MELIK

MELIK
Sungai Petanu


__ADS_3

" Nenek, kapan-kapan tolong ajak aku pergi ke desa Trunyan, terutama ke kuburannya. Bukankan desa Trunyan adalah tempat kelahiran Nenek ? Jadi Nenek pasti memiliki keluarga di sana," ucap Gayatri sambil menatap Neneknya.


" Ya ,kamu memang benar. Nenek banyak memiliki keluarga di sana. Tapi jika kamu ingin pergi ke sana , maka kamu harus tahu pantangan dan larangan-larangan jika pergi ke sana," kata Kakek Surya menjelaskan


" Memangnya apa pantangan dan larangannya ,Kek ? " tanya Gayatri dengan wajah yang begitu penasaran.


" Jika nanti Gayatri berkunjung ke pemakaman desa adat Trunyan, pantangan mengambil apapun yang berasal dari areal kuburan untuk kamu bawa pulang. Bahkan barang-barang yang kamu temukan di areal pemakaman tersebut tidak boleh dipindahkan ataupun dibersihkan, walaupun niatnya baik, karena belum tentu baik bagi mereka yang tidak berwujud.Pantang bicara tidak sopan apalagi sampai berbicara kotor, karena terkadang di kawasan danau dekat pemakaman desa Trunyan, keluar zat belerang yang menimbulkan bau menyengat, sehingga terkadang muncul gurauan atau canda seperti ' baunya tidak enak' dan itu tidak diperbolehkan. Kemudian larangan untuk berlaku tidak sopan, seperti meludah karena merasa jijik di areal pemakaman, karena di areal tersebut tidak jarang pengunjung menemukan mayat yang geletakkan begitu saja dengan bekas bekal - bekal kubur dan sesajen, ini dikarenakan tempat untuk pemakaman mayat atau jasad orang meninggal sudah penuh, jadi mayat yang paling lama akan dipindahkan keluar. Lalu yang terakhir pantang mengambil tengkorak manusia yang diletakkan berjajar di areal pemakaman, baik itu hanya sekedar ingin tahu ataupun foto selfie , tanpa permisi terlebih dahulu."


" Seram juga ya ,Kek."


" Dulu saat upacara pernikahan Kakek dan Nenek , Kakek pergi ke desa Trunyan bersama keluarga dan para tetangga yang ada di dekat sini. Waktu itu ada tetangga dekat sini yang ingin melihat kuburan desa Trunyan. Lalu keluarga Nenek mengantar mereka ke sana. Saat mereka berada di depan kuburan desa Trunyan ,tiba-tiba saja uang kertas seratus ribuan milik salah satu tetangga jatuh dan masuk ke dalam sebuah lobang .Ukuran lobangnya ada sekitar ukuran uang logam seratus rupiah. Yang membuat mereka bingung adalah uang kertas itu padahal tidak di lipat, tapi sangat mudah masuk ke dalam lobang dan setelah itu tenggelam ke danau. Waktu itu tetangga Kakek ingin mengambil uangnya yang jatuh, tetapi keluarga Nenek melarangnya," tutur Kakek Surya.


" Seram juga ya ,kek. Aku jadi takut,"


" Kalau Gayatri selalu ingat akan pantangan dan larangan-larangan yang tadi kakek bilang maka pasti tidak akan ada masalah," jawab Kakek Surya

__ADS_1


Besoknya..


"Gandi ? Katanya mau pulang menemui Ibu dan adikmu, tapi kok belum pergi ke sana ?" tanya Kakek Surya seraya menatap Gandi yang sedang membantu Luh Ani membuat canang.


" Iya ,nak. Ibumu pasti sudah menunggumu. Lebih baik temui ibumu dulu, nanti biar Gayatri yang membantu ibu membuat canang,"kata Kadek Ayu pada menantunya itu.


" Ibu dan Ayah saat ini sedang pergi ke sungai petanu yang ada di kabupaten Gianyar. Mereka ke sana untuk mengunjungi teman Ayah yang saat ini sedang sakit," terang Gandi seraya membantu Luh Ani.


