
Saat ini Gandi sedang pergi ke Kerajaan Wong Samar , sementara Gayatri sedang membantu Ibunya membuat canang.
" Ibu , kemarin Kakek Surya menghubungiku dan ingin mengajakku melukat di Sungai Campuhan. Memangnya Sungai Campuhan itu ada di mana ,Bu ? " tanya Gayatri seraya membantu Ibunya.
"Sungai Campuhan Pakerisan ada di Tampaksiring, Gianyar. Sungai Campuhan merupakan sungai di Bali yang memiliki dua muara berbeda yang menyatu menjadi sebuah aliran sungai. Sungai ini banyak menyimpan misteri, di tengah harus aliran sungai yang menyatu itu ,terdapat sumber air hangat yang konon dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit,"
" Kenapa namanya aneh sekali ? "
" Campuhan berarti campuran. Karena dua sungai besar, yakni aliran Tukad Pakerisan dari sebelah kiri dan Tukad petanu dari sebelah kanan, menyatu tepat di tempat ini. Dan di tengah penyatuan dua aliran sungai besar itu terdapat gemuruh dan mata air kecil. Itu yang disebut Campuhan. Nah, di dekat Campuhan ini kemudian di bangun pura. Konon yang berstana di sungai Campuhan merupakan Ida Ratu Panglingsir yang dikawal oleh seekor Buaya Putih dan Naga. Dua penjaga gaib ini kadang terlihat berenang di antara dua aliran sungai. Kejadian aneh ini pernah dilihat penanggung jawab serta Pengempon Pura Campuhan, Ide Bagus Pawitren. Dulu saat Ibu ke sana pernah melihat Buaya Putih dan Naga yang melintas di sungai. Wajar saja tempat ini difungsikan sebagai tempat nganyutin. Buaya dan naga juga merupakan simbol pengantar arwah atman menuju nirwana. Menurut Ida Bagus Pawitren , sosok gaib itu meminta dibuatkan tempat pelinggih di pohon beringin besar di depan pura Campuhan."
" Lalu apa sekarang sudah di buatkan pelinggih ? " tanya Gayatri seraya menatap Ibunya.
"Tentu sudah. Di tengah sungai di dirikan sebuah patung Siwa yang duduk di atas sebuah batu,"
" Mengapa ada patung Siwa ,Bu ? "tanya Gayatri seraya menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
" Tempat ini sesungguhnya merupakan proyek pelebur Mala. Semua leteh, kesialan , penderitaan , akan hanyut bersama aliran air tersebut. Sebuah pawisik ( bisikan gaib ) mengatakan kalau Dewa Siwa yang berstana di sana adalah sebagai pelebur mala. Makanya di buatkanlah stananya di tengah aliran sungai. Ida Bhatara Panglingsir yang berstana di Pura Campuhan sangat penyayang. Banyak orang dari berbagai pelosok yang datang tak hanya untuk melukat, tapi juga dengan berbagai permohonan. Ada yang datang untuk memohon keturunan dan akhirnya terwujud. Ada juga yang datang untuk memohon kesembuhan dari berbagai penyakit hingga bahkan gangguan jiwa.
Dan mereka berhasil sembuh," tutur Luh Ani
" Aku jadi tidak sabar ingin ke sana ,Bu ."
"Kalau begitu lebih baik Gayatri ikut sama Kakek melukat ke sana ," saran Ibunya seraya menatap dengan intens wajah putrinya.
" Iya ,Bu. " Sahut Gayatri seraya membungkus canang yang akan di bawa oleh Bapaknya.
Mereka mengirim canang hingga ke rumah Kakek Surya. Dan yang bertugas mengirim ke sana adalah Wayan Rasta . Jika Wayan Rasta sibuk maka dia akan menyuruh Gayatri membawa canang-canang itu kesana.
" Memangnya siapa yang bilang begitu pada Rara ? " tanya Ibunya dengan wajah penasaran.
