
Pagi itu adalah hari pertama bagi anak-anak yang akan masuk TK, seperti biasa para orang tua akan menunggui anaknya hingga jam pulang. TK Panjang Umur begitulah namanya kira-kira bila di terjemahkan. TK ini berada di pinggiran kota dekat dengan perumahan Bayu. Nampak sekilas tidak ada yang aneh dengan tempat itu. Bangunan sudah sedikit tua seperti bangunan TK yang lainnya. Ada sebuah perpustakaan kecil di sudut halaman sebelah selatan. Di sebelah baratnya ada sebuah taman bermain lengkap dengan lorong dan tempat seluncuran. Di sebelah timur ada taman bunga lengkap dengan telaga yang dalam dengan sumber air yang tidak pernah surut.
Aura sedikit mistis memang sedikit terasa menusuk di sana, apalagi sebuah batu besar berada di sana menghiasi sudut halaman taman bunga itu. Para tenaga pendidik setiap hari selalu menghimbau orang tua maupun anak TK agar tidak bermain di sana. Menurut orang-orang di sana selalu saja ada kejadian mistis bila ada anak-anak bermain di sana.
Itulah yang membuat Marni ibunya Bayu selalu waspada saat mengantar anaknya sekolah di sana. Bahkan orang-orang sering melihat penampakan di batu besar itu. Konon dulu di sana pernah hidup pohon beringin besar yang sekarang sudah mati secara misterius. Sambil duduk di sebuah ruang tunggu, Marni melihat-lihat keadaan di sekitarnya.
"Ibu Marni, kok bengong seperti itu" kata seseorang yang menepuk bahunya yang membuatnya terkejut. Wanita paruh baya itu gelagapan menjawab pertanyaan itu.
"Eeehhh..anu Bu, tidak apa-apa kok, cuma lihat-lihat keadaan ruangan ini" kata Marni menjawab sekenanya.
"Bu... Bu bagaimana anak saya, apa baik-baik saja bu?" tanya Marni sambil berdiri dari tempat duduknya menghampiri ibu guru Yani dengan raut wajah sedikit cemas.
Bu guru Yani menoleh dan melempar sedikit senyuman kepada Marni yang terlihat mencemaskan Bayu anaknya.
"Bayu baik-baik saja, dia terlihat aktif Bu, saat mengikuti pelajaran" jawab Bu Yani singkat.
"Iya Bu, kalau begitu saya tidak cemas lagi" sahut Marni membalas senyum dari Bu Yani.
Sambil mengangguk pelan Bu Yani meninggalkan Marni sendirian di ruang tunggu anak, sambil menunggu kehadiran Bayu.
Siang itu anak-anak TK mulai berhamburan keluar kelas menikmati jam istirhat. Tak terkecuali Bayu keluar dengar gembira lalu mencari ibunya seperti anak-anak yang lain.
__ADS_1
Mereka menghabiskan jam istirahat dengan berbelanja di kantin. Ada beberapa anak yang bermain di taman bermain, ada yang ke perpustakaan ada juga di taman bunga. Bayu juga terlihat bermain dengan asyik dengan berseluncur dari atas lorong.
Bayu selalu dekat dengan teman akrabnya yaitu Teja yang ikut berteriak riang saat tubuhnya Bayu meluncur lurus dari seluncuran. Bergegas Bayu naik kembali ke atas lorong dan bersiap untuk meluncur.
Tiba-tiba mata Bayu tertarik sebuah objek bercahaya putih di balik batu besar di taman bunga. Beberapa kali Bayu mengusap-usap matanya yang terbelalak karena objek yang aneh itu. Dia beberapa kali melirik teman-temannya, namun mereka malah asyik bermain seperti tidak ada yang aneh di depan mata mereka.
Bayu terus memperhatikan bayangan putih itu yang perlahan menampakkan diri. Perlahan dia menampakkan wajahnya yang tidak buruk, malah terlihat lucu di mata Bayu. Tangannya mulai melambai-lambai seakan menyuruh Bayu mendekat ke arahnya.
