
Fara menangkap tangan kanan Mitta tapi Mitta menampar pipi Fara dengan tangan kirinya. Fara pun terluka di sudut bibirnya. "Kamu pantas mendapat itu perempuan murahan."
Fara mengusap ujung bibirnya yang terluka. "Yang kamu kira cewek murahan ini nyatanya mendapatkan uang sepuluh miliar sebagai mahar," ucapnya memberi tahu Mitta.
Mitta tersenyum sinis. "Hanya uang untuk membayar hutangmu tapi dia tidak sepenuhnya menikahimu," cibir Mitta.
"Oh ya? Lalu seperti apa istri yang dinikahi suami sesungguhnya? Apa tidur bersama tidak juga menandakan kalau aku milik suamiku?" sindir Fara.
Mitta geram mendengar ucapan Fara. Dia tidak menyangka Cello dan gadis dia anggap sialan di hadapannya itu telah tidur seranjang.
"Bukankah kalian akan bercerai sesuai surat perjanjian yang kalian sepakati?" tanya Mitta.
Fara menarik ujung bibirnya. "Sayangnya suamiku memperpanjang masa berlakunya hingga seumur hidup." Mitta bagai disambar petir ketika mendengar ucapan Fara. Kini dia tidak bisa berkutik lagi. Mitta memilih untuk meninggalkan Fara. Fara berhasil mengusir Mitta dengan cara halus tanpa melakukan kekerasan.
Fara pun memunguti belanjaan yang tercecer di lantai. Beberapa orang membantu karena mereka merasa iba pada Fara. Meski tersakiti dia tidak membalas sama sekali. "Terima kasih banyak semuanya," ucap Fara pada orang-orang yang membantunya.
Sementara itu Cello yang memainkan handphone miliknya tak sengaja melihat berita viral hari ini. Seseorang sempat mengabadikan pertengkaran mereka melalui handphonenya. Cello melihat Mitta menampar sang istri di depan umum di video yang diunggah tersebut. Darah Cello seketika mendidih. Dia pun menyambar jasnya lalu keluar. Dia pulang satu jam lebih awal.
"Pak, mau ke mana? Ada berkas yang harus ditandatangani," ucap Anwar. Tapi Cello tak mengindahkannya.
Laki-laki itu melajukan kendaraan yang dia tumpangi dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di rumah. Tak butuh waktu lama mobil Cello tiba di area parkir yang ada di sekitar gedung apartemen mewah miliknya.
"Sayang," panggil Cello mencari keberadaan sang istri.
"Lho kok jam segini sudah pulang, Mas." Mendengar kata Mas yang terucap dari mulut Fara hari Cello menghangat.
Dia pun menelisik wajah Fara. "Ya ampun Mitta menamparmu hingga lebam begini. Keterlaluan," geram Cello.
"Aku tidak apa-apa, Mas."
__ADS_1
"Tidak apa-apa bagaimana. Sini aku obati lukanya." Cello menarik tangan istrinya lembut agar dia duduk di sofa.
"Aw sakit," rintih Fara ketika Cello mengoleskan obat ke sudut bibirnya.
"Tahan dikit ya. Kenapa dia sampai marahi kamu?" tanya Cello wajahnya berubah serius. Jika Mitta bersalah maka dia tidak akan memberikan ampun karena dia berani menyakiti Fara.
"Dia menuduhku wanita murahan. Apa kamu menceritakan semua masalah rumah tangga kita padanya?" tanya Fara memastikan. Cello merasa terpojok. Dia mengangguk lemah mengakui kesalahannya.
"Sepercayakah itu kamu padanya sehingga apa yang terjadi di antara kita kamu ceritakan apa adanya kepada wanita itu?" Fara hampir tak bisa mengontrol amarahnya. Dia tidak menyangka suaminya adalah tukang adu.
Cello meraih kedua tangan Fara. "Maafkan aku sayang. Itu karena dulu aku belum menyadari perasaanku padamu. Aku janji aku akan menghukum Mitta."
"Yang seharusnya dihukum itu kamu, Mas."
"Baiklah, hukum aku sesukamu," jawab Cello pasrah.
"Sayang, sayang jangan hukum aku seperti itu."
Setelah semalaman Fara mengunci diri di kamar, perutnya terasa lapar karena dia belum makan tadi. Fara pun mengintip dari balik pintu untuk mencari keberadaan suaminya. Tiba-tiba Cello menerobos masuk. Tenaga Fara tak sebanding dengan suaminya. Dia pun jatuh dengan telentang di atas ranjang ketika Cello mendorongnya.
"Sekarang aku yang akan menghukummu," ancam Cello. Dia menggelitiki tubuh Fara hingga Fara tertawa lepas.
"Ampun, aku mohon hentikan," kata Fara.
"Tidak, sebelum kamu memberikan hakku sebagai suami." Fara langsung terdiam ketika Cello berkata demikian. Wajah gadis itu bersemu merah karenanya.
"Kemaren kan udah," tolak Fara.
"Kamu tidak boleh menolak. Kapan pun aku mau kamu harus memenuhi permintaanku." Fara menelan salivanya kasar ketika dia mendengar ucapan suaminya.
__ADS_1
"Dasar iblis mesum," umpat Fara lalu dia menutup mulutnya yang keceplosan.
Cello pun tak memberi ampun dia menempel bibirnya ke bibir Fara dengan kasar. Dia yang sudah sejak tadi menunggu kesempatan akhirnya bisa menyalurkan hasratnya pada sang istri. Fara tidak bisa berkutik. Dia terpaksa mengikuti permainan suaminya. Malam ini mereka menghabiskan malam panjang mereka dengan bercinta lagi dan lagi.
Ditemani suara air hujan dan udara dingin yang masuk dari sela-sela jendela, mereka melakukan percintaan panas hingga peluh membasahi tubuh mereka.
"Jangan membuatku marah lagi. Kalau tidak aku akan menghukummu lebih dari ini," ancam Cello. Fara hanya tersenyum lemas karena tenaganya hampir habis.
Ketika hampir pagi keduanya baru mengakhiri percintaan mereka. Fara dan Cello pun akhirnya sama-sama telat bangun. Tapi tidak seperti biasanya hari ini Cello sangat santai.
"Kamu nggak kerja, Mas?" tanya Fara.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," kata Cello.
Di sinilah Cello mengajak istrinya. Ke rumah yang merupakan tempat dia dilahirkan. "Untuk apa kita ke sini, Mas?" tanya Fara bingung.
Dia juga melihat Anwar datang dengan seorang pengacara. Mereka berempat masuk. Riska membukakan pintu untuk tamunya. Hari ini dia tidak sekolah karena week end. Sekolahnya hanya sampai hari Jumat.
"Ada apa ini?" tanya Riska. Dia terlihat biasa saja ketika melihat Afra telah sembuh.
"Ku pikir kamu sudah mati Fara," gumma Riska menyumpahi kakak tirinya.
"Aku ingin menyampaikan kalau rumah ini adalah hal sepenuhnya untuk Fara," kata Cello memberi tahu.
Riska melotot tak percaya. "Mana mungkin. Papa menyerahkan pada kami," elak Riska tak terima.
Lalu pengacara itu menunjukkan bukti jika Riska dan ibunya harus keluar dari rumah itu. Riska tiba-tiba berlutut di hadapan Fara. "Aku mohon Kak jangan usir aku dari rumah ini. Kamu tahu kan mama dipenjara lalu aku akan bergantung pada siapa kalau bukan padamu. Tolong kasihani aku." Riska mengemis di depan Fara.
Apakah Fara akan tersentuh hatinya?
__ADS_1