
Maaf jika banyak typo yang bertebaran ya 🙏
****
Cello bangun lebih dulu pagi ini. Dia masih berada di rumah sakit menunggui Fara yang kemaren sempat terjatuh ketika berlari. Dia keluar sebentar menuju ke mushola yang ada di rumah sakit tersebut.
Tak banyak orang yang sholat subuh di sana. Keadaaan rumah sakit masih sangat sepi. Kebnyakan masih berada dalam peraduan. Hawa dingin membuat kulit Cello terasa dingin. Dia pun bergegas mengambil air wudhu kemudian menunaikan ibadah.
Usai mengucapkan salam yang terakhir, seorang ibu-ibu yang selesai sholat kagum melihat wajah tampan Cello. "Nak, sudah punya istri?" tanya ibu-ibu itu.
Cello merasa aneh tiba-tiba orang tak dikenal bertanya demikian. "Sudah, Bu," jawab Cello singkat.
"Yagh, sayang sekali padahal saya kira anak ini masih bujang. Saya mau ngenalin sama anak saya," terang ibu-ibu bertubuh gempal itu.
Cello menahan tawa. "Saya di sini menunggui istri saya yang sedang sakit, kandungnya lemah jadi dia harus dirawat sementara," jawab Cello.
Ibu-ibu itu makin kecewa mendengar kenyataan kalau ternyata pemuda tampan itu akan menjadi seorang ayah. "Kalau begitu maafkan ibu, Nak." Cello mengangguk.
"Iya, Bu. Tidak apa-apa. Saya permisi mau kembali ke ruang rawat istri saya," pamit Cello.
Sepanjang perjalanan menuju ke ruangan Fara, dia tersenyum. Sesaat kemudian dia membuka pintu perlahan. Ternyata Fara sudah bangun. "Mas, dari mana?" tanya Fara.
"Habis dari musholla. Kamu jam segini kok sudah bangun? Apa kamu mual, pengen muntah?" tanya Cello cemas.
"Iya, aku baru saja dari toilet. Padahal sebelumnya aku tidak merasakan apa-apa."
__ADS_1
"Wajar sayang, dokter kemaren menjelaskan kalau mual muntah di pagi hari itu adalah salah satu fase di trimester pertama. Apa masih mual? Aku pijitin ya."
"Tidak usah, Mas. Aku ingin berbaring saja. Aku hanya sedikit pusing," jawab Fara.
Cello menaikkan kembali selimut istrinya. "Tidur lagi!" ucapnya sambil mengusap perut sang istri.
"Jangan merepotkan mama ya sayang," pesan Cello pada janin yang ada di dalam kandungan istrinya. Fara merasa terharu. Dia tak pernah sebahagia ini.
Sesaat kemudian perawat datang mengganti infus yang habis. "Maaf mengganggu. Saya hanya ingin mengganti infus," ujar perawat tersebut pada pasangan itu.
"Silakan, sus," kata Fara. "Kapan saya boleh pulang?" Sejujurnya dia tidak betah tidur di rumah sakit.
"Nanti kita tanya dokter ya, Bu." Fara mengangguk.
Usai perawat tersebut keluar, Fara memejamkan matanya lagi. Cello duduk di sofa yang tersedia. Dia mengecek handphone apakah ada pesan penting yang masuk ke handphonenya.
"Ada apa sih, Bang? Pagi-pagi buta udah telepon. Kak Fara kenapa-kenapa ya?" Daisy terlonjak kaget.
"Sembarangan. Aku mau minta tolong sama kamu. Hari ini ulang tahun Fara. Pesankan kue, bunga, dan hadiah untuk dia," perintah Cello pada adiknya.
"Ck, biasanya nyuruh Mas Anwar," protes Daisy.
"Anwar sibuk. Aku menyuruh dia mengerjakan pekerjaanku. Udah, kerjakan saja apa yang aku perintahkan. Siang ini aku mau kamu bawa semua ke rumah sakit."
"Iya, iya," jawab Daisy dengan malas.
__ADS_1
Setelah menutup telepon, Cello kembali ke kamar. Dia memesan sarapan melalui aplikasi yang tersedia di ponselnya. Sambil menunggu makanan datang. Dia pun membersihkan diri kemudian ganti baju. Semalam Anwar telah mengirim dia baju-baju ganti.
Hari ini Anwar sangat sibuk di kantor. Dia bahkan berangkat pagi-pagi sekali untuk mempersiapkan bahan meeting. Kali ini meeting dengan klien harus dia lakukan sendiri. Namun, dia meminta Adel sang sekretaris untuk menemaninya.
Jujur ini pertama kali dia meeting dengan pihak asing. Karena Cello harus menunggui istrinya, terpaksa Anwar yang harus maju sebagai asisten Cello.
"Pak, anda sudah datang?" sapa Satpam yang bertugas pagi ini. Anwar mengangguk membalas sapaan anak buahnya.
Dia bergegas menuju ke lift untuk naik ke ruangannya. Setelah sampai di lantai lima, dia langsung masuk ke ruangan Cello. Dia akan mengerjakan pekerjaannya di sana karena bahan meeting itu ada dalam komuter yang ada di meja atasannya.
Ketika dia duduk di meja itu, pandangannya mengarah ke kamar yang ada di sudut ruangan tersebut. Senyum terukir di wajah tampan Anwar tatkala mengingat kejadian kemaren ketika dia meminjam kamar itu.
"Fokus, Anwar. Kamu hanya perlu sedikit lagi untuk sukses jadi jangan lengah. Setelah ini kamu bisa melamar Daisy," gumam Anwar menyemangati dirinya sendiri.
Di tempat lain, Daisy yang sudah selesai bersiap-siap ke kantor turun untuk sarapan bersama keluarganya."Pagi, Ma, Pa," sapa Daisy pada kedua orang tuanya.
"Pagi, sayang," jawab Cindy dan Devon bergantian.
"Oh ya, Pa. Nanti siang aku izin buat nganter pesanan Abang," ucap Daisy seraya mengoles selai di atas roti yang sedang dia pegang.
"Abangmu pesan apa? Biar mama saja yang bawakan," sahut Mama Cindy.
"Bunga, kue sama hadiah untuk Kak Fara. Dia ulang tahun hari ini," jawab Daisy.
"Hah, benarkah?" tanya Mama Cindy memastikan. Daisy hanya mengangguk karena mulutnya sedang mengunyah roti berisi selai nanas itu.
__ADS_1
"Kalau begitu serahkan pada mama saja." Mama Cindy begitu antusias.