
Anwar datang di saat yang tepat. Cello meminta surat perjanjian itu lalu dia menyobeknya di depan Mama Cindy. "Mulai saat ini Fara bukan istri kontrak lagi, Ma. Aku tidak akan berpisah dengan Fara atau sebaliknya," ucap Cello.
...Terkadang, hati membutuhkan waktu untuk dapat menerima apa yang sudah disadari pikiran....
Mama Cindy menjadi terharu mendengar janji setia. "Mulai besok mama akan membantu kamu menjaga istrimu. Kamu kembalilah bekerja." Cello mengangguk patuh.
Cello kembali bekerja seperti biasa. Meskipun dia tahu Cello masih dalam keadaan sedih memikirkan Fara yang tak kunjung menunjukkan perkembangan.
"Cello mana?" tanya Mitta. Dia hampir saja menerobos ke ruangan Cello tapi Anwar menghalangi langkahnya.
"Kamu nggak usah kurang ajar, Anwar. Aku ini masih kekasih Cello," tegas Mitta. Anwar tersenyum sinis.
"Setahu saya Pak Cello masih suami Bu Fara," ledek Anwar agar Mitta tahu diri.
"Cello dan Fara akan bercerai sebentar lagi dan Cello akan kembali padaku," ucap Mitta dengan percaya diri.
"Tidak, aku tidak akan ceraikan Fara. Dan perlu kamu tahu Mitta. Hubungan kita telah berakhir setelah kamu dengan sengaja meninggalkan aku," tegas Cello.
"Tapi bukankah kamu yang bilang kalau pernikahanmu dengan Fara hanya sebuah kontrak perjanjian?" tanya Mitta memastikan.
"Surat kontrak itu sudah kurobek. Jadi perjanjian itu sudah tidak berlaku lagi saat ini," balas Cello.
"Cello, kamu tidak mau kembali sama aku?" tanya Mitta.
__ADS_1
"Tidak, aku tekankan padamu. Sebaiknya kita jaga jarak. Aku tidak mau ada orang ketiga yang merusak rumah tanggaku," ucap Cello seraya menaikkan dagunya.
Mitta menghentakkan kakinya lalu pergi. Anwar menahan tawa melihat tingkah Mitta yang konyol. "Bagus, Boss. Wanita seperti dia lebih baik dihempaskan saja," ucap Anwar secara lugas pada Cello.
Anwar dan Cello sudah berteman sejak mereka SMP. Cello dan keluarganya banyak membantu Anwar sehingga Anwar mengabdikan diri untuk melayani keluarga Cello. Hingga Cello mengangkat dia sebagai bawahannya. Namun, ketika tidak ada orang maka mereka akan berbicara layaknya sesama teman.
"Dia hanya masa laluku. Kamu boleh mengambilnya," ledek Cello.
"Idih, ogah lah." Anwar pun bergidik ngeri.
Untuk saat ini hati Cello telah terpatri pada istrinya, Fara. Mitta adalah masa lalunya yang pernah membuat dirinya patah hati.
Sementara itu di rumah sakit, Riska mendatangi Fara. "Apa betul ini ruangan Kak Fara?" tanya Riska pada Mama Cindy.
"Saya adiknya," jawab Riska sambil menangis. "Boleh saya menjenguknya?" Riska meminta izin.
"Fara dalam keadaan koma jadi dia tidak bisa berinteraksi dengan siapa pun. Tapi kalau kamu mau melihatnya kamu bisa melihat dari jendela," kata Mama Cindy.
Riska menangis tersedu-sedu. Mama Cindy bingung kenapa gadis itu menangis. "Bagaimana bisa dia mengeluarkan mamaku kalau kondisinya seperti itu?"
Mama Cindy mendengar ucapan Riska. Tentu dia menduga gadis Yangs dengan menangis itu adalah adik tirinya. "Mamamu pantas dipenjara karena perbuatannya," tegas Mama Cindy. Riska mendongak tak terima.
"Mama tidak mungkin mendorongnya. Mungkin dia hanya terpeleset ketika berjalan di tangga," ucap Riska membela diri.
__ADS_1
"Tidak, aku melihatnya sendiri kalau ibumulah yang mendorongnya," sahut Cello tak mau kalah.
Dia berjalan mendekat ke arah Riska. "Saat kejadian itu aku berada di sana. Aku tidak dapat mencegahnya karena posisiku berada di lantai bawah."
Tamatlah riwayat ibunya yang serakah itu. Dia tidak tahu lagi bagaimana cara membebaskan sang ibu. Riska pun akhirnya pulang.
"Apa yang akan kamu lakukan dengan adiknya?" tanya Mama Cindy.
"Aku akan biarkan dia tinggal di rumah itu sementara waktu. Jika Fara sembuh nanti biar dia yang ambil keputusan," jawab Cello. Cello yakin suatu saat Fara akan kembali padanya.
Dia menatap nanar sang istri. "Kapan kamu akan bertengkar denganku lagi? Aku sudah merindukan masakan mu tiap pagi," gumam Cello menatap Fara dari luar jendela.
"Ma, sebaiknya mama pulang, biar aku yang berjaga di sini."
"Apa tidak sebaiknya kamu beristirahat di rumah saja? Kondisi Fara akan dipantau oleh pihak rumah sakit. Percayakan pada mereka."
"Bagaimana bisa Ma aku berbaring di kasur yang empuk sedangkan istriku sedang berada di rumah sakit dengan banyak selang yang terpasang di badannya?"
"Aku ingin menggantikan penderitaan kamu sayang. Izinkan aku saja yang menderita," batin Cello menjerit.
Hampir sebulan lamanya Fara koma. Pagi ini tiba-tiba seorang suster yang sedang mengganti infusnya melihat tangan Fara bergerak. Dia pun memberi tahu dokter yang merawat Fara.
Cello tidak tahu mengapa orang-orang berlari ke ruangan itu. Dia takut terjadi sesuatu pada istrinya. Cello pun lebih banyak berdoa agar Fara baik-baik saja.
__ADS_1
Tak lama kemudian dokter itu keluar dari ruangan Fara. "Selamat istri anda telah melewati masa kritisnya."