" Temanku yang bilang begitu ,Bu. Mereka bilang kalau tempat itu sangat seram sekali," sahut Rara
__ADS_1
" Pohon Bunut Bolong Olong terletak di Desa Manggisari, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana . Pohon Bunut berumur ratusan tahun ini tumbuh di tengah jalan raya dan bagian akarnya membentuk sebuah lorong yang berdiameter kurang lebih lima meter yang menghubungkan kedua sisi jalan raya. Terlepas dari keunikannya, pohon tua yang disakralkan ini diselimuti aura mistis yang kuat. Berdasarkan cerita para tetua desa , jauh sebelum terbentuknya Desa Manggisari, kawasan Bunut bolong yang merupakan hutan lebat memang dikenal sebagai salah satu kawasan yang sangat beraura magis. Dulu warga kerap terserang penyakit mematikan. Pemimpin desa kemudian bersemedi dan mendapat petunjuk agar warga pindah dan bermukim di sebelah selatan pohon Bunut itu. Hingga kini Aura magis kawasan Bunut Bolong tetap tak hilang hingga kini. Warga meyakini untuk Pengantin baru di larang lewat di lorong Bunut bolong. Jika larangan itu dilanggar maka pasangan pengantin baru tersebut akan mengalami kejadian-kejadian di luar nalar. Mulai dari mengalami kecelakaan, tidak memiliki keturunan hingga bercerai. Karena pantangan itu maka pemerintah dan warga sekitar membangun rambu-rambu larangan dan juga jalan alternatif di sebelah pohon bagi pasangan pengantin serta rombongan pembawa jenazah yang melintas di kawasan tersebut. Selain itu, beberapa tahun belakangan juga terdapat kecelakaan pekerja yang berencana menebang pohon ini. Mereka mengatakan mengalami banyak kejadian mistis saat akan mencoba menebang pohon dan merapikan ranting-ranting pohon. Bahkan ada pekerja yang jatuh dan meninggal. Bunut bolong diyakini warga desa Manggisari, dihuni oleh dua sosok berwujud naga dan harimau yang sesekali menampakkan diri. Sehingga tepat di depan pohon ini dibangun sebuah pelinggih dengan patung berwujud harimau dan naga yang merupakan penjaga pohon ini." Terang Luh Ani pada menjelaskan.
" Aku kira di sana ada banyak hantunya," gumam Rara yang langsung beranjak pergi meninggalkan Gayatri dan Ibunya.
Tak berselang lama Wayan Rasta datang menghampiri Gayatri dan istrinya.
" Bagaimana ? Sudah ada yang selesai canangnya ? Kalau sudah Bapak mau antar ke sana sekarang," ucap Wayan Rasta seraya melihat canang yang sudah selesai di buat.
" Sudah kok ,Pak," sahut Gayatri seraya menjahit canang dengan terburu-buru.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di Kerajaan Wong Samar .
Para rakyat Wong Samar sedang berdemo di depan Kerajaan Wong Samar. Gandi dan Lio yang baru saja datang tampak begitu terkejut melihat semua itu. Mereka berdua mengintip keadaam di luar dari jendela . Gandi ingin keluar dan membantu Ayahandanya , tetapi Lio menahannya karena itu sangat berbahanya.
" Raja , tolong anda suruh Gandi pulang kemari. Kalau dia tidak mau pulang kemari maka hukum mati Gandi di depan kami. Kalau Gandi menikah dengan bangsa manusia , maka dia harus membawa istrinya kemari. Gandi sudah menikah sesuai adat di sini dan sesuai adat di dunia manusia, tapi dia malah tinggal di dunia manusia. Padahal dari dulu tidak ada bangsa Wong Samar yang hidup di dunia manusia dan meninggalkan bangsa Wong Samar. Hanya Gandi yang seperti itu sekarang ini," terang salah satu rakyat Wong Samar yang umurnya sudah sangat tua.
__ADS_1
" Benar Raja. Dulu kami memang sering pergi ke dunia manusia dan kadang ada yang sampai menghamili seorang manusia tapi kami tidak pernah terikat akan sebuah pernikah. Dan kami juga tidak pernah meninggalkan bangsa kami begitu saja seperti Gandi . Tapi dulu anda marah dan melarang kami pergi ke dunia manusia . Bahkan anda sendiri yang membuat peraturan itu di Kerajaan Wong Samar . Tapi peraturan yang anda buat telah di langgar oleh putra anda sendiri," teriak mereka dengan wajah tampak marah
" Tenanglah, aku akan menyelesaikan masalah ini secepatnya. Aku akan membicarakan masalah ini bersama Gandi," ucap Raja Wong Samar dengan tenang.