
Suasana mencekam masih terjadi malam itu saat Bayu mulai tak sadarkan diri dan teror gaib menyerang dengan ganasnya. Suda dengan wajah tegang disertai rasa cemas mulai menggoyang-goyangkan tubuh anaknya. Marni dengan sigap mengambil beberapa obat oles untuk menghangatkan tubuh sang anak.
Ditengah lolongan anjing dan hembusan angin malam yang menyeruak diantara rerimbunan pohon, Timbul mengendap dan masuk melalui jendela rumah.
"Bruuuaaakkk".
Timbul dengan sengaja membanting jendela rumah dengan keras. Suara yang tiba-tiba itu membuat Suda dan Marni terperanjat kaget. Mereka seketika diam tak ada yang bersuara dan mulai mengamati keadaan di sekitar rumahnya. Tubuh Marni mulai merasakan aura menakutkan yang membuat bulu kuduknya merinding.
Suda masih berusaha tenang sambil mengurut-urut kening anaknya. Dia beberapa kali menelan ludahnya sambil berpikir kemungkinan ada ilmu gaib yang menyerang rumahnya. Dia melirik istrinya yang sudah gemetar ketakutan.
"Bu, aku akan mengecek jendela, mungkin lupa dikunci", kata Suda bergegas menuju jendela.
Timbul ketawa cekikikan melihat seisi rumah ketakutan dan merasa panik. Dari wajahnya terlihat dia belum puas, sehingga rencana kedua mulai dilancarkan.
Kali ini Timbul ingin mengerjai Marni yang sedang mengurut pelipis anaknya. Kakinya yang bergelantungan di ranjang itu, menjadi santapan lezat Timbul. Dengan gigi taring yang tajam, Timbul menggigit dengan garang.
"Aaaaaaaaaaaaa, sakit. Kakiku sakit", pekik Marni sambil memegangi kakinya.
Wanita paruh baya ini menjerit dengan histeris dan berguling-guling menahan sakit yang tak tertahankan. Wajah Marni menegang dan matanya terpejam karena merasakan sakit yang luar biasa di areal kakinya.
Sang suami yang kaget segera mendatangi Marni dan menahan tubuh istrinya menggunakan kaki. Sementara tangannya sigap meraih tubuh Bayu yang terkulai lemas tak berdaya. Dengan rasa takut dan was-was Suda memindahkan anaknya dari ranjang ke lantai. Dia berharap kekuatan gaib itu tidak bisa menyentuh anaknya.
Sementara itu Timbul tertawa girang dan semakin merajalela di atas penderitaan orang. Secara gaib kaki Marni telah di gigit dan darahnya telah di sedot. Namun hal itu tidak dapat di lihat oleh mata biasa. Karena hal itu, Marni merasakan sakit yang luar biasa.
Timbul yang sedang asyik menikmati kakinya Marni tanpa sengaja menyenggol gelas di meja.
"Prrriiiaaaaannnnnnngggggggggg".
Suara gelas minum jatuh secara tiba-tiba dan pecah berserakan. Melihat gelas jatuh tanpa sebab, Suda yang tegang terkesiap dan menahan nafas. Jantung pria itu seakan sudah mau copot dan matanya mendelik. Dia mengelus-elus dada dan menarik nafas agar dia kembali tenang.
Melihat ekspresi wajah Suda yang ketakutan, Timbul senang bukan main. Dia merasa sudah berhasil mengerjai keluarga Bayu yang telah dianggapnya bersalah. Dia menari dan berjoget dengar riang, hingga tanpa sengaja dia menginjak remote TV di lantai rumah.
__ADS_1
Suda berjalan dengan pelan hendak memungut pecahan gelas yang berserakan. Belum ada tiga langkah berjalan, TV tiba-tiba menyala dengan sendirinya. Mata Suda terbelalak dan reflek melompat ke tempat tidur.
Marni semakin histeris melihat kejadian itu. Dia menangis sejadi-jadinya sambil mengerang kesakitan. Dia semakin gemetar dan keringat dingin keluar dari tubuhnya. Dia merasakan lemas dan pusing kini meneror kepalanya.
Suda yang masih belum hilang rasa kagetnya kini melihat tubuh anaknya bergerak meronta-ronta sambil menangis. Suda masih susah untuk bergerak, kakinya terasa berat untuk melangkah. Dengan kedua matanya, dia mengamati tubuh Bayu seperti diikat dan disiksa. Pria yang biasanya akrab dengan dunia pariwisata ini akhirnya menyaksikan fenomena mencekam dan menakutkan. Dia terus menatap ke arah Bayu, semakin jelas jiwanya sedang ada di alam lain. Entah benar atau salah, Suda menduga hal itu, namun dia tak bisa berbuat apa.
Sementara kaki Marni mulai hilang rasa, dan susah untuk di gerakkan. Wanita itu meringis dan memeluk suaminya. Suda melihat ke arah kaki istrinya, dan benar ada darah yang mengalir namun hilang begitu saja. Darah itu tidak menetes ke lantai. Suda makin bingung dan memeluk istri yang sudah terkulai di pelukannya.
"Bu, bertahanlah", suara Suda pelan setengah berbisik kepada Marni.
"Pak, coba.... Coba telepon Jero Mangku Sakti", seru Marni hampir tidak kedengaran jelas dan terbata-bata.
"Iya, Iya Bu. Bapak akan coba hubungi dia, sekarang berbaringlah dulu sebentar!" kata Suda seraya membaringkan tubuh istrinya yang lemas di atas ranjang.
