
Hari ini Rendy bicara langsung dengan Fara. "Fara tunggu aku mau minta waktu kamu sebentar."
"Ada apa?" tanya Fara tak curiga. Rendy melirik ke arah Gita. Gita yang tahu diri kemudian menjauh dari keduanya.
"Kenapa kamu membohongi aku selama ini?"
"Bohong? Tentang apa?" tanya Fara lebih lanjut.
"Kamu sudah menikah tapi kamu membiarkan aku mendekati kamu," protes Rendy. Dia berkata dengan nada lantang sehingga membuat orang-orang di sekitarnya mengetahui status Fara. Rendy telah mempermalukan Fara di depan umum.
Dia janji mengakui Cello sebagai suaminya tapi bukan dengan cara seperti ini. Rendy membuat orang lain berpikir negatif tentang Fara karena nikah muda.
Fara menarik ujung bibirnya. "Apa selama ini kamu bertanya padaku? Untuk apa aku memberitahumu lebih dulu? Karena kamu sudah tahu maka sebaiknya kamu menjaga jarak dariku."
Fara berbalik badan lalu meninggalkan Rendy seorang diri.
"Fara," panggil Rendy dengan berteriak. Saking kesalnya dia meninju udara.
Fara berlari ke pinggir jalan. Dia menghentikan taksi yang lewat di depannya. Fara menangis di dalam taksi. "Dasar cowok nyebelin," umpatnya ketika mengingat wajah Rendy.
"Pokoknya aku nggak mau lagi ketemu sama dia," imbuhnya.
Tiga puluh menit perjalanan dari kampus menuju ke apartemen miliknya, Fara tiba di depan gedung. Saat itu dia melihat seseorang yang dia kenal ada di sana. "Riska, ada apa?" tanya Fara.
"Ibuku sakit, tolong jenguk dia di penjara," ucap Riska menyampaikan keinginannya.
"Maaf,aku tidak bisa pergi tanpa izin dari suamiku," tolak Fara. Dia hanya khawatir kalau Riska mencoba mempengaruhi dia agar membebaskan ibunya yang kini dipenjara.
"Fara, apa kamu tidak punya hati sampai menjenguk orang yang sakit saja tidak mau?" tuduh Riska.
__ADS_1
"Oh begitu? Kamu juga sama saja. Selama papaku di rumah sakit, apa kamu pernah menjenguknya? Padahal papa sangat menyayangi kamu, Riska." Fara berbalik menyudutkan mantan adik tirinya itu.
"Tapi Fara ibuku ingin meminta maaf padamu. Apa kamu tidak mau memaafkan dia?"
"Akan aku maafkan jika dia telah menjalani masa hukumannya," jawab Fara dengan ketus lalu dia berbalik meninggalkan Riska.
"Dasar gadis sombong," umpatnya. Riska tidak bisa memaksa Fara karena tanpa bantuan Fara dia tidak bisa melanjutkan sekolahnya hingga lulus. Tapi uang itu belum diberikan berhubung rumahnya belum terjual.
Fara pun menghubungi Anwar. "Mas Anwar bagaimana dengan pembeli yang akan membeli rumahku?" tanya Fara melalui sambungan telepon.
"Sudah cair, rumahnya dihargai lima ratus juta," jawab Anwar.
"Lumayan banyak, tolong atur untuk membayar biaya sekolah Riska dan kebutuhan sekolah lainnya. Ingat hanya untuk kebutuhan sekolahnya. Jangan berikan langsung padanya tapi berikan pada pihak sekolah. Mengerti?" perintah Fara pada bawahan suaminya.
"Oh ya, Mas Anwar boleh mengambil komisi sebanyak yang Mas mau, sisanya tolong masukkan ke rekeningku," imbuh Fara.
"Baik, kamu tenang saja."
Setelah itu Fara masuk ke unit apartemen miliknya. Dia membuang tas ke sembarang arah. Hari ini dia sangat sial. Rendy yang sudah dianggap teman malah mempermalukan dirinya di kampus. Lalu datang Riska yang mengemis permohonan maaf untuk ibunya.