" Kakek tahu sungai itu, karena kebetulan Kakek punya saudara di sana," sahut Kakek Surya


" Ya ,Kek . Di Sungai itu ada kota Wong Samar. Dan Wong Samar yang hidup di sana adalah Wong Samar dari kalangan tinggi. Karena rumahnya saja terbuat dari emas," balas Gandi sambil memotong daun pisang.


" Mungkin karena sudah biasa melihat hal yang seperti itu ,Kek," sahut Gayatri.


" Pernah ada warga yang bernama I Putu Setiawan yang gemar memancing di sungai Petanu. Dia sering melihat hal-hal mistis di sana. Mulai dari air yang awalnya tenang lalu tiba-tiba bergelombang setinggi rumah, suara gemuruh seperti kumpulan orang sedang sambung ayam dan lainnya. Saat Kakek berkunjung ke sana juga banyak Kakek lihat hal-hal mistis, dan yang membuat Kakek takut, pernah kakek berpapasan dengan seorang wanita berambut panjang dan kulit kuning langsat. Dia tengah duduk santai di atas batu di tengah aliran sungai. Awalnya Kakek kira itu bule. Sebab diatasnya ada hotel Kamandalu. Kakek sempat menyapanya, tapi dia tidak merespon. Kakek lalu melewatinya begitu saja. Belum ada dua menit, kakek tengok dia lagi, tapi dia sudah menghilang. Saat itu, bulu kuduk Kakek langsung berdiri. Dan sialnya, saat itu Kakek sedang sendirian. Tapi untung Kakek masih bisa berlari," tutur Kakek Surya sambil tersenyum mengingat kejadian itu.

__ADS_1


" Buat apa mesti takut ,Kek ? Kehidupan Wong Samar sama seperti kehidupan manusia di sini. Hanya saja mereka tidak terlihat," kata Gandi menjelaskan.


" Waktu itu Kakek belum terbiasa melihat hal-hal yang seperti itu. Apalagi waktu Kakek pertama kali melihat hal aneh seperti itu, Kakek sampai sakit dua minggu. Wajah Kakek sampai pucat sekali saat pertama kali melihat hal seperti itu. Tapi lama-kelamaan Kakek akhirnya terbiasa melihat hal mistis. Pernah juga dulu saat Kakek meleawati hutan sama Nenekmu. Kami mencium bau masakan yang sangat enak , tetapi Kakek tidak melihat ada siapapun di sekitar sana. Lalu Kakek berpikir kalau itu pasti bangsa Wong Samar," ungkap Kakek Surya


Sore harinya Wayan Rasta dan Gandi pergi ke sawah membantu Kakek Surya. Setiap hari Gandi selalu membantu mereka. Dia menjalani kehidupannya seperti manusia biasa.


" Gandi, lagi dua minggu aku akan menikah," kata Lio seraya duduk di samping Gandi.


" Menikah ? Ternyata kamu diam-diam memiliki seorang kekasih ya ? " ujar Gandi seraya tersenyum.


Lio menghembuskan nafasnya dengan kasar.


" Aku tidak memiliki seorang kekasih , tapi aku di jodohkan sama Ayahanda," jawab Lio menunduk.


" Lio, buat apa sih kamu mau di jodohkan ? Kalau kamu tidak suka dengan gadis itu , lebih baik tolak perjodohan itu. Jangan menuruti semua ucapan Ayahanda," kata Gandi sambil menepuk bahu Lio.

__ADS_1


" Aku tidak berani menentang Ayahanda. Apalagi dia sudah mau mengasuhku menjadi anaknya," sahut Lio


" Lebih baik hidup sendiri dan mencari kebahagian sendiri daripada hidup kita di atur-atur terus. Lebih baik kamu pikirkan lagi semuanya. Aku sangat menyayangimu , jadi aku tidak ingin kamu hidup menderita," ucap Gandi sambil merangkul bahu Lio. Setelah adiknya lahir , Gandi sudah melihat sendiri Ayahnya yang selalu marah-marah pada Lio. Namun Lio hanya diam dan menunduk saat Ayahnya memarahi. Berbeda dengannya yang selalu melawan Ayahnya.


__ADS_2