
Hari ini mama Cindy mengajak Fara berbelanja ke mall. "Sayang, kamu yakin nggak ingin beli apa-apa? Mama yang belanjakan lho," bujuk ibu mertua Fara itu.
"Nggak, Ma. Aku pengen makan aja lapar. Mama udah selesai belum belanjanya?" tanya Fara.
"Udah, yuk kita cari makan. Restoran yang deket sini aja ya," usul Mama Cindy. Fara mengangguk setuju.
Mereka mampir di restoran seafood. Mama Cindy gemar makan makanan laut. Fara sih ngikut aja. Ketika mereka sedang menunggu pesanan Fara melihat seorang ibu muda yang tengah hamil besar. Dia ingin mengambil tasnya yang terjatuh ke bawah. Fara ingin menolong tapi tak lama kemudian suaminya datang. Fara iri melihat pasangan itu.
"Fara kamu kenapa lihatin mereka terus?" tanya Mama Cindy.
"Ma, aku kok seneng ya lihat laki-laki itu memperhatikan istrinya. Aku jadi bayangin misalnya aku jadi wanita itu," gumam Fara. Cindy mengulum senyum.
"Memangnya kamu belum ada tanda-tanda hamil ya?" tanya Mama Cindy. Fara langsung terkesiap. Bagaimana bisa hamil kalau tiap hari dia minum pil kontrasepsi, pikir Fara.
"Belum, Ma," jawab Fara singkat.
"Jangan khawatir. Mama selalu doakan yang terbaik buat kamu dan juga suami kamu."
Fara merasa terharu mendengar ucapan Mama Cindy. Meskipun bukan ibu kandungnya, tapi Mama Cindy sangat perhatian dan selalu bersikap hangat padanya. "Terima kasih banyak, Ma."
Fara jadi merasa bersalah. "Apa aku berhenti saja minum pil KB itu ya?" gumam Fara dalam hati.
Di tempat lain, Mitta mendatangi kantor Cello. Dia ingin menunjukkan video yang direkam oleh sang adik pada mantan kekasihnya itu.
"Sudah ku peringatkan kamu untuk menjauhi aku kenapa kamu datang lagi ke sini?" tanya Cello dengan nada dingin.
__ADS_1
"Aku datang ke sini tidak untuk mengganggumu tapi aku ingin memperlihatkan sesuatu yang akan membuatmu berpikir ulang untuk mempertahankan istrimu itu."
Cello penasaran dengan ucapan Mitta. Mitta memberikan handphone miliknya pada Cello. Dia memutar video ketika Fara sedang berpelukan dengan Rendy. Cello mengepalkan tangan ketika menahan amarah.
Tapi dia kembali berpikir kenapa Mitta sampai bisa mendapatkan video itu padahal terlihat jelas kalau Fara sedang berada di kampus saat berpelukan dengan Rendy.
"Kamu memata-matai istriku?" tuduh Cello. Mitta merasa gelagapan.
"Jangan salah sangka. Aku mendapatkan video itu dari...dari..." Mitta berpikir ulang jika dia menyebut adiknya maka habislah Tere. Bisa-bisa Cello melakukan segala cara agar Tere dikeluarkan dari kampus.
"Tidak penting dari siapa. Yang jelas itu video asli tanpa editing," terang Mitta.
"Aku akan tanya langsung pada Fara. Aku tidak percaya pada ucapanmu," tukas Cello.
"Bagaimana kalau dia berbohong?" tanya Mitta. Cello berdiri lalu membukakan pintu ruangannya agar Mitta keluar.
Setelah tiba di rumah, Cello memasuki apartemen miliknya. Fara sampai terkejut ketika suaminya membuka pintu dengan kasar. "Mas, ada apa? Kenapa kamu pulang-pulang matah seperti ini?" tanya Fara.
"Katakan! Apa kamu masih berhubungan dengan Rendy?" tanya Cello sambil menatap bola mata Fara.
"Tidak lagi, terakhir kami ketemu ketika dia mengucapkan salam perpisahan padaku," jawab Fara dengan jujur.
"Jadi apa benar kamu berpelukan dengan dia?" sentak Cello. Dia tidak bisa terima ketika istrinya bersentuhan dengan laki-laki lain. Fea mengangguk pelan.
"Harus ya pakai acara pelukan segala?" tanya Cello dengan suara lantang. Fara meneteskan air mata karena ketakutan.
__ADS_1
Cello yang merasa bersalah pun akhirnya membawa istrinya dalam pelukan. "Maafkan aku sayang."
"Aku hanya berpelukan sebentar karena dia memaksaku. Katanya sebagai salam perpisahan saja. Itu pun tidak ada semenit," ungkap Fara.
"Iya, aku minta maaf karena terlalu cemburu," kata Cello penuh penyesalan.
"Aku takut kalau kamu marah seperti itu. Hua..." Fara malah menangis semakin keras. Bukannya menghibur Cello malah tertawa mendengar istrinya menangis.
"Kalau kamu lagi manja begini aku pengen cubit pipi kamu. Aku janji sayang tidak akan terpengaruh lagi pada hasutan orang lain."
Fara jadi curiga. "Katakan! Dari mana kamu mendapatkan video itu?" tanya Fara. Kini giliran Cello yang gugup. Namun, sesaat kemudian dia tersenyum licik.
"Tidak penting aku dapat dari siapa. Yang jelas aku akan menghukummu sekarang."
Tiba-tiba Cello mengangkat tubuh Fara. "Dasar licik! Enak di kamu nggak enak di aku dong."
"Baiklah, aku akan melakukan dengan lembut agar kamu juga merasakan nikmatnya," bisik Cello.
Fara memukul dada bidang suaminya lalu dia menyembunyikan wajah di ceruk leher sang suami.
Cello membawa Fara ke dalam kamar. Dia merebahkan Fara di atas ranjang dengan lembut. Cello yang berada di atas Fara kini menepis jarak di antara mereka.
Laki-laki itu mencium bibir istrinya dengan lembut. Sentuhan yang diberikan Cello amat memabukkan bagi Fara. Gadis itu pun menikmati permainan suaminya.
Cello sudah berjanji akan membuat istrinya itu menikmati surga dunia yang mereka ciptakan berdua. "Aku tidak sabar menuai benih yang aku tanam sayang," bisik Cello di telinga Fara.
__ADS_1
Seketika Fara meneteskan air mata. Cello menjadi bingung. "Apa aku berbuat kasar padamu, hm?" tanya Cello seraya mengusap air mata istrinya dengan ibu jari.
Fara menggelengkan kepalanya. Dia tidak bisa bercerita kalau selama ini dia yang menunda untuk memiliki momongan.