Untuk meredam amarah, Fara memilih berendam di air sabun unt merilekskan pikirannya. "Aku bersyukur sudah melewati masa OSPEK semoga mulai besok aku bisa mengikuti kuliahku dengan lancar," gumam Fara sambil menikmati wangi aroma terapi.
Cukup lama Fara berendam tiba-tiba perutnya merasa lapar. Dia pun memesan makanan secara online karena suaminya sebentar lagi pulang.
Sambil menunggu Fara meminum pil kontrasepsi yang dia simpan di lacinya. Sementara suplemen yang pernah dikasih oleh dokter kandungan dulu dia biarkan tanpa menyentuhnya sedikit pun.
Tak lama kemudian seseorang membunyikan bel. Fara pun membuka pintu unit apartemen miliknya. "Paket," kata seseorang yang mengirim makanan yang dia pesan. Setelah memberikan uang pada kurir tersebut Fara menutup pintu.
Namun, rupanya kurir itu akan berniat jahat pada Fara. Dia mengganjal pintu rumah Fara lalu menerobos masuk. "Serahkan semua barang-barang berharga milikmu!" ancamnya seraya menodongkan senjata tajam yang dia pegang di tangannya.
__ADS_1
Fara menjatuhkan makanan itu. Kemudian dia ketakutan. Fara hanya diam di tempat sementara orang itu menyusuri ruangan demi ruangan yang ada di dalam rumah Fara. Fara menggunakan kesempatan itu untuk menghubungi pihak keamanan melalui telepon rumahnya.
Tapi belum sampai dia berbicara, orang itu menodongkan pisau ke lehernya. Fara pun meletakkan kembali telepon tersebut. "Ambil apa saja yang kamu mau!" ucap Fara frustasi.
"Mas, kenapa kamu tidak pulang-pulang," gumam Fara dalam hati. Air matanya menetes karena dia ketakutan.
Cello kebetulan baru turun dari lift. Dia melihat pintu unit apartemen miliknya terbuka. "Tidak biasanya Fara membuka pintu selebar ini?" gumam Cello curiga.
Benar saja, Cello melihat istrinya disekap oleh penjahat yang ingin merampok rumahnya. "Fara," panggil Cello. Dia terkejut mendapati penjahat itu menodongkan pisau di dekat leher istrinya.
"Letakkan pisau itu!" bentak Cello.
Penjahat itu tertawa lantang. "Tidak, sebelum aku keluar dia akan menjadi tawananku," ancamnya.
"Apa kamu tahu, ini unit apartemen yang langsung terhubung dengan CCTV kantor polisi, mereka bisa saja sedang menuju kemari," kata Cello menakut-nakuti penjahat yang beraksi seorang diri itu.
"Sial, dia menggiring Fara agar berjalan mendekat ke arah pintu. Kemudian dia mendorong Fara ketika diambang pintu lalu penjahat itu mencoba kabur.
Cello menangkap tubuh istrinya. "Sayang hubungi pihak keamanan. Aku akan mengejar dia," perintah Cello dipatuhi oleh Fara.
Ketika penjahat itu akan menaiki lift, kaki Cello mengganjal pintu lift tersebut. "Mau ke mana kamu?" Cello menarik paksa jaket kurir online itu kemudian membawanya keluar dari lift.
Mereka berkelahi di depan pintu lift. Satu sama lain saling pukul. Tapi Cello memimpin perkelahian. Dia berhasil membekuk penjahat itu. Dia memutar salah satu tangan penjahat itu ke belakang. Namun, naas karena tangan yang satunya lagi digunakan untuk mengambil senjata yang ada di dalam sakunya. Dia menusuk perut Cello tanpa berbalik. Setelah itu dia kabur.
Cello memegangi perutnya yang berdarah. Fara keluar dari unit apartemen miliknya. Dia melihat suaminya ambruk bersimbah darah. Fara menangis menjerit meminta pertolongan.
Fara menelepon Anwar. Dia meminta Anwar mengirim ambulans. "Mas Cello bertahan Mas," ucapnya di sela-sela tangisannya.
...♥️♥️♥️...
__ADS_1
Udah Senin aja nih guys aku udah Doble up ya mohon dukungan votenya 🙏