar mengabulkan permintaan Lisa. Dia memberikan surat cerai resmi pada Lisa. "Mulai sekarang kamu bukan lagi istriku. Pergilah dari sini!" usir Ferdian.
Lisa menerima surat cerainya. "Terima kasih banyak, Mas. Aku akan pergi walau tanpa membawa sepeserpun harta darimu," kata Lisa dengan perasaan kecewa. Bukan kecewa karena tidak mendapatkan harta. Dia kecewa karena suaminya tidak mempertahankan dia. Sang suami malah mempercayai omong kosong anak-anaknya yang telah memfitnah Lisa.
Lisa memberikan kabar pada Devon. Kemudian mereka bertemu di suatu tempat. "Syukurlah kamu tidak apa-apa," kata Devon ketika pertama kali bertemu Lisa setelah tak mendapatkan kabar selama beberapa hari.
"Aku sudah bercerai dengan mantan suamiku," kata Lisa memberi tahu.
"Benarkah? Itu berita bagus? Apa kamu mendapatkan hak kamu?" tanya Devon. Lisa menggeleng.
"Sudahlah, aku tidak butuh hartanya. Setelah ini aku akan mencari panti asuhan yang mau mempekerjakan aku," ujar wanita itu.
"Itu pekerjaan yang mulia. Semoga kamu bisa hidup lebih baik," kata Devon menimpali.
Lisa tersenyum. "Terima kasih banyak, Mas. Kamu laki-laki yang baik. Maaf telah membuat keluargamu salah paham."
Di tempat lain, Cello sedang menemani istrinya di rumah sang mama. Hari ini week end Cello tidak berangkat ke kantor. Fara merasa bosan di rumah, jadi dia ingin tinggal di rumah mertuanya.
"Sayang, aaa..." Cello menyuapi apel yang telah dia kupas ke mulut sang istri.
"Udah, Mas. Aku kenyang," tolak Fara.
"Kamu harus makan yang banyak," kata Cello pada sang istri. Fara menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Yang, anak kita cewek apa cowok ya?" tanya Cello. Dia menempelkan telinganya ke perut Fara.
"Mas, geli ah."
"Aku pengen dengar dia lagi apa?"
__ADS_1
Mama Cindy yang melihat tingkah Cello menggelengkan kepalanya. "Laki-laki atau perempuan sama saja, asal cucu mama lahir dengan selamat," sahut Mama Cindy.
"Fara kamu masih punya stok susu ibu hamil apa nggak? Mama mau belanja ke mall."
"Fara ikut, Ma," rengek wanita yang sedang hamil itu.
"Nggak boleh, kamu harus bed rest kata dokter," kata Cello mengingatkan istrinya. Fara langsung cemberut.
"Iya, sayang. Nanti kandungan kamu kenapa-kenapa. Kamu di rumah saja ya. Mau pesan apa nanti mama beliin?"
Fara meluruhkan bahunya. "Aku bosan di rumah," ucapnya dengan lirih.
"Bagaimana kalau nonton drakor kesukaan kamu?" usul Cello.
"Udah aku tonton semua," jawab Fara dengan ketus.
"Kalau baca novel online?" usul Mama Cindy.
"Udah aku baca semua."
"Apa perlu aku panggil Gita ke sini?" Fara tersenyum ketika mendengar usulan suaminya. Dia mengangguk cepat.
"Iya, telepon Mas. Ajak dia ke sini. Aku pengen ngobrol sama dia," ucap Fara bersemangat. Mama Cindy menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah mama belanja bulanan kamu. Nanti mama bawakan banyak camilan buat kamu," kata Mama Cindy.
"Ma, perlu aku antar?" tanya Cello.
"Lantas Fara bagaimana?"
"Nanti kan ada Gita yang datang ke sini," jawab Cello.
"Ya sudah boleh juga." Mama Cindy bersedia diantar oleh Cello.
__ADS_1
"Sayang, Mas pergi dulu ya sama mama. Kamu baik-baik di rumah." Cello mencium kening sang istri.
"Iya, Mas. Hati-hati."