
Setelah mendengar semuanya dari Gandi, wajah Wayan Rasta langsung merah padam . Dia tidak menyangka kalau Ibunya begitu kejam pada keluarganya.
"Apa Ibu sebegitu bencinya padaku ? Dari aku kecil dia seperti tidak menyukaiku. Sebenarnya apa salahku pada Ibu ? " pikir Wayan Rasta seraya menunduk.
" Sekarang Nenek Tari hanya berbaring di tempat tidurnya . Dia saat ini masih bisa bernafas karena barang pengeleakan yang ada di dalam tubuhnya. Kalau barang pengeleakan yang ada di dalam tubuhnya di wariskan pada keturunannya, maka dia pasti akan langsung meninggal," terang Gandi
" Lalu kita harus bagaimana ? Apa sekarang kita harus ke rumah Ibu ? Soalnya keadaan Ibu sudah seperti itu," ujar Luh Ani seraya menatap Wayan Rasta dan Kakek Parjo secara bergantian.
" Kita pura-pura tidak tahu saja. Lagian kita juga tahu dari Gandi bukan dari mereka. Kalau kita tiba-tiba ke sana , mereka pasti akan langsung tahu kalau selama ini kita selalu mengawasi mereka. Biarkan mereka sendiri yang menghubungi kita dan memberitahu semuanya," terang Wayan Rasta
" Suamimu benar. Lebih baik kita tunggu telepon dari mereka," terang Kakek Parjo seraya menatap Luh Ani.
" Sekarang kita harus berhati-hati karena Ketut Erni dan Nenek akan balas dendam kemari," ucap Wayan Rasta seraya menatap istrinya.
Tak berselang lama Gayatri yang ada di kamarnya telah membuka matanya.
" Kakak sudah bangun ? " tanya Rara seraya menatap Gayatri yang terlihat sedang bingung
" Rara,kenapa pagi-pagi sekali kamu sudah ada di kamar Kakak ?"tanya Gayatri seraya menaikkan sebelah alisnya.
" Pagi ? Ini sudah siang,Kak. Kakak tidurnya lama banget,Rara jadi bosan nungguin Kakak di sini,''gerutu Rara seraya memajukkan sedikit bibirnya ke depan
" Masa sih dek ? Kakak tidak percaya dengan ucapanmu, " ujar Gayatri dengan wajah yang tidak percaya.
" Kalau begitu Kakak lihat sendiri jam yang ada di ponsel Kakak," kata Rara seraya beranjak dari tempat tidur Gayatri ,setelah itu pergi mencari orang tuanya.
Mata Gayatri langsung membulat saat melihat jam yang ada di ponselnya.
" Ya ,Tuhan. Kenapa aku bisa tidur selama itu ? Aku juga bermimpi yang sangat mengerikan sekali, " pikir Gayatri seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia mengira semua yang dia alami kemarin malam adalah sebuah mimpi.
Gayatri lalu beranjak dari tempat tidurnya dan langsung menuju ke kamar mandi. Dia tidak ingin berlama-lama di tempat tidurnya karena dia tidak enak dengan Ibunya.
" Gayatri, kamu sudah bangun nak ?" tanya Luh Ani seraya menatap putrinya yang baru saja keluar dari kamarnya. Sedangkan pandangan mata Gayatri tertuju ke arah Gandi yang sedang mengobrol dengan Kakek Parjo dan Wayan Rasta. Gandi juga mencuri-curi pandang ke arah Gayatri.
__ADS_1
Luh Ani yang sedang berdiri di depan putrinya langsung menyadari pandangan mata Gayatri
" Maaf,Bu. Hari ini aku bangun kesiangan," ujar Gayatri seraya mengalihkan pandangannya ke arah Ibunya.
" Gandi datang ke kemarin malam saat kamu sudah tidur. Lebih baik sekarang kamu makan dulu ya ?"
" Iya,Bu," sahut Gayatri yang langsung pergi ke dapur.
Ketika Gayatri sedang makan, tiba-tiba Gandi datang dan menghapirinya. Dia duduk di samping gadis itu.
" Gayatri, bagaimana keadaanmu ? " tanya Gandi seraya menatap dengan intens wajah wanita yang dia cintai.
" Keadaanku baik-baik saja. Oh iya , kata Ibu kamu datang kemarin malam, tapi kenapa aku tidak tahu ?"
" Kemarin malam saat aku datang kamu tidurnya nyenyak sekali. Bahkan aku sudah berkali-kali membangunkanmu tapi kamu tidak bangun juga. Bahkan aku sampai membangunkan Bapak karena khawatir melihatmu yang tidak mau bangun,
"Masa sih ? " tanya Gayatri dengan mata membulat. Dia sungguh tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Gandi.
