MAHAR 10 MILIAR

MAHAR 10 MILIAR
Bab 82


__ADS_3

Seperti tersambar petir di siang bolong, Riska tidak menyangka kalau dirinya akan mengalami nasib sial. "Apa aku akan mati dalam waktu dekat?" gumam Riska seraya memegang hasil tes kesehatan miliknya.


Air matanya menetes tak tertahankan. Dia menangis sesenggukan di bangku yang tersedia di sebuah taman kota.


"Riska?" panggil salah seorang laki-laki. Riska mengusap air matanya dengan kasar. Dia mengamati laki-laki yang berdiri di depannya itu. Sekilas dia seperti pernah melihat wajahnya.


"Anda siapa?" tanya Riska.


Laki-laki itu tersenyum smirk. "Kau bahkan tidak pernah mengingat wajah tampanku ini. Padahal kita telah melewati malam panas bersama.


Dari nada bicara laki-laki itu, dia bisa menebak kalau pria tampan di depannya itu adalah klien yang pernah memakai jasanya.


"Maaf, saya tidak ingat."


"Ck, jangan munafik. Aku ingin menggunakan jasamu tapi melihat sikap yang sombong aku mengurungkan niatku."

__ADS_1


Riska agak kecewa mendengar penuturan laki-laki berbadan tegap itu. "Anda ingin menggunakan jasa saya?" tanya Riska sekali lagi untuk memastikan.


Laki-laki itu mengangguk. "Aku akan bayar kamu lebih dari tarifmu yang biasanya." Tawaran menggiurkan untuk Riska. Dia pun tak bisa menolak. Tapi dia lupa kalau dia sedang sakit menular. Tak ada yang tahu kalau dirinya itu terkena AIDs .


Sebagai bentuk kekesalan, dia menerima jasa servis plus-plus di malam hari dengan pria-pria hidung belang.


Ketika sampai di rumah, Riska menceritakan pada ibunya kalau dia sedang sakit. "Kalau sakit kenapa masih keluyuran sampai malam begini?" tegur Miranda.


"Aku kerja, Ma. Mama bisa nikmatin uang hasil kerja kerasku selama ini."


"Ma, anak itu kelaparan."


"Buka plester mulutnya itu lalu beri dia makan! Perintah Miranda pada putrinya itu. Kalau saja Riska tidak punya hati maka dia akan membiarkan Cio kelaparan untungnya Riska masih memiliki hati sehingga dia memberi makanan pada Cio.


.

__ADS_1


Riska merasa kasihan pada Cio. Wajah anak itu mulai memucat. "Apa kamu ingin sesuatu? katakanlah!" Cio menggelengkan kepalanya.


Riska memaksa Cio agar mau makan sehingga anak itu tidak mati kelaparan. "Bertahanlah sampai orang tuamu menemukanmu."


Riska memang ingin membalas dendam tapi ibunya menggunakan cara yang ekstrim dan mengerikan menurutnya. Riska jadi tidak sependapat.


Sementara itu di tempat lain Fara mengkhawatirkan keadaan Cio. "Sayang makanlah walau sedikit," cara menyodorkan sesuap nasi pada istrinya.


"Bagaimana bisa aku makan sedangkan anakku di luar sana tidak tahu bagaimana nasibnya apakah hari ini dia sudah makan atau belum dia makan dengan apa aku tidak bisa membayangkan Kalau dia sampai mengais sampah di pinggir jalan."


Fara bahkan membayangkan hal-hal buruk menimpa anaknya. "Fara, yakinlah kalau anak kita akan selamat Tuhan pasti memberi jalan kepada kita supaya kita cepat bertemu dengan anak-anak."


Sampai saat ini orang-orang yang dikerahkan Devon tidak bisa melacak keberadaan Cio. Cello sudah mencari melalui CCTV restaurant tersebut sayangnya CCTV itu mati secara tiba-tiba. Mereka jadi tidak menemukan titik terang dalam mencari Cio berada.


"Sudahlah, kita pasrahkan pada pihak kepolisian," usul Cello.

__ADS_1


__ADS_2