MAHAR 10 MILIAR

MAHAR 10 MILIAR
Bab 25


__ADS_3

"Cih, apaan nih cewek," cibir Cello ketika istrinya berusaha menggoda. Cello berdiri dan menjauhi Fara. "Kamu tidak punya harga diri ya? Kenapa selalu menggodaku?" cibir Cello.


Fara menarik ujung bibirnya. "Justru kamu telah membeli harga diriku ini seharga 10 miliar. Wow jumlah yang sangat fantastis untuk membeli gadis miskin sepertiku bukan?" Fara balas meledek.


"Pernikahan kita tinggal sebulan lagi, jadi jangan harap aku menanamkan benih di rahimmu," tegas Cello.


Fara berdiri. "Heh, aku pun tidak mau kamu mengeluarkan kecebong di rahimku. Meskipun kamu telah membeliku tapi aku tidak ingin menderita karena merawat anakmu seorang diri."


Fara sebenarnya tidak ingin mengucapkan kata-kata kasar semacam itu. Tapi suaminya itu sungguh amat keterlaluan. Dia begitu menyakiti hatinya. Maka Fafa pun akan berbuat sama pada suaminya.


"Jika aku ini tidak berarti apa-apa bagimu, maka biarkan aku mendapatkan laki-laki yang mau menerimaku apa adanya," ucap Fara dengan wajah sendu. Matanya mengembun tapi dia coba menahan air matanya.


"Aku bahkan tidak tahu akankah ada laki-laki yang mau menerima janda sepertiku nantinya." Dia mulai mengiba. Cello jadi tidak tega melihatnya.


"Kamu tenang saja, meskipun kamu tidak menikah dengan laki-laki manapun, kamu akan tetap kaya. Kamu ingat uang yang aku serahkan pada bos rentenir itu? Aku telah mengambilnya kembali," ungkap Cello.


"Apa? Kamu sama saja dengan mereka kalau begitu," cibir Fara.


"Dasar wanita sialan. Jangan menyamakan aku dengan mereka. Mereka jauh di bawah levelku," ucap Cello dengan angkuh.


"Cih, lalu apa namanya jika kamu merampas hak milik orang lain? Aku memang berhutang seratus juta pada mereka," ungkap Fara.


"Aku tahu maka akupun membayar seratus juta pada mereka dan sisanya aku masukkan ke rekening bank yang kubuat atas namamu. Jadi mulai sekarang kamu tidak usah khawatir jika kamu menjanda nantinya," ucap Cello dengan entengnya.


Fara ingin sekali meremat mulut lemes suaminya itu. "Kamu pikir aku bisa menjalani hidup tanpa pasangan? Bagaimana kalau aku sakit? Siapa yang akan merawatku nanti? Bagaimana kalau aku butuh sandaran jika aku sedang sedih? Apa aku harus memeluk guling sendirian di kamar sambil menangis begitu?" tanya Fara yang meminta suaminya berpikir.


Cello tersenyum sinis. "Itu bukan masalahku, jangan buat aku berpikir tentang masa depanmu," jawab Cello dengan ketus.


"Cello, Cello." Fara juga tersenyum sinis. "Lalu apa kamu tega menyampaikan kabar perceraian kita pada orang tuamu yang mengharapkan anaknya harmonis sepanjang masa?" Ucapan Fara membuat dia berpikir keras.


Omongan Fara ada benarnya juga. Tapi dia juga tidak mau terikat pada pernikahan. Cello ingin bebas tanpa ada seseorang yang mengaturnya.

__ADS_1


Waktu menunjukkan pukul dua pagi tapi mereka masih saja berdebat. "Aku mau tidur. Sekarang gantian kamu tidur di sofa," titah Cello pada istrinya.


"Biasanya juga tidur seranjang," cibir Fara.


"Nggak, kali ini kita tidur terpisah," ucap Cello dengan tegas. Tak mau berdebat panjang dengan suaminya, Fara pun berpindah ke sofa. Dia tidur meringkuk di sana karena kedinginan. Cello menyalakan AC terlalu dingin.


"Gila nih orang, memangnya aku pinguin yang bisa tidur di udara dingin seperti ini? Dasar manusia salju," umpat Fara sambil mengangkat tangannya kesal.


