MELIK

MELIK
Teman Baru


__ADS_3


Bayu perlahan membuka kedua matanya dan melepaskan pandangan ke semua arah. Dia nampak bingung melihat pemandangan baru di depannya. Dia melirik orang tadi yang tersenyum melihat Bayu. Terlihat sebuah pohon besar yang mirip di TK tempat Bayu duduk tadi. Namu bangunan menyerupai rumah tua tepat ada di bawah pohon itu. Aura dingin berhembus di sekujur tubuhnya. Membuat bulu kuduk berdiri dan merinding.


Dunia itu nampak berbeda dengan dunia manusia, itu yang membuat bingung. Bayu hanya melangkah mengikuti orang aneh tadi tanpa merasa takut. Dia malah ingin tahu lebih banyak tentang tempat dimana dia berada sekarang.


"Maaf Kak, kita sekarang ada dimana?" tanya Bayu dengan polosnya sambil melihat-lihat di sekeliling rumah yang di penuhi rumput liar.


"Kamu berada di rumahku, Bayu. Ayok kita bermain?" ajak orang aneh tadi sambil menarik tangan Bayu masuk ke ruangan yang agak remang-remang.


"Iya-iya, siapa nama kamu?" tanya Bayu ketika berlari ke dalam ruangan tersebut.


Orang itu menoleh sambil melempar senyuman kepada Bayu. Bayu yang melihat senyuman itu malah semakin tertarik dan semakin ingin lama berada di tempat itu.


"Namaku Timbul" jawab orang itu singkat sambil menghentikan langkahnya.


Mereka tiba d sebuah ruangan yang luas dan sedikit gelap. Bayu kembali menatap dan memperhatikan setiap jengkal tubuh itu. Timbul terlihat sama seperti manusia tidak ada bedanya, hanya rambutnya yang sedikit kusut dan agak kemerahan.


"Ada di mana sebenarnya aku?" tanya Bayu pada dirinya sendiri.


"Siapa Timbul sebenarnya?" kembali pertanyaan-pertanyaan itu menghiasi batinnya tanpa tahu jawaban. Dia malah bingung sendiri dan kikuk memandang Timbul yang berada di pojokan.


Belum hilang rasa penasaran di kepala Bayu, sebuah sinar membuatnya terkejut. Ia terperanjat dan merinding dengan mulut menganga. Sebuah terpaan cahaya mengenai matanya. Seketika ruangan yang awalnya gelap kini terang benderang. Ruangan yang cukup bersih lengkap dengan fasilitas yang memadai.


Bayu yang awalnya merinding, mulai menarik nafasnya dan menyusuri ruangan itu. Dia melihat sebuah TV terpajang lengkap dengan PlayStation untuk bermain game. Dia meraba dan merasakan tidak ada yang aneh di sana. Hanya saja Bayu sedikit merasakan aroma aneh di sekitar ruangan namun tidak ada yang tahu bau apa itu.


Bayu kembali melirik Timbul yang dengan raut wajah gembira di dekat lampu. Bila terkena cahaya lampu wajahnya agak pucat dengan sinar mata yang menyala kemerahan. Rasa takut sempat hinggap di hatinya Bayu. Tapi dia sembunyikan dalam-dalam dan berusaha membuang rasa takutnya.


"Hai Bayu, kita main game yuk?" kata Timbul sambil menyodorkan sebuah stick untuk bermain.


Bayu terkejut dari lamunannya mendengar ajakan dari Timbul. Bocah itu tidak menyangka akan diajak bermain.


"Memangnya kamu suka game apa Timbul?" tanya Bayu kepada timbul penasaran.

__ADS_1


"PS4, sepak bola", jawab Timbul pendek seraya menyiapkan PS-nya.


Bayu hanya mengangguk pelan dan ikut gabung bermain bersama Timbul. Anak itu makin lama makin menikmati dunia baru. Dia sudah lupa apa yang sebenarnya terjadi. Dia berteriak dengan gembira dan mengumpat jika dalam permainan mereka kalah. Semua normal tak ada yang beda.


Mereka menghabiskan waktu sing itu hanya bermain game di kamar itu. Bayu yang dari pagi belum makan merasakan perutnya keroncongan dan melilit. Tangannya sibuk memijit dan mengelus perutnya. Matanya mulai berkunang-kunang diiringi rasa pusing yang menyerang kepalanya. Timbul melihat hal itu dan menghentikan permainan.


"Bayu, kamu kenapa?" tanya Timbul dengan perasaan cemas melihat kondisi Bayu yang lemas.