Mata Gayatri langsung terbelalak lebar mendengar semua cerita dari Gandi.
" Berarti sekarang Nenek Tari sudah tidak bisa di tolong lagi ?" tanya Gayatri seraya menaikkan sebelah alisnya.
" Ya , benar. Tapi kita tidak boleh ke sana dulu. Kita tunggu telepon dari mereka," terang Gandi seraya menggenggam tangan Gayatri.
Tiba-tiba saja Lio datang dan berdiri di depan Gandi.
" Gandi, Kakek sudah pulang . Sekarang dia ingin bicara penting denganmu," ujar Lio seraya menatap Gandi dengan wajah yang panik.
" Ka_kakek sudah pulang ? Ka_kapan Kakek pulang?" tanya Gandi dengan gugup. Perasaan takut langsung muncul dari dalam hatinya. Dia takut berpisah dengan Gayatri.
" Kakek pulang saat kamu baru saja meninggalkan istana. Lebih baik sekarang kamu temui Kakek dulu," terang Lio
" Gayatri, aku mau pulang dulu ya ? Aku sangat menyayangimu, aku sangat mencintaimu, " ujar Gandi seraya menatap wajah Gayatri yang berubah cemberut. Dia mengecup kening Gayatri dengan lembut.
__ADS_1
" Iya ," jawab Gayatri dengan singkat. Entah kenapa perasaan gadis itu tiba-tiba saja tidak enak.
Sebenarnya dia tidak ingin Gandi pergi, tapi dia juga tidak mungkin melarang Gandi pergi.
Gandi lalu berpamitan dengan orang tua Gayatri dan juga Kakek Neneknya .
" Gayatri, kenapa malah melamun ? " tanya Ibunya seraya duduk di samping putrinya.
" Tidak apa-apa kok, Bu ," sahut Gayatri seraya memalingkan wajahnya.
" Tidak usah berbohong sama Ibu. Sudah kelihatan di wajahmu. Kamu sedih karena Gandi pergi ? " tanya Ibunya seraya menyentuh bahu Gayatri.
" Iya,Bu. Aku hanya sedih karena Gandi pergi lagi. Padahal dia baru saja datang," ucap Gayatri menunduk.
"Sabar ya nak ? Gandi tidak akan pernah meninggalkanmu jika dia tidak ada urusan penting. Saat ini di kerajaannya sedang ada masalah. Dan Gandi sangat bingung menghadapinya," terang Luh Ani
" Masalah ? Apa Ibu tahu masalah apa yang sedang di hadapi oleh Gandi ?" tanya Gayatri seraya menatap dengan tajam wajah Ibunya.
Luh Ani terdiam cukup lama. Dia ingin menceritakan semuanya , tapi dia kasihan dengan putrinya. Dia yakin kalau Gayatri pasti akan sedih setelah mendengar semuanya.
" Ibu ? Kenapa Ibu malah diam saja ? " tanya Gayatri seraya menyentuh tangan Ibunya.
Sebelum menjawab pertanyaan Gayatri ,Ibunya menghela nafas panjang. Dia lalu menceritakan semuanya pada Gayatri.
Mata Gayatri terbelalak lebar mendengar semua cerita Ibunya. Air matanya langsung tumpah begitu saja. Luh Ani langsung memeluk putrinya itu.
" Pasti Kakeknya akan menyuruh Gandi untuk meninggalkanku. Aku pernah melihat wajah Kakeknya. Dia terlihat sangat menakutkan," ucap Gayatri seraya menangis terisak-isak.
" Sabar ya, nak. Apapun yang terjadi nantinya kamu harus sabar dan ikhlas," kata Luh Ani mengusap rambut putrinya.
" Iya nak. Kamu pasti bisa menghadapi semuanya ," ucap Wayan Rasta yang sedang berdiri di belakang istrinya.
Wayan Rasta terus berdoa agar Gandi dan Gayatri tidak berpisah. Walau Gandi makhluk Wong Samar tapi sifatnya sama seperti manusia pada umumnya. Walau Gandi dan Gayatri sudah menikah tapi mereka belum melakukan hubungan layaknya suami istri pada umumnya. Dia tahu semuanya karena Gandi sering curhat dengannya. Dia sering menggoda menantunya itu , tapi Gandi bilang kalau dia tidak memerlukan itu semua. Karena dia sudah cukup bahagia berada di dekat Gayatri.
__ADS_1