Suda bergegas mengambil ponsel di atas meja. Tangannya berusaha meraih dengan cepat hingga beberapa barang pajangan di meja terjatuh.
Jam di dinding menunjukan pukul 00:05 tengah malam dengan suasana sepi yang mencekam. Hanya desiran angin dan sesekali lolongan anjing masih terdengar.
"Halloo, selamat malam Pak Jero, mohon maaf saya menggangu malam-malam", sapa Suda melalui sambungan telepon malam itu.
"Uhhuuuuk, uuuhhhuukkk".
Orang yang berumur sekitar enam puluh lima tahun itu batuk saat akan menjawab telpon.
"Selamat malam, ada apa malam-malam begini nelpon", suara parau itu menjawab telpon dari Suda.
Raut wajah Suda terlihat lega, karena dia berharap Jero Mangku bisa menolongnya. Dalam keadaan yang sangat gawat ini Suda tidak punya pilihan lain. Jero Mangku Sakti pasti bisa menolongnya.
"Pak Jero, di rumah saya tiba-tiba terjadi hal aneh. Bayu tiba-tiba tak sadarkan diri istri saya tiba-tiba lemas dengan merasakan sakit di kakinya", kata Suda menjelaskan keadaan yang terjadi di rumahnya saat itu.
Setelah dijelaskan panjang lebar oleh Suda, Jero Mangku Sakti berangkat menuju rumah Suda di ujung jalan. Tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu dua puluh menit untuk sampai tujuan. Jero Mangku Sakti merupakan orang pintar dan spiritualis di lingkungan tempat tinggal Bayu, selain sakti karena bisa menyembuhkan berbagai penyakit beliau juga terkenal bisa menyelesaikan masalah secara spiritual.
Deru motor bebek membelah malam itu tanpa halangan. Jero Mangku Sakti tak kenal takut saat melintas di mana saja. Baik malam maupun siang, pasti dia terobos asalkan dengan tujuan baik.
__ADS_1
Tepat jam 02.05 dini hari, Jero Mangku Sakti menginjakkan kakinya di rumah Bayu. Dia di sambut oleh Suda seorang diri. Mereka segera menuju kamar tempat anak dan istrinya sedang sekarat.
"Pak Jero, begini keadaan anak dan istri saya, mohon di obati agar sembuh", kata Suda memohon dengan tulus kepada Jero Mangku Sakti.
Jero Mangku Sakti melihat dan mengamati Bayu yang terbujur lemas dan tak sadarkan diri. Dari ekspresi wajahnya, orang ini sudah dapat menebak apa penyebabnya.
Lalu matanya dipindahkan menuju Marni, wanita paruh baya istri Suda yang tergeletak lemas sambil memegang kakinya.
"Hemmmm, Pak Suda untuk urusan kesembuhan itu ada di tangan Tuhan Yang Maha Kuasa, saya hanya sebagai perantara dan hanya berusaha memohonkan saja. Saya akan bantu sebisa mungkin", jawab Jero Mangku Sakti dengan suara parau namun penuh wibawa.
Suda mengangguk di samping istrinya dan anaknya Bayu. Wajahnya penuh harap dan ingin urusan ini cepat selesai.
Belum beberapa menit sejak kedatangan Jero Mangku Sakti, Bayu kembali menangis dengan wajah yang meringis. Dia menggeliat dan meronta seperti sedang menahan sakit.
Melihat Bayu dalam keadaan yang sulit, Jero Mangku Sakti segera mengambil posisi duduk dan memegang tangan kanan Bayu. Dengan hati-hati orang itu mengurut dan memasukkan energi tenaga dalam ke tubuh Bayu. Bayu mulai tenang dan tidak meronta lagi ketika energi positif itu mengalir ke seluruh tubuhnya.
Di alam bawah sadarnya, Bayu sedang bersama Timbul yang sudah dari tadi masuk dan mengikat tubuh Bayu ke sebuah pohon.
"Bayu, kenapa kau ingkar janji? Kenapa kau tidak datang ke rumah tadi siang?" suara timbul terdengar keras dengan nada marah.
Bayu kembali menangis ketakutan melihat wajah seram Timbul yang tidak dia kenali. Dia merasa tidak pernah kenal dan membuat janji dengan raksasa seram seperti itu.
"Siapa kamu, aku tidak kenal kamu", jawab Bayu sambil menangis dan meronta agar bisa lepas dari ikatan tali.
"Ha ha ha ha ha", Timbul tertawa dengan keras sambil merubah wujud.
"Ini, apa kau ingat dengan wajah ini?" suara Timbul kembali halus namun dengan nada marah. Wajahnya berubah imut serta berganti kulit menjadi pucat dan rambutnya berwarna merah.
Bayu terperangah dan ingat akan janjinya kemarin. Anak kecil berusaha tenang untuk menjelaskan semuanya. Bayu tahu kalau ini akan sulit mengingat timbul yang sudah marah dan emosi.
"Maafkan aku Timbul, aku tidak diijinkan lagi pergi ke sekolah oleh orang tuaku", kata Bayu polos.
"Aku tak butuh penjelasan itu, pokoknya kau harus ikut denganku", potong Timbul dan segera menarik Bayu yang masih dalam keadaan terikat.
__ADS_1
Bayu kembali menangis dan sontak terkejut, karena kini tubuhnya benar-benar telah berada di rumahnya Timbul. Dia terkejut dan terperangah dengan kejadian itu.
Sementara Jero Mangku Sakti berusaha masuk kedalam alam bawah sadarnya Bayu. Apakah dia akan berhasil?