
"Lisa!"
Devon dan Lisa menoleh. "Siapa dia?" tanya Devon pada Lisa yang tengah bersembunyi di belakang punggungnya.
"Dia suamiku," jawab Lisa takut-takut.
"Minggir! Jangan halangi aku," seru laki-laki yang bertubuh tegap itu.
"Dia sudah mengajukan gugatan cerai denganmu bukan? Jadi kamu tidak berhak lagi atas Lisa," kata Devon dengan tegas
"Lisa, aku tidak akan menceraikan kamu. Kamu tidak bisa memiliki hartaku. Jika kamu ingin harta itu maka kamu harus tetap menjadi istriku," ancam Ferdian.
"Tidak. Hidup bersama bagaikan neraka, Mas. Aku ingin bebas menjalani sisa hidupku," tolak Lisa mentah-mentah.
"Cih jangan-jangan kamu meninggalkan aku karena laki-laki ini?" tuduh Ferdian.
"Jangan salah paham! Aku hanya membantu Lisa bebas dari laki-laki macam kamu."
Ferdian mengepalkan tangan. Dia ingin menonjok wajah Devon karena bersikap tidak sopan. Sayangnya, tangan Anwar berhasil mencekal tangan Ferdian. "Lepaskan! Siapa kamu?" tanya Ferdian sambil menatap tajam ke arah Anwar.
__ADS_1
"Tidak penting siapa saya. Yang penting Anda pergi sekarang atau akan saya panggil polisi," ancam Anwar.
Ferdian pun pergi meninggalkan mereka. Sesaat kemudian Daisy mendekati Lisa. Tiba-tiba dia melayangkan sebuah tamparan ke wajah wanita itu. "Anda tidak berhak masuk ke keluarga kami."
"Daisy apa-apaan kamu?" tanya Devon dengan nada tinggi.
"Kenapa? Kenapa papa lebih milih dia dari pada aku. Pantas saja mama sedih. Papa membuat kami kecewa."
Daisy melenggang pergi tanpa menanggapi ucapan sang ayah. Anwar memasuki mobil. Dia tidak mau ikut campur. "Putrimu sala paham padaku."
"Maafkan Daisy," kata Devon pada Lisa. Lisa tersenyum.
"Pulanglah dulu. Aku akan meminta pengacara memajukan sidang agar keputusan cerai kalian dikabulkan." Lisa menurut.
Rupanya Anwar tak langsung datang ke kantor. Dia sudah izin pada Cello untuk memata-matai wanita yang tengah dekat dengan Devon itu.
Lisa menaiki mobil hingga turun di sebuah rumah. Ketika dia turun dari taksi, Anwar mendekati Lisa. "Bu, maaf saya mengikuti Anda. Apakah boleh saya masuk?"
Anwar berusaha seramah mungkin agar Lisa mau menceritakan semua permasalahannya. Lisa memperbolehkan Anwar masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
"Aku buatkan minum dulu," kata Lisa memberi tahu. Tapi Anwar menolak.
"Saya ke sini ingin tahu yang sebenarnya. Apa yang membuat Anda harus dekat dengan atasan saya?" tanya Anwar to the point.
"Aku meminta Devon mengurus perceraianku dengan mantan suamiku. Dia adalah laki-laki yang beradu mulut denganku tadi di parkiran."
"Kenapa harus Pak Devon? Apa anda tidak punya sanak saudara yang bisa diandalkan?"
"Tidak. Aku sebatang kara. Bahkan aku pun tidak memiliki anak," ungkap Lisa. Anwar kini mengerti kenapa Lisa bergantung pada Devon.
"Apakah di masa lalu kalian sepasang kekasih?" tebak Anwar. Lisa tersenyum.
"Kamu bertanya terlalu banyak. Jika ingin tahu maka tanyalah sendiri pada Devon." Lisa membalikkan keadaan.
"Saya tidak berhak turut campur. Saya hanya diperintahkan oleh anak dari Pak Devon untuk menyelidiki Anda."
"Ya, aku tahu aku egois. Devon punya keluarga. Tapi apa aku salah jika aku berusaha mempertahankan hidup? Aku juga ingin menikmati masa tuaku dengan bahagia."
Anwar menatap sendu pada Lisa. "Maaf jika kedatangan saya mengganggu." Anwar berdiri lalu pamit. Lisa tersenyum menanggapi ucapan Anwar.
__ADS_1