Tanpa berpikir panjang Bayu melompat dan berlari menuju kearah batu besar itu. Melihat Bayu melompat dan berlari, Teja membuntuti dari arah belakang. Dia memperhatikan tingkah polah temannya itu, berbicara sendiri dan membagi sebungkus jajan dan di taruh di sampingnya. Teja sedikit takut dan menelan ludah beberapa kali.
Aura mistis kembali menyeruak bersamaan dengan datangnya angin di sela-sela pepohonan. Hempasan angin itu mematahkan ranting-ranting tua di sekitaran telaga itu. Bulu kuduk Teja merinding seakan menyuruhnya segera berbalik menjauhi tempat itu.
Dengan nafas yang sudah terengah-engah Teja berlari menjauhi tempat itu. Dia segera mencari ibunya Bayu yang sedang menunggu di kantin. Di sana juga ternyata ada ibunya, nama Wati. Mereka nampaknya sedang ngobrol panjang lebar.
"Ibu, ibu Bayu bu, Bayu di sana?" suara Teja terputus-putus karena ngos-ngosan sambil menunjuk ke arah batu besar di samping taman.
"Kenapa Bayu, kenapa dia" bu Marni langsung panik mendengar omongan dari Teja. Wanita paruh baya itu langsung berdiri dengan wajah penuh kecemasan menatap Teja tanpa henti.
Bu Wati juga ikut berdiri dan memperhatikan tingkah anaknya yang ketakutan melihat Bayu. Orang-orang di sekitar kantin mulai mendekat serta menenangkan mereka. Bahkan ada ibu-ibu paruh baya memberikan Teja minum agar bisa bicara dengan lancar. Kepanikan terus terjadi, karena orang-orang mulai menebak-nebak kejadian itu.
"Ibu aku, aku lihat tadi Bayu bermain di sebelah batu besar itu dan berbicara sendiri seperti orang gila" kata Teja menjelaskan kejadian yang ia lihat di batu keramat itu.
"Yang benar, apa kamu tidak bohong?" suara Marni memekik keras tanda ia tidak percaya dengan kata-kata dari bocah itu.
__ADS_1
Wajah Marni berubah menjadi merah pucat, dia merasakan ada hal yang buruk akan terjadi.
Mendengar ada ribut-ribut kecil di halaman depan kantin Bu Yani pun menghampiri kerumunan itu. Dia nampak begitu santai berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.
"Selamat siang ibu-ibu, ada apa ini ribut-ribut?" tanya Bu Yani dan menenangkan kerumunan orang itu.
"Ini Bu, kata anak ini Bayu bermain di tempat batu keramat itu" jawab Marni dengan muka cemas di wajahnya.
"Apa benar itu nak?" tanya Bu Yani lagi.
"Bener Bu, kalo gak percaya ibu bisa lihat ke sana" sahut Teja sambil beberapa kali menunjuk batu hitam itu.
Mendengar jawaban Teja yang lugas, rasanya sulit kalo dia berbohong. Raut wajah Bu Yani ikut cemas sambil memegangi dagunya seakan sedang berpikir keras.
Bu Marni yang awalnya tidak percaya perlahan-lahan bisa menerima kenyataan. Semua anak telah berkumpul dan masuk kelas sesuai dengan absen. Hanya Bayu yang tidak ada di antara mereka.
Marni hampir menangis dan wajahnya semakin cemas. Satpam TK itu berusaha mencarinya di mana-mana, namun nihil. Bayu menghilang tanpa jejak, hanya meninggal bekas jajan yang ia makan tadi siang.
"Bu, di mana anak saya, kenapa tidak ketemu?" Marni bertanya kepada Bu Yani dengan nada panik.
Orang tua yang lain juga memasang muka was-was, mereka juga cemas bila terjadi hal buruk kepada anak mereka.
Semua bertanya kemanakah Bayu pergi? Kenapa tidak ada jejak yang dia tinggalkan?
__ADS_1