
"Bella kamu bisa kembali mengerjakan pekerjaan kamu yang semula," perintah Cello pada wanita yang menggantikan Anwar selama dia sakit.
Bella terkejut. "Apa kinerja saya kurang bagus, Pak?" tanya Bella meminta penjelasan.
"Bukan, Anwar akan kembali bekerja di sini. Jadi kamu bisa bekerja sebagai sekretaris seperti biasa. Bella merasa kecewa karena posisinya mendampingi Cello hanya sebentar.
"Baik, Pak," jawab Bella dengan pasrah.
"Kelihatannya ada yang kecewa,"ledek Anwar pada Cello setelah Bella pergi.
"Biarkan saja. Sebaiknya kamu kembali ke mejamu karena berkas-berkas sudah menumpuk segera, kerjakan mulai dari sekarang!"
"Ya ampun ini sih kerjaan seminggu," gerutu Anwar. Namun dia tetap mengerjakan apa yang diberitakan oleh kakak iparnya itu.
Tiba-tiba Fara datang ke kantor suaminya. Ketika dia baru turun dari lift Fara melihat sekilas. "Untung saja Mas Anwar sudah kembali kalau tidak suamiku bisa kecantol sama wanita menggoda seperti dia," gumam Fara dalam hati.
Bella pun demikian. Dia menatap tidak suka pada istri atasannya itu. "Aku tetap tidak rela kalau posisiku dikembalikan lagi menjadi sekretaris." Bella mengepalkan tangan karena menahan amarah.
__ADS_1
"Sayang," panggil Fara.
"Loh bukan yang ini belum jam makan siang? Kenapa kamu sudah berada di kantor?" tanya Cello.
"Aku ingin dekat-dekat sama kamu," Bohong Fara padahal alasannya dia datang ke kantor karena dia mendengar rumor jika suaminya dan asisten yang menggantikan Anwar sementara itu sering makan bareng di luar jam kerja.
"Oh ya aku bawain makanan untukmu mas agar kamu tidak perlu capek-capek keluar. Bukankah pekerjaan kamu menumpuk?" Fara sok tahu. Fara hanya tidak ingin suaminya jalan dengan wanita lain selain urusan pekerjaan.
"Baiklah. Apa kamu tidak menjemput Cio ke sekolah?" tanya Cello pada sang istri.
Cello mendekat. "Baiklah bumilku sayang. Tunggu dan duduklah sebentar. Setelah menyelesaikan pekerjaan ini aku akan bawa semua berkasnya pada papa. Kamu mau ikut?" tanya Cello pada istri tercintanya. Fara mengangguk.
Di saat Cello sibuk bekerja, Fara malah ketiduran. Dia tidur dalam keadaan duduk. "Cepat sekali tidurnya. Sepertinya dia kelelahan." Cello memindah Fara ke kamar yang ukurannya tidak begitu luas.
Cello memang sengaja menyediakan kamar khusus agar sewaktu-waktu dia bisa beristirahat jika badannya mulai capek. Cello meletakkan tubuh Fara secara berlahan.
Cello meninggalkan Fara sendirian di kamar itu. Sementara dia kembali mengerjakan apa yang belum dia selesaikan.
__ADS_1
Satu jam lebih Cello serius di depan laptopnya. Kini pekerjaan dia akhirnya selesai juga. Cello mendatangi istrinya. Fara masih tertidur pulas bahkan kini dia sedang memeluk guling.
Cello menggelengkan kepalanya. "Fara bangun!" panggil Cello dengan lirih. Namun, Fara hanya menggeliat. Cello yang usil akhirnya memainkan buah dada istrinya. Fara menggelinjang. Dia merasakan sensasi nikmat yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Fara pikir dia sedang bermimpi. Namun, ketika dia mengucek matanya Fara sadar kalau sang suami sedang menjahili dia. "Ih, Mas Cello awas." Fara mendorong tubuh Cello.
"Kok nggak bilang-bilang sih kalau mau nyusu? Aku kira aku sedang bermimpi." Fara sedikit kesal.
Cello terkikik. "Aku takut kamu kehilangan kenikmatan. Aku tahu kamu sedang jaga jarak agar kandungan kamu tidak bermasalah. Tapi bukankah kita bisa bermain dengan tubuhmu yang bagian atas?" goda Cello.
Fara tidak menyangka kalau suaminya berbicara sefrontal itu di hadapannya. Fara jadi tersipu malu. "Hish, kamu berlebihan," cibir Fara.
Cello mengajak istrinya makan bareng bekal yang dibawa Fara dari rumah. "Wow istriku memang keren. Masakan kamu begitu nikmat," puji Cello.
"Wah sayang sekali padahal aku lupa menambah garam," bohong Fara. Dia sengaja berkata lantang agar bisa pamer kemesraan di depan Bella.
Bella mengepalkan tangan. "Sialan!"
__ADS_1