MAHAR 10 MILIAR

MAHAR 10 MILIAR
Bab 47


__ADS_3

"Apa kamu tidak sadar selama ini Anwar menyukai kamu?" Daisy menggeleng.


"Iya, mama juga merasa perhatian yang diberikan oleh Anwar bukan sekedar memberikan perhatian bawahan pada majikannya tapi seperti seorang laki-laki yang memperhatikan wanita yang disukai," ucap Mama Cindy yang mendukung argumen Cello.


Daisy mengerutkan keningnya. "Aku tidak menyadari hal itu," kata Daisy. Ada rasa bersalah dalam dirinya. Bila diingat-ingat lagi Anwar memang selalu ada di saat Daisy butuhkan.


"Hish, dasar cewek tidak peka," ejek Cello. Daisy menjulurkan lidahnya.


"Ma, aku pengen pulang sekarang," rengek Daisy.


"Tunggu dokter dulu," jawab Mama Cindy.


"Oh ya Ma aku ingin bicara sama mama sebentar." Cello keluar lebih dulu. Lalu Mama Cindy mengikuti Cello dari belakang.


"Ada apa?" tanya Mama Cindy. Cello mengeluarkan botol obat kontrasepsi milik Fara.


"Ini pil KB milik siapa?" tanya Cindy.


Cello menghela nafas. "Itu milik Fara," jawab Cello. Mama Cindy terkejut.


"Kenapa dia mengkonsumsi pil ini? Apa dia tidak ingin memiliki keturunan dari kamu?" cecar Mama Cindy.


"Aku tidak tahu, Ma. Tapi aku tidak mau berpikiran negatif dulu. Ma bisakah kita menukar isinya? Aku ingin obat ini diganti dengan obat penyubur kandungan."


Mama Cindy tersenyum. "Serahkan pada mama," ucapnya sambil mengambil botol obat itu dari tangan Cello.


"Aku mau obat itu sudah ada sebelum Fara kembali dari kampus, Ma." Mama Cindy menautkan jari jempolnya ke jari telunjuk membentuk huruf O lalu melenggang pergi.


Sementara itu Cello pamit pada Daisy ke kantor. "Lho aku bagaimana?" protes Daisy.

__ADS_1


"Nanti aku akan minta Anwar menjemputmu," jawab Cello.


"Bang, yang benar saja." Wajah Daisy bersemu merah. Cello mengacak rambut adiknya.


"Beri Anwar kesempatan. Dia laki-laki baik kamu akan menyesal jika menyia-nyiakan lelaki sebaik dia," pesan Cello dengan nada yang lembut. Daisy tak menjawab ucapan abangnya. Dia masih perlu berpikir.


Cello menghubungi Anwar melalui handphonenya. "Kalau sudah selesai dengan urusan kantor datanglah ke rumah sakit. Daisy pulang hari ini," perintah Cello pada Anwar.


Di tempat lain, Mama Cindy sedang berada di apotek. "Tolong carikan obat penyubur kandungan yang bagus. Tapi bentuknya harus sama dengan pil ini," perintah mama Cindy pada petugas apotek tersebut.


Setelah menunggu lima menit petugas apotek itu memberikan obat yang diminta oleh Mama Cindy. "Terima kasih."


Kemudian Mama Cindy menuju ke kantor Cello untuk memberikan obat penyubur kandungan yang dia minta. "Nih, mama sudah ganti isinya." Mama Cindy meletakkan botol obat tersebut di meja Cello.


"Obat apa itu, Ma?" tanya Devon yang berada di sana.


"Kamu ini ada-ada saja. Fara kan masih muda masa dikasih obat penyubur kandungan. Kalau dia belum hamil ragukan kecebong Cello," ledek Devon pada putranya.


"Pa, aku ini laki-laki subur. Akan ku buktikan nanti," tantang Cello. Cello menaikkan alis matanya sambil tersenyum.


