
"Laras."
Anwar masih setengah sadar ketika menyebut nama itu.
"Mas, ayo kita masuk dulu!" ajak Laras, tapi Anwar menepis tangan gadis itu dengan kasar.
"Kenapa kamu bawa aku ke sini?" tanya Anwar.
"Mas, jangan berteriak nanti tetangga yang lain akan terbangun. Apa mas mau kalau kita dinikahkan?" ancam Laras.
"Aku mengira kamu gadis baik-baik ternyata aku salah menilaimu." Anwar pergi meninggalkan Laras. Laki-laki itu menghentikan taksi. Anwar menuju ke rumahnya untuk berganti baju. Dia tidak mungkin datang ke rumah sakit dengan bau alkohol di tubuhnya. Sementara mobilnya yang masih tertinggal di depan bar, dia akan mengambilnya besok.
Di tempat lain Daisy tengah menunggu kedatangan Anwar. "Mana sih Mas Anwar? Katanya mau urus administrasi sebentar. Ini udah tengah malam kok belum balik juga," gerutu Daisy.
Dia mencoba menghubungi Anwar ke ponselnya. Sialnya ponsel itu dibawa oleh Laras karena tak sengaja jatuh di depan kosannya Laras.
"Hallo, Mas. Kamu ke mana saja? Aku takut tidur di sini sendirian."
"Hallo," jawab Laras.
Daisy terkejut ketika yang menjawab panggilannya itu adalah seorang wanita. "Bukankah ini handphone Mas Anwar?" tanya Daisy. Dia ingin memastikan kalau dia tidak salah sambung.
"Benar, Mbak. Mas Anwar ada sama saya. Mbak siapa ya?" tanya Laras balik. Dia berpura-pura tidak mengenal suara istri Anwar.
Daisy meneteskan air mata. Dia tak menyangka kalau Anwar berbuat curang di belakangnya. Daisy menutup telepon itu. Hatinya sakit ketika dia mengira suaminya berselingkuh.
"Tega kamu, Mas." Daisy menangis sendirian di kamar rawat inapnya.
Tidak sesuai dengan pemikiran Daisy, Anwar sedang tertidur lelap setelah dia mandi hingga pagi hari. Anwar terbangun ketika matahari mengenai wajahnya. Anwar melihat jam dinding ternyata jam itu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. "Gawat! Aku harus segera ke rumah sakit."
Anwar mengambil baju yang ada di lemari pakaiannya kemudian keluar rumah. "Aduh. Mobilku masih ketinggalan di bar," gumam Anwar merutuki kebodohannya.
Awar mencari keberadaan handphonenya tapi dia tidak menemukan handphone yang dia cari. "Aku taruh di mana handphoneku itu."
Merasa sudah sangat telat menjemput Daisy, Anwar mengurungkan niatnya mencari keberadaan handphonenya yang belum ketemu. Dia langsung menuju ke rumah sakit tempat istrinya dirawat dengan menaiki taksi.
__ADS_1
Akan tetapi ketika dia sampai di sana, Anwar tak menemukan Daisy. Lelaki itu pun bertanya apada perawat. "Istri saya ke mana ya, Sus?" tanya Anwar pada salah seorang perawat.
"Pasien atas nama Ibu Daisy sudah pulang pagi tadi. Dijemput oleh keluarganya."
"Apa? Keluarganya?" Anwar terkejut pasalnya Daisy yang meminta suaminya merahasiakan keadaannya. Namun, sekarang Daisy malah dijemput oleh keluarganya? Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Anwar.
Anwar pun mengambil mobilnya terlebih dulu sebelum dia menuju ke rumah mertuanya. Ketika Anwar sampai, dia mencari keberadaan handphonenya yang hilang. "Kok nggak ada sih?" tanya Anwar pada dirinya sendiri.
"Ya sudahlah aku akan beli handphone baru saja," gumam lelaki yang tak lain adalah suami Daisy tersebut.
Anwar langsung ke rumah mertuanya menjemput Daisy. Dia sengaja bolos dari pekerjaannya karena jika kerja pun dia sudah sangat terlambat.
