
Lio yang baru saja datang merasa bingung melihat Gandi dan Gayatri.
" Gandi, Gayatri ? Kenapa jam segini kalian belum tidur ? " tanya Lio
" Lalu