MAHAR 10 MILIAR

MAHAR 10 MILIAR
Bab 86


__ADS_3

Hari ini Daisy berangkat kerja seperti biasa. Tali ada yang aneh padanya. Ketika dia berada di dalam lift, dia tidak suka mencium bau parfum.


"Ehem, ehem."


Daisy terbatuk-batuk karena rasanya tenggorokannya eneg. Setelah lift terbuka dia buru-buru ke toilet untuk memuntahkan isi perutnya.


"Sumpah bau banget parfumnya. Apa aku harus pakai masker ya? Kenapa tiba-tiba hidungku setajam ini?" gumam Daisy yang bertanya-tanya.


Usai dari toilet wanita itu kembali ke meja kerjanya. Sesaat kemudian dia kedatangan Cello dan sang istri. Mereka jalan sambil bergandengan tangan. "Tumben barengan?" ledek Daisy.


"Fara nyusul aku ke kantor," kata Cello.


"Iya, aku pengen dekat-dekat sama suamiku," jawab Fara.


"Apa itu bagian dari ngidam juga?" tanya Daisy. Fara hanya tersenyum.


"By the way, wajah kamu agak pucat Daisy?" Fara yang sengaja mengamati wajah adik iparnya itu.


"Ow, mungkin aku belum oles lipstik makanya wajahku kelihatan pucat," jawabnya asal. Padahal dia pucat karena mual muntah.


"Ow, aku kira kamu sakit."

__ADS_1


"Papa ada?" tanya Cello pada adik semata wayangnya.


"Masuk aja!"


"Mas aku tunggu di sini ya sama Daisy," kata Fara meminta izin.


"Kamu sakit Daisy?" tanya Fara.


"Badanku agak lemes. Kepalaku juga pusing mungkin gara-gara kurang tidur."


"Kalian lembur bikin anak?" ledek Fara. Daisy menepuk bahu kakak iparnya yang usil itu.


"Apaan sih?" Daisy merasa malu.


"Lupa. Aku nggak pernah mencatat tanggalnya soalnya mens ku tidak teratur," jawab Daisy sambil mencoba mengingat-ingat kembali tanggal terakhir datang bulan.


"Coba beli alat tes kehamilan di apotek. Siapa tahu aja kali ini beneran dua garis. Semangat pejuang garis dua."


Daisy pun menuruti saran Fara. Saat dia sedang istirahat jam makan siang dia menampung air seninya. Setelah menunggu ternyata hasilnya mengecewakan. "Yagh, kok nggak jelas gini. Setelah kering baru kelihatan kalau satu garis hasilnya."


Daisy pun melapor pada Fara. "Aku udah tes sesuai saran kamu. Tapi hasilnya negatif," kata Daisy mencebik kesal. Sudah cukup lama dia mengharapkan anak. Kali ini dia juga tidak mendapatkan kabar gembira.

__ADS_1


"Loh kapan kamu tesnya? Perasaan aku baru saja sampai rumah?" Fara berbicara melalui sambungan telepon.


"Barusan," jawab Daisy polos.


"Yah, pantesan. Kamu sih nggak tanya-tanya dulu. Hasilnya biasanya samar atau negatif karena kalau hamil muda kandungan HCG nya lebih banyak saat pagi hari. Jadi kalau kamu tes kehamilan pagi sehabis bangun tidur hasilnya akan kelihatan." Fara menjelaskan panjang lebar.


Daisy manggut-manggut. Tapi dia yang tidak sabar tidak mau menunggu sampai besok. Dia pun izin pada ayahnya. Dia ingin ke rumah sakit agar hasilnya jelas.


"Bagaimana, Dok?" tanya Daisy penasaran. Dokter itu tersenyum.


"Selamat Bu. Anda hamil empat minggu." Daisy terharu mendengar kabar bahagia ini. Dia tidak sabar memberi tahu suaminya.


"Alhamdulillah, semoga kamu selalu sehat di dalam sini ya nak." Daisy berbicara pada calon anaknya.


Daisy pun ke kantor Cello. Dia ingin menemui suaminya. "Mas Anwar mana Bang?" tanya Daisy pada kakaknya.


"Menemui klien," jawab Cello tanpa melihat ke arah adiknya karena dia sedang fokus mengetik.


"Ck, kenapa nggak abang aja sih yang pergi," protes Daisy.


Cello menoleh. "Kenapa aku bebas memerintah siapa saja," jawab Cello angkuh.

__ADS_1


"Hish, terpaksa ditunda dulu," gerutu Daisy. Setelah itu dia keluar tanpa pamit pada Cello.


"Nggak jelas."


__ADS_2