Fara pun diam-diam naik ke atas ranjang. Cello bisa merasakan pergerakan Fara tapi dia pura-pura tidak tahu. Cello mengizinkan Fara tidur di sampingnya karena dia juga merasakan udara di kamarnya terllau dingin. "Sial aku tidak bisa mengurangi volume ACnya jika dia belum tidur," gumam Cello dalam hati.


Keesokan harinya, Daisy membukakan kunci pintu kamarnya dari luar. Saat dia berbalik, dia dikejutkan oleh keponakannya. "Eh tuyul," ucapnya kaget.


"Marshel, kamu ngagetin tante saja," omelnya pada anak laki-laki berusia lima tahun itu. Marshel hanya tertawa.


"Mana mommy kamu?" Daisy menanyakan keberadaan Ruby.


"Ada di bawah numpang sarapan," jawabnya. Daisy tertawa mendengar jawaban keponakannya yang begitu menggemaskan. Dia pun mencubit pipi Marshel.


"Nggak, nanti aja," jawabnya cuek. Anak kecil itu malah memainkan lato-lato di depan kamar Daisy.


Tek tek tek tek


"Marshel berisik banget sih?" omel Daisy lagi sambil menempelkan jari telunjuk ke mulutnya.


"Di dalam ada Om Cello sama Tante Fara yang masih tidur. Kamu jangan ganggu mereka." Daisy mengacak rambut anak itu lalu pergi.


Marshel penasaran kenapa jam segini keduanya belum bangun. Lalu Marshel memiliki ide untuk membangunkan mereka dengan cara yang unik.


Marshel masuk ke dalam dengan cara mengendap-endap. Dia lalu memainkan lato-lato tepat di samping telinga Cello. Saat itu Cello sedang tertidur sambil memeluk istrinya.


Tek Tek Tek Tek Tek.....

__ADS_1


"Aaa.... Berisik!" teriak Cello sambil menutupi kedua telinganya.


Fara terkejut mendengar teriakan suaminya. Cello menyibak selimut lalu mengejar anak kecil yang membuat kerusuhan di kamar itu. Fara tertawa karena pagi-pagi dia melihat tingkah Cello yang kekanak-kanakan.


"Hap tertangkap! Ayo mau pergi ke mana kamu?" Cello berhasil menangkap Marshel. Dia pun menggelitiki seluruh badan anak kecil itu hingga dia kegelian.


Marshel tertawa cekikikan. "Ampun Om," rengeknya mengiba.


"Udah-udah berhenti kasian dia," perintah Fara pada suaminya. Setelah itu Fara duduk di depan Marshel. Cello pun berhenti menggelitiki keponakannya itu.


Fara mengulurkan tangan. "Nama Tante Fara, nama kamu siapa?" tanya Fara mencoba bersikap ramah.


Bukannya menjawab anak itu malah berlari dan mencari keberadaan ibunya. "Marshel kok kamu lari-larian sih?" tanya Ruby pada anak sulungnya itu.


"Aku cuma mau main ini." Marshel menunjukkan lato-lato yang dia pegang.


Sesaat kemudian Cello turun dari lantai atas. "Anak kakak bandel banget. Orang lagi tidur malah diganggu sama mainan berisik itu," adu Cello pada Ruby.


Ruby tak menghiraukan adiknya. Dia malah penasaran dengan apa yang dilihat anaknya ketika masuk ke kamar yang ditempati Cello. "Marshel tadi liat apa pas masuk ke kamar Om Cello?" tanya Ruby pada putranya.


"Aku liat mereka berpelukan seperti mommy sama daddy," jawabnya jujur. Semua orang yang mendengar jawaban Marshel malah tertawa mendengarnya.


Wajah Cello memerah karena malu. Sedangkan Ruby dia malah marah terhadap adiknya. "Dasar iblis mesum, kamu mau mencemari mata anakku yang suci ini hm?"


"Idih, makanya anaknya diajarin jangan suka masuk kamar orang seenaknya," sindir Cello.


"Pagi," ucap Fara yang sedang menuruni anak tangga. Dia terlihat ceria pagi ini.


"Heh, mau ke mana kamu pakai pakaian kaya gitu?" tegur Cello.


Kira-kira Fara mau ke mana ya?

__ADS_1


__ADS_2