
"Ra, kamu dari tadi ngemil terus apa tidak takut kalau badan kamu melar?" tanya Gita. Dia heran sejak tadi Fara terus mengunyah biskuit choco chips tanpa jeda.
"Nggak, kamu mau?" Fara menyodorkan bungkus biskuit itu pada Gita. Gita menggeleng.
"Nggak, kamu aja. Aku susah payah diet kalau kebanyakan makan biskuit nanti berat badanku naik lagi," gerutu Gita. Dia ingat masa-masa ketika berat badannya mencapai tujuh puluh kilo.
"Memangnya kenapa kalau gendut?" tanya Fara yang polos.
"Kamu nggak tahu, Ra. Aku hampir saja putus sekolah karena dulu aku sering dibully. Berat badanku melebihi normal. Aku terlihat sangat jelek waktu itu," ungkap Gita.
Fara mengentikan kegiatannya mengunyah biskuit. "Jahat banget mereka sama kamu. Hanya karena gendut lalu kamu dijauhi?" Fara merasa iba pada Gita. Gita mengangguk.
"Masih ada ya orang-orang kaya gitu di dunia ini. Memangnya kalau kamu gendut yang rugi mereka? Kan yang rugi kamu," ledek Fara. Gita melotot.
"Fara." Gita mencubiti sahabatnya itu.
"Ampun, Git. Ampun!" ucapnya sambil tertawa karena geli.
"Ah, kita masuk aja yuk! Bentar lagi kuliah mau dimulai," ajak Gita. Fara berjalan mengikuti langkah Gita.
Di tempat lain, Cello sedang mengingat-ingat kebiasaan istrinya akhir-akhir ini.
"Pak, apa Anda baik-baik saja?" tanya Anwar yang sejak tadi memperhatikan bosnya itu.
"Aku hanya heran pada istriku. Kenapa akhir-akhir ini dia makannya banyak. Padahal biasanya dia selalu menyisakan makanan," jawab Cello.
Anwar menggedikkan bahu. "Bukannya lebih bagus, kalau dia susah makan baru periksakan ke dokter," usul Anwar.
"Dokter?" Cello berpikir ulang. "Apa jangan-jangan dia..." Tiba-tiba Cello bangkit dari tempat duduknya lalu menelepon sang mama.
"Hallo, Ma. Bisa datang ke kantor aku. Aku mau tanya hal penting pada mama," pinta Cello pada ibunya.
"Kebetulan mama sedang ada di restoran dekat hotel kamu. Mama akan ke sana sekarang," jawab Mama Cindy.
"Bagus kalau begitu. Aku tunggu, Ma." Setelah itu Cello menutup teleponnya.
__ADS_1
Tidak sampai lima belas menit, ibunya datang ke ruangan Cello. "Ada apa, Bang?" tanya Mama Cindy.
"Ma, mungkinkah tanda-tanda orang hamil itu salah satunya banyak makan?" tanya Cello.
"Apa? Jangan-jangan menantuku hamil?" tanya Mama Cindy balik.
"Aku belum tahu pasti, Ma. Tapi sepertinya iya. Sudah beberapa hari ini dia makan dengan porsi besar. Aku sampai heran melihatnya. Padahal biasanya dia tidak pernah makan lebih dari sepiring," terang Cello.
"Apa ada tanda-tanda lain seperti mual muntah di pagi hari?" tanya Mama Cindy memastikan.
Cello menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ma. Selain makannya banyak tidak ada lagi."
"Apa dia telat datang bulan? Kapan terakhir kali dia kedatangan tamu?" cecar Mama Cindy tak sabar. Dia sangat antusias mendengar menantunya hamil.
"Aku tidak tahu, Ma," jawab Cello.
"Hish, dasar suami tidak pengertian. Tanggal terakhir kali datang bulan kamu harus catat. Jadi kamu tahu kalau istrimu telat atau tidak."
"Lah kok jadi aku yang harus catat? Nanti aku tanya sama Fara."
"Sebentar aku telepon dia dulu. Aku hanya ingin memastikan jam kuliahnya selesai jam berapa." Cello mengambil handphone miliknya lalu menghubungi sang istri.
Namun, ketika dia mencoba menghubungi Fara melalui sambungan telepon Fara tidak mengangkat. Mungkin dia masih ada kelas. Setelah itu Cello mengirim pesan singkat pada istrinya.
"Bagaimana?" tanya Mama Cindy.
"Sebentar, Ma. Kita tunggu balasan pesan dari Fara," kata Cello.
Tring
Sebuah pesan masuk. Cello membaca pesan tersebut. "Dia selesai setengah jam lagi, Ma." Cello memberi tahu ibunya.
"Baik, sebaiknya kita susul dia sekarang," usul Mama Cindy.
Ketika keluar dari ruangannya bersama sang mama, Cello memberi pesan pada bawahannya agar menghandle pekerjaan selama tidak ada di kantor. "Baik, Pak," jawab Anwar.
__ADS_1
Sesaat kemudian Daisy mendatangi kantor abangnya. "Lho kalian mau ke mana?" tanya Daisy.
"Kami mau pergi," jawab Mama Cindy.
"Bang, aku mau urus surat-surat ini," kata Daisy menyampaikan tujuannya datang ke kantor Cello.
"Tangani bersama Anwar. Aku harus keluar sama mama," perintah Cello pada adiknya.
"Oke," jawab Daisy singkat.
Setelah kepergian Cello dan ibunya, Daisy mendekati Anwar. Namun, ketika dia berjalan kakinya tersandung hingga membuatnya jatuh. "Aduh!" Daisy meringis kesakitan.
Anwar berjongkok untuk membantu Daisy bangun. "Lain kali hati-hati kalau lagi jalan!" ucap laki-laki itu dengan lembut.
Jantung Daisy berdebar kencang ketika Anwar memegang tangannya. "Terima kasih," kata Daisy dengan lirih. Wajahnya merona karena malu.
"Apa kamu sedang sakit? Kenapa wajahmu memerah?" tanya Anwar ketika tak sengaja menatap wajah Daisy. Daisy semakin kikuk. Dia tidak tahu bagaimana cara menyembunyikan perasaannya.
"Aku tidak apa-apa. Ah..." Kaki Daisy kesakitan ketika dibuat melangkah.
"Ayo obati lukamu dulu!" Anwar memapah gadis itu kemudian mengajaknya duduk di sofa.
"Aku ambilkan obat sebentar." Daisy mengangguk paham. Sesaat kemudian Anwar berjalan dengan membawa sebuah kotak yang berisi obat-obatan.
Anwar mengambil kapas lalu membersihkan luka Daisy dengan telaten. "Pasti sakit banget lututmu sampai berdarah begini," kata Anwar tanpa melihat ke arah Daisy.
"Nggak apa-apa kok. Aku hanya kurang hati-hati," jawab Daisy tidak enak ketika tangan Anwar menyentuh lututnya.
"Sudah selesai," ucap Anwar usai menempelkan plester ke bagian yang luka.
"Terima kasih, Mas." Anwar tersenyum menanggapi perkataan gadis yang sudah lama dia taksir itu.
"Apa kamu selalu semanis ini?" Tiba-tiba kalimat itu keluar dari mulut Anwar ketika menatap intens wajah gadis yang sedang duduk di hadapannya itu.
Anwar belum beranjak dari tempatnya berjongkok. Mereka saling menatap satu sama lain. Tanpa sadar keduanya menempelkan bibir mereka.
__ADS_1
Ihiir akankah cinta mereka akan bersatu?