MAHAR 10 MILIAR

MAHAR 10 MILIAR
Bab 90


__ADS_3

Semenjak Daisy hamil, Anwar selalu pulang lebih awal. Sementara Daisy dia sudah mengajukan pengunduran diri. "Selamat datang suamiku." Daisy menyambut Anwar ketika baru memasuki rumah.


Anwar mencium kening sang istri ketika melihat Daisy. "Aku tidak bawa sesuatu untukmu. Apa kamu mau makan di luar?" Anwar memberikan tawaran.


"Boleh, aku ingin beli martabak yang dijual di pinggir jalan tak jauh dari komplek perumahan kita," jawab Daisy.


"Baiklah, aku akan penuhi permintaan bumil ini." Anwar mencolek hidung sang istri. Daisy tertawa geli.


Daisy menunggu suaminya mandi. Sambil menunggu dia menonton acara televisi yang sedang berlangsung. "Mas, rupanya berita tentang kecelakaan ibu tirinya kak Fara masuk ke televisi," teriak Daisy memberi tahu suaminya.


Daisy menonton televisi di kamarnya sehingga Anwar bisa mendengar suara teriakan sang istri.


"Aku tahu. Walau semalam kakakmu tidak menelepon aku tahu dari papa. Pagi ini Cello tidak datang ke kantor tanpa memberi tahu diriku. Rupanya dia mengurus pemakaman Nyonya Miranda."


"Dia pantas menerima karma karena dia telah banyak menyiksa Kak Fara," sarkas Daisy.


"Tidak boleh bicara sembarangan sayang. Ingat kamu sedang hamil," ucap Anwar sambil mengusap perut istrinya yang masih rata.


"By the way, anak aku akan seumur dengan anak Kak Fara dong ya?" Daisy membayangkan ketika anaknya lahir nanti.

__ADS_1


"Iya," jawab Anwar pendek.


"Yang, jadi beli martabak nggak?" Daisy mengingatkan suaminya.


"Jadi," jawab Anwar. Anwar meraih pinggang istrinya lalu mengajak Daisy masuk ke dalam mobil.


Ketika mereka sampai di penjual martabak, mereka tak sengaja bertemu dengan Cello. "Bang, ngapain di sini?" tanya Daisy.


"Nyabut rumput," jawab Cello asal. "Beli martabaklah," imbuhnya kemudian.


"Pesanan kakak ipar ya?" tebak Anwar.


"Bang, bayarin sekalian. Ponakan lo yang mau nih," goda Daisy pada abangnya.


"Bikinin dia sekalian, Bang," perintah Cello pada penjual martabak tersebut. Usai mendapatkan martabak pesanannya Cello balik ke rumah. Dia meninggalkan Daisy dan Anwar begitu saja.


Malam itu hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Cello sedang berhenti di lampu merah. Mendadak seorang wanita jatuh di depan kaca mobilnya. Saat itu keadaan cukup sepi sehingga Cello bingung.


Laki-laki itu memberanikan diri untuk melihat wanita yang jatuh di dekat mobilnya. Cello turun tanpa menggunakan payung. "Bella," seru Cello memanggil wanita yang tergeletak tak sadarkan diri itu.

__ADS_1


Cello terpaksa menolong Bella dengan membawa wanita itu masuk ke dalam mobilnya. Tanpa dia sadari seseorang memotret apa yang dilakukan Cello.


Cello membawa Bella ke rumah sakit. Dia mengendarai mobil secepat mungkin. "Jangan mati sekarang, Bella. Aku tidak mau berurusan dengan polisi," gumam Cello harap-harap cemas.


Sesampainya di rumah sakit, Cello menggendong Bella agar wanita itu segera mendapatkan perawatan.


Di tempat lain, Fara sedang risau menunggu kepulangan suaminya. "Mas Cello ke mana sih? Disuruh beli martabak aja kaya disuruh minggat nggak pulang-pulang," gerutu Fara.


Tiba-tiba Fara mendapat sebuah pesan gambar dari nomor yang tidak diketahui di kontaknya. "Siapa yang sengaja merekam ini? Pasti tujuannya untuk memecah belah antara aku dan suamiku," gumam Fara yang tak mempercayai foto yang dikirim ke handphonenya.


Usai menolong Bella, Cello pulang ke rumah. "Dari mana aja Mas?" tanya Fara dengan nada dingin.


Cello bingung bagaimana menjelaskan alasan dia terlambat. "Aku tadi habis benerin ban mobil yang kempes, Yang. Makanya baju aku basah kuyup," bohong Cello.


Fara kecewa pada suaminya. Dia berani berbohong pada Fara. "Ow, aku kira kamu lupa beli martabak?"


Cello menepuk jidatnya. "Pesanan kamu ada di dalam mobil sayang. Biar aku ambilkan." Cello hendak beranjak tapi Fara mencegahnya.


"Tidak perlu, Mas. Biar aku saja yang mengambilnya. Mas Cello cepat mandi pakai air hangat biar nggak masuk angin," saran Fara.

__ADS_1


Cello bernafas lega. "Untung saja Fara tidak curiga."


__ADS_2