Di kampus Fara sedang sibuk mencari buku referensi di perpustakaan. Saat itu dia ingin mengambil buku di rak yang paling atas sayangnya tangannya tak sampai. Kemudian Rendy mengambilkan buku itu untuk Fara. "Terima kasih," ucap Fara. Namun, sesaat kemudian dia terkejut ketika mengetahui orang yang mengambil buku itu adalah Rendy.


"Apa kabar?" tanya Rendy.


Fara berjalan lebih dulu tanpa menjawab pertanyaan Rendy. Tapi Rendy malah mengekorinya. Fara menghentikan langkahnya. "Kamu mau apa?" tanya Fara.


Rendy berjalan mendekat ke arah Fara. Fara reflek mundur. Punggungnya membentur rak buku. Rendy mengunci Fara dengan kedua lengannya. "Rendy, aku bisa teriak kalau kamu macam-macam," ancam Fara.


Rendy ingin mencium Fara tapi Fara menampar pipi Rendy. Rendy memegang pipinya yang panas akibat tamparan Fara. "Jadi kamu benar-benar mencintai suamimu itu?" tanya Rendy dengan senyum sinis.

__ADS_1


"Untuk aoa bertanya kalau kamu sudah tahu jawabannya," jawab Fara dengan nada dingin. "Berhenti menggangguku atau kamu akan tahu akibatnya."


"Kamu pikir aku bisa menghilangkan perasaan ini dengan mudah?" balas Rendy. Rendy memejamkan matanya sejenak untuk meredam emosinya.


"Lupakan aku maka kamu akan menemukan wanita lain yang lebih baik dari pada aku, Ren," tutur Fara dengan lembut. Dia berharap Rendy mengerti posisinya yang telah bersuami.


"Kenapa kamu tidak berselingkuh saja?" tanya Rendy.


"Aku bukan wanita yang seperti itu. Bagiku pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Aku hanya akan menikah selain dalam seumur hidup. Meski suamiku menyakiti aku, aku akan berusaha mempertahankan rumah tanggaku. See, aku berhasil. Di awal pernikahan, kami tidak pernah akur dan seiring berjalannya waktu cinta itu tumbuh dan semakin berkembang. Aku tidak mau kumbang lain merusaknya," kata Fara panjang lebar.


Rendy terkekeh mendengar jawaban Fara. "Aku akan pindah kampus. Aku ingin sekolah di luar negeri," kata Rendy memberi tahu. "Aku hanya ingin meyakinkan kamu sekali lagi. Sayangnya kamu tetap pada pendirian kamu."


"Itu lebih baik," kata Fara. Dia pikir jika tidak ada Rendy maka dia akan terbebas dari pebinor.


"Jahat sekali. Peluk aku sekali saja!" pinta Rendy sambil merentangkan tangannya. Fara ragu tapi dia memberikan pelukan pada Rendy sebagai salam perpisahan.


Di sisi lain ada Tere yang merekam saat mereka berpelukan. Setelah itu Tere menyebarkan video itu ke media sosialnya. "Ketahuan selingkuh dengan teman sekampus," gumam Tere ketika menulis caption di medsos miliknya itu.


"Rasakan kamu Fara. Aku akan membuat hidupmu menderita," kata Tere yang sedang bermonolog.


Sesaat kemudian Fara dan Rendy berpisah. Rendy akan pindah kuliah ke luar negeri. Sulit baginya untuk melupakan Fara jika dia masih satu kampus dengan gadis itu.


Sementara Fara dia memutuskan pulang ke rumah dengan menaiki taksi. Namun, di saat perjalanan pulang, dia melihat Tere berada satu mobil dengan Mitta. "Hah, ada hubungan apa kedua wanita sialan itu?" tanya Fara dalam hatinya.


Dia sangat penasaran maka dia mengikuti mobil Mitta. Fara meminta sopir itu berhenti ketika Mitta memasuki sebuah rumah. "Apa mungkin mereka bersaudara? Pantas saja sama-sama rese," gumam Fara kesal mengingat kelakuan dua gadis itu padanya.


...🍒🍒🍒...


Hyuk semangati dong. Aku selalu menunggu komentar kalian.

__ADS_1


__ADS_2