
Setelah kena luka tembak di bagian kakinya Cello mendapatkan perawatan tapi dia tidak mau dirawat di rumah sakit. "Dasar anak nakal. Ngerepotin orang aja. Istri kamu tuh lagi hamil jangan bikin Fara kecapekan," omel mama Cindy karena Cello menolak dirawat.
"Justru karena Cello sayang sama Fara makanya Cello nggak mau Fara nunggu di rumah sakit, Ma," jawab Cello.
"Mas Cello beneran kakinya nggak kenapa-kenapa? Aku nggak keberatan kok kalau menunggui kamu di rumah sakit," sela Fara.
"Nggak sayang, nanti juga sembuh. Aku nggak mau kamu lama-lama berada di rumah sakit. Nanti ketularan banyak penyakit."
"Ya sudah kalian kalau butuh sesuatu telepon mama saja," pesan Mam Cindy pada anak dan menantunya.
Ketika Mama Cindy mendorong Cello dengan kursi roda, Bella datang menghampiri Cello. "Bella, ngapain kamu di sini?" tanya Cello. Sekilas dia melirik Fara yang telah memberi tatapan tajam ke arahnya.
"Pak Cello saya mau ucapkan terima kasih karena telah menolong saya malam itu."
Pandangan nata Bella beralih ke Fara. "Bu Fara jangan salah paham. Pak Cello tidak berbuat apapun pada saya kecuali membawa saya ke rumah sakit. Saya hanya ingin mengucapkan itu, saya permisi," pamit Bella.
"Sayang, kamu dengar bukan? Aku tetap setia sama kamu," ucap Cello meyakinkan istrinya.
"Iya, sekarang aku percaya, Mas."
Ketiga orang itu memasuki mobil. Sesaat kemudian Mama Cindy mendapatkan telepon dari suaminya. "Hallo, Pa. Oh Cello ada di sini. Ini kita mau pulang ke rumah," kata Mama Cindy yang sedang menjawab omongan suaminya melalui sambungan telepon.
"Cello handphone kamu mati ya?" tanya Mama Cindy.
"Aku lupa di mana menaruh handphone Ma," jawab Cello.
__ADS_1
"Ini papa ingin bicara sama kamu." Mama Cindy memberikan ponselnya pada Cello.
"Papa sudah bereskan musuh kamu itu. Ternyata ayahnya pernah bekerja sama dengan perusahaan kita. Papa tidak menghancurkan perusahaan ayahnya karena mereka orang baik. Papa hanya memberi hukuman pada Frans," ungkap Devon melalui sambungan telepon.
"Baik, Pa. Terima kasih." Cello mengakhiri panggilan. Kemudian dia mengembalikan ponsel itu pada ibunya.
"Mama harap setelah ini tidak ada lagi pengganggu di kehidupan rumah tangga kalian," ucap Mama Cindy.
"Terima kasih doanya, Ma." Fara memeluk erat ibu mertua yang telah dia anggap sebagai orang tuanya sendiri.
Di tempat lain, Daisy terkejut mendengar kejadian yang menimpa Fara dan Cello hingga dia mengalami kontraksi ringan. "Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Anwar cemas.
"Tidak, Mas. Aku hanya kaget mendengar cerita kamu mengenai abang dan kak Fara," jawab Daisy.
"Iya, aku bersyukur mereka selamat. Apalagi Kak Fara sedang mengandung. Jadi ada hubungan apa laki-laki itu dengan Kak Fara?" tanya Daisy penasaran.
"Dia hanya psikopat yang berambisi memiliki Fara. Kata Fara dulu mereka berteman ketika kecil dan terpisah lama setelah laki-laki bernama Frans itu pindah ke luar negeri," jawab Anwar.
"Nggak heran sih kalau Kak Fara banyak yang naksir. Dia memang cantik dari lahir," puji Daisy. Anwar terkekeh mendengarnya.
"Siapa bilang haya Fara yang cantik. Istriku ini juga sangat cantik. Bahkan kecantikannya semakin bertambah semenjak hamil." Anwar memeluk istrinya dari belakang kemudian mengusap bagian perut Daisy yang masih datar.
Daisy tersipu malu. Wajahnya memerah karena mendengar pujian dari suaminya. "Dasar tukang gombal," cibir Daisy.
Sementara itu, Cio tengah ditemani oleh sang kakek karena ibu dan ayahnya belum kembali. "Kakek, aku takut."
__ADS_1
"Jangan takut Cio. Sebagai laki-laki Cio harus berani supaya bisa melindungi mama, nenek dan tante Daisy," kata Devon memberi pengertian pada cucunya.
"Baik, Kek. Cio mau belajar bela diri supaya nggak ada yang bisa ganggu aku dan mama," kata anak kecil itu dengan polosnya. Devon tersenyum bangga.
Tak lama kemudian orang tua Cio beserta sang nenek tiba di rumah. Cio berlari ke arah papanya. "Papa kaki papa baik-baik saja bukan?" tanya Cio sambil memeriksa kaki sang ayah.
Cello mengacak rambut Cio. "Papa kan laki-laki kuat. Jadi mana bisa kalah hanya karena luka kecil seperti ini," ucap Cello dengan angkuh.
"Papa hebat!" Cio mengangkat kedua jempol jari tangannya.
"Cio, biarkan papa beristirahat ya," pinta Fara. Cio mengangguk paham.
"Mama mau langsung pulang saja. Ayo Pa kita biarkan anak kita istirahat." Mama Cindy mengajak papa Devon keluar.
"Kakek balik dulu ya Cio. Ingat pesan kakek supaya kamu jadi anak yang kuat dan pemberani." Cio mengangguk setuju.
"Mas, mau aku pesankan apa? Aku mau order makanan cepat saji saja," kata Fara.
"Apa saja, Yang. Oh ya tolong minta Anwar carikan sopir untuk kita. Aku tidak bisa ke mana-mana dengan kaki seperti ini," kata Cello.
"Iya, Mas. Nanti aku akan hubungi Mas Anwar dan menyampaikan perintah Mas Cello padanya," jawab Fara.
"Cio, sini nak peluk mama." Cio berlari ke pelukan ibunya.
"Mama harap kamu tidak memiliki trauma setelah kejadian yang melibatkan kamu."
__ADS_1