
Besoknya
Pagi-pagi sekali Gandi sudah pergi ke rumah Nenek dan Kakeknya. Dia kesana karena ingin memberitahu Kakek dan Neneknya mengenai pernikahannya dengan Gayatri.
" Kenapa wajahnya cemberut begitu ? " tanya Nenek Ratih sambil menatap Gandi yang lagi duduk melamun.
" Apa ada masalah ? " tanya Kakek Parjo merasa penasaran.
"Aku sebenarnya ingin mengatakan sesuatu pada kalian, tapi aku takut mengatakannya," ucap Gandi menunduk
"Kenapa harus takut ? Kami sangat menyayangimu ,jadi mana mungkin kami marah pada cucu kami sendiri," jawab Neneknya
" Yang di katakan oleh Nenek benar. Memangnya ada masalah apa ? " tanya Kakek Parjo merasa penasaran.
" Ini masalah aku dan Gayatri Kek," jawab Gandi.
" Maaf Gayatri,aku terpaksa harus memberitahu Kakek dan Nenek," pikir Gandi
" Apa kalian saat ini sedang bertengkar ? "tanya Kakek Parjo sambil mengusap dengan lembut rambut Gandi.
"Kami tidak bertengkar ,Kek. Ibunda menyuruhku agar menceritakan semuanya. Tapi aku takut menceritakannya. Aku takut kalian marah dan membenciku," ujar Gandi dengan wajah murung
"Ibundamu juga tahu ? Berarti ini masalah yang sangat serius ?" tanya Kakek Parjo dengan alis mata terangkat.
" Iya ,Kek." Jawab Gandi menunduk.
" Tenang saja , kami tidak akan marah. Sekarang ayo ceritakan ! " ujar Nenek Ratih
" Sebenarnya aku dan Gayatri sudah menikah," jawab Gandi menunduk
" Apa ? " teriak Kakek dan Neneknya bersamaan dengan mata yang membulat dan juga lebar.
" Gandi , pasti kamu lagi bercanda sama kami," sahut Nenek Ratih tersenyum
" Betul kata Nenekmu. Pasti kamu lagi bercanda. Karena mana mungkin kalian sudah menikah. Kamu ini ada-ada saja," balas Kakek Parjo sambil tertawa.
" Tapi aku bicara jujur, kalau kalian tidak percaya kalian bisa bertanya pada Ibunda, karena Ibunda sendiri yang menyaksikan pernikahan kami," ujar Gandi sambil mengusap rambutnya dengan kasar.
" Ibundamu juga jadi saksi pernikahan kalian begitu ? " tanya Nenek Ratih
" Iya Nek, tapi orang tua Gayatri tidak tahu mengenai pernikahan itu," ucap Gandi
" Lalu bagaimana kalian bisa menikah? Apalagi kalian masih kecil," ujar Kakek Parjo merasa begitu bingung
__ADS_1
Gandi lalu menceritakan semuanya dari awal hingga dia menikah.
" Pantas saja adikku Danar seperti itu, ternyata dia belajar Ilmu Leak," sahut Kakek Parjo
" Pasti dia sengaja belajar ngeleak agar Danar jadi penurut. Padahal dulu dia selalu marah-marah pada istrinya," ujar Nenek Ratih
" Bahkan cucunya sendiri mau dijadikan tumbal. Dia sungguh keterlaluan sekali. Kita harus melakukan sesuatu agar Danar kembali seperti dulu," jawab Kakek Parjo.
" Gandi,tolong jaga Gayatri baik-baik ya ? Jangan biarkan Gayatri di sakiti oleh siapapun , termasuk Ayah Gandi sendiri. Berjanjilah pada Kakek dan Nenek ," ucap Kakek Parjo pada Gandi.
" Iya Kek aku berjanji," sahut Gandi
Mereka tahu kalau Gandi memiliki sifat yang baik, karena sudah terbukti kalau selama ini Gandi selalu melindungi Gayatri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Besok paginya...
Pagi-pagi sekali Wayan Rasta mendapatkan telepon dari Ibunya yang mengabarkan kalau Bapaknya meninggal dunia.
Tubuh Wayan Rasta mendadak lemas ketika mendengar kabar itu.
" Kok wajahhya seperti itu ? Apa ada masalah ? " tanya Luh Ani pada suaminya.
"Bapak meninggal, tadi Ibu yang memberi kabar," sahut Wayan Rasta yang sudah meneteskan air mata
" Ya Tuhan, cepat banget banget Bapak mertua pergi.Kalau begitu lebih baik kita kesana sekarang ," ajak Luh Ani yang langsung bersiap-siap.
" Ibu, kita mau kemana ? " tanya Gayatri merasa bingung
"Ke rumah Nenek Tari," jawab Luh Ani
" Aku tidak mau kesana ,Bu. " Balas Gayatri cemberut
"Tapi kita harus kesana ,karena Kakek Danar meninggal," ujar Luh Ani yang langsung memasukkan beberapa baju ke dalam sebuah tas.
" A_apa ? " teriak Gayatri yang juga begitu terkejut mendengar semuanya.
Gandi yang ada di sana juga teekejut mendengarnya.
" Gayatri , pasti Kakek Danar di jadikan tumbal sama Nenek Tari, " sahut Gandi dengan wajah yang terlihat sedih.
Gandi mendadak tidak bersemangat mendengar semuanya. Dia merasa gagal menyelamatkan Kakek Danar.
__ADS_1
" Padahal baru kemarin aku memberitahu semuanya pada Kakek Parjo dan Nenek Ratih , tapi Kakek Danar malah sudah meninggal. Pasti Kakek Parjo dan Nenek Ratih begitu sedih mendengar semuanya," pikir Gandi.
Untuk beberapa hari ini mereka akan tinggal di sana untuk menyiapkan upacara kematian Kakek Danar.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ketika telah sampai di rumah Nenek Tari, tampak di sana sudah ada Kakek Parjo dan Nenek Ratih yang menangis di depan jenazah Kakek Danar.
" Padahal aku mau menyelamatkanmu agar cepat sembuh, tapi kamu malah sudah pergi meninggalkan aku," ucap Kakek Parjo sambil menangis.
Wayan Rasta juga menangis di depan jenazah Bapaknya , dia begitu sedih karena dari kecil hanya Bapaknya yang selalu menyayanginya.
Hanya Wayan Rasta yang menangis karena kehilangan Bapaknya , berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain. Mereka malah sibuk mengurus warisan Bapaknya yang belum di bagi.
Di bali, untuk upacara kematian biasanya memerlukan biaya puluhan juta atau bahkan hingga ratusan juta. Wayan Rasta tampak bingung memikirkan biaya untuk upacara Bapaknya.
" Ibu, apakah Bapak tidak memiliki tabungan sama sekali ? Karena seingatku dia memiliki tabungan ," kata Wayan Rasta sambil menatap Ibunya.
" Tidak ada, tabungannya sudah habis Ibu pakai untuk berobat Bapakmu ," jawab Ibu Tari berbohong.
" Enak saja mereka mau memakai tabungan suamiku, " gumam Ibu Tari di hatinya
" Kalau begitu kita jual tanah Bapak, karena cuma itu satu-satunya agar ada uang untuk upacara ini," sahut Wayan Rasta.
" Kalau tanah itu di jual lalu Ibu bagaimana ? Cuma dari hasil kebun itu Ibu ada uang," balas Ibu Tari
" Kan masih ada tanah yang lain ,Bu ." Jawab Wayan Rasta
" Kalau cuma mengandalkam satu kebun mana cukup untuk biaya Ibu setiap hari," ucapnya
" Kalau begitu kita sama-sama mengeluarkan uang dengan saudaraku yang lain. Kalau aku sendiri yang mengeluarkan uang maka uangku tidak akan cukup, " sahut Wayan Rasta yang tampak begitu bingung. Padahal tabungannya itu mau di gunakan untuk biaya upacara Gayatri yang belum selesai tapi sekarang terpaksa dia menggunakan uang itu.
" Aku tidak setuju mengeluarkan uang," balas saudara Wayan Rasta yang lain. Semua saudaranya tidak setuju mengeluarkan uang dan itu membuat Wayan Rasta semakin di buat bingung.
Gandi yang melihat hal itu langsung mencari Kakek dan Neneknya.
" Kakek, tolong bantu Bapaknya Gayatri ! " ucap Gandi di depan Kakeknya.
" Memangnya dia kenapa ? " tanya Kakeknya dengan alis mata terangkat.
" Dia bingung memikirkan biaya untuk upacara ini Kek, soalnya uangnya tidak cukup, sedangkan saudaranya yang lain tidak mau mengeluarkan uang. Padahal mereka banyak uang tapi tidak mau mengeluarkan uang. Di sarankan agar menjual tanah Kakek Danar tapi Nenek Tari tidak setuju," ujar Gandi mengadu dengan Kakek dan Neneknya.
" Mereka keterlaluan sekali. Padahal keadaannya seperti ini tapi mereka tidak mau mengeluarkan uang. Padahal tanah adikku juga banyak ," ucap Kakek Parjo dengan suara yang pelan dan wajah yang terlihat marah.
__ADS_1
" Lebih baik temui Wayan Rasta dan bantu dia, kasihan dia ." Jawab Nenek Ratih
Kakek Parjo lalu menemui Wayan Rasta.