"Mbok, di mana Daisy?" tanya Anwar pada asisten rumah tangga yang bekerja di rumah itu.
"Ada di dalam, Tuan."
"Untuk apa kamu menemui anak saya, Anwar?" Mama Cindy bertanya dengan nada bicara yang berbeda.
"Assalamualaikum, Ma. Aku mau jemput Daisy. Tadi aku ke rumah sakit tapi aku tidak menemukan dia di sana." Anwar ingin meraih tangan Mama Cindy untuk dicium tapi dia menepis tangan menantunya.
Anwar bingung harus menjawab apa pada ibu mertuanya itu. Jika dia jujur maka otomatis ibu mertuanya akan murka. Karena selama ini Anwar selalu menjaga imagenya sebagai menantu terhormat.
"Aku ketiduran di rumah sampai pagi, Ma."
"Bohong! Lalu mana handphonemu?" tanya Mama Cindy.
"Aku kehilangan handphoneku, Ma."
Daisy keluar sambil membawa handphone Anwar. "Apa kamu mencari ini?" Daisy mengangkat handphone milik suaminya tinggi-tinggi.
"Apa aku meninggalkannya di rumah sakit kemaren? Aku sangat ceroboh."
"Bukan, Mas. Laras memberikan handphone ini padaku tadi pagi." Jawaban Daisy sungguh tidak terduga. Anwar tak menyangka handphone itu bisa di tangan Laras.
"Sayang, aku bisa jelaskan!"
__ADS_1
"Apa? Semalam kamu sama dia 'kan?" tuduh Daisy. Matanya mulau berair.
"Tega kamu, Mas. Padahal aku sedang sakit tapi kamu malah main curang di belakangku."
"Bukan seperti itu, Daisy. Aku tidak berselingkuh dengan wanita itu."
"Kalau tidak kenapa foto-foto dia ada di handphonemu, Mas?" Anwar lebih terkejut lagi mendengar kalimat terakhir yang diucapkan istrinya.
"Pasti dia sudah menyabotase handphoneku."
Seberapa kerasnya usaha Anwar, Daisy dan Mama Cindy tetap tidak percaya. Anwar menjadi frustasi karena dia diusir oleh istri dan mertuanya. Anwar meninju tembok karena kesal.
"Laras keterlaluan! Aku akan beri pelajaran dia," gumam Anwar dengan mata yang berapi-api.
Ketika mobil Anwar keluar dari halaman rumah mertuanya, dia berpapasan dengan mobil Cello yang baru saja masuk. "Itu kan Mas Anwar," gumam Fara menunjuk mobil yang baru saja keluar.
"Kenapa dia hari ini tidak izin? Apa ada sesuatu yang terjadi antara dia dan Daisy?" Fara menggedikkan bahu ketika suaminya bertanya demikian.
"Semoga saja tidak terjadi apa-apa."
Kemudian Fara dan Cello turun. Mereka juga mengajak serta Cio. Namun, saat itu Cio sedang tertidur di gendongan papanya.
"Assalamualaikum, Ma," teriak Fara. Mama Cindy keluar untuk menyambut anak dan menantunya.
"Apa tadi Daisy di sini?" tanya Fara.
"Iya, Daisy dan suaminya sedang cekcok," ungkap Mama Cindy.
"Masalah apa, Ma?" tanya Cello penasaran. Pasalnya selama empat tahun ini mereka tidak pernah meributkan masalah besar.
"Anwar selingkuh," jawab Mama Cindy. Fara dan Cello terkejut. Selama ini mereka mengenal baik Anwar tapi tidak pernah sekalipun laki-laki itu mendekati wanita lain.
"Sayang, gendong Cio ke kamar. Aku ingin bicara sama mama," perintah Cello pada sang istri. Fara pun mengangguk patuh.
"Ma, ceritakan padaku!"
__ADS_1
Bagaimana reaksi Cello ketika mendengar cerita dari mamanya soal dugaan perselingkuhan Anwar dengan wanita bernama Laras?