"Aku lapar, Timbul", kata Bayu lemas sambil memegangi perutnya yang keroncongan.


Timbul tersenyum dan raut wajahnya kembali seperti semula.


"Kamu mau makan apa, Bayu?" tanya Timbul kepada Bayu.


"Apa di sini ada makan?" tanya Bayu tidak yakin kepada Timbul.


" Tinggal bilang makan enak yang kamu mau", sahut Timbul sambil menepuk pundak Bayu.


"Apa di sini ada nasi goreng?" tanya Bayu dengan malu-malu.


"Tentu saja ada", jawab Timbul sambil berlari ke arah dapur dan membawakan sepiring nasi goreng.


"Mau makan apa lagi?" Timbul menawari lagi pilihan makanan kepada Bayu.


Bayu merasa senang dapat nasi goreng gratis dan segera melahap nasi tersebut. Dia tidak merasakan ada yang aneh, rasanya sama seperti buatan ibunya. Lalu dia mencoba memilih makan yang sedikit sulit didapat menurutnya.


"Timbul, aku minta pizza. Apakah ada disini? tanya Bayu sambil mengunyah nasi goreng di mulutnya.


"Tentu saja ada", jawab Timbul bergegas berlari ke dapur dan mengambil sepiring pizza.


"Timbul, ada spaghetti juga?" Si Bayu kembali meminta makanan enak kepada Timbul.


"Ada-ada, akan aku ambilkan ya", timbul berlari lagi ke dapurnya dengan wajah gembira.

__ADS_1


Sementara Bayu melahap semua makanan yang di sajikan oleh Timbul tanpa rasa curiga. Dia melahap habis hingga merasa kenyang. Mereka akhirnya tertawa bersama dan bermain lagi hingga merasa bosen dengan permainan itu-itu saja.


"Bayu, kita jalan-jalan yuk?" ajak Timbul sambil menarik paksa tangan Bayu. Mereka berlari dengan kencang melewati lembah dan semak belukar.


Aneh, mereka tidak menunjukkan rasa lelah sedikit pun. Bayu hanya terlihat mengusap keringatnya yang meleleh di dahinya. Bajunya mulai basah dan sedikit lusuh.


Lama sekali mereka berada di tempat itu, hingga sore pun datang. Bayu teringat bahwa harusnya dia tidak berada disini. Dia harusnya sedang belajar di kelas bersama teman-temannya.


Dia teringat akan wajah ibu yang sempat terlintas di otaknya. Bayu segera menghampiri Timbul dan meminta segera pulang.


"Timbul, antar aku pulang. Hari sudah sore, ibuku pasti cemas mencariku", kata Bayu kepada Timbul yang dari raut wajahnya menunjukkan rasa tidak suka kalau Bayu kembali pulang ke rumahnya.


Timbul tidak menjawab untuk waktu yang, dia berdiri tenang dan menatap Bayu dengan wajah yang marah.


"Bayu, kau tidak boleh", jawab Timbul menolak permintaan dari Bayu.


"Tapi ibu akan marah kepadaku, jika aku terlambat pulang. Aku janji besok kita akan bermain lagi. Aku akan bermain ke sini dengan teman-temanku. Apa kamu setuju?" tanya Bayu kepada Timbul.


Timbul terdiam sambil memegangi dagunya yang lancip. Dia melirik Bayu dengan sedikit marah dan seketika mengeluarkan cahaya merah di sekelilingnya. Aura menakutkan mulai menyelimuti tempat itu.


"Itu tidak bisa, hanya kau yang dapat melihatku, jadi percuma kau membawa mereka", kata Timbul dengan nada marah dan matanya melotot merah.


Bayu mulai bergidik, bulu kuduknya merinding dan kakinya gemetar lemas. Dia hampir menangis, dengan mata yang sudah sembab.


"Ingat dengan janjimu, besok kau harus bermain ke sini", kata Timbul sambil mengancam Bayu.


Bayu sudah hampir meneteskan air mata, dadanya mulai sesak dan tersengal. Dia tidak menjawab hanya anggukan kecil dan lemah yang bisa bocah itu lakukan.


"Bawalah ini, aku beri kau uang untuk bekal pulang", kata Timbul mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya.


Bayu dengan senang menerimanya, dan menyimpan uang itu di sakuny dengan jumlah kurang lebih Rp. 200.000 terdiri dari dua lembar pecahan seratus ribu.


Bayu tertawa dengan mata berbinar dan seketika dia sudah berada di samping batu besar di halaman dekat telaga di TK.

__ADS_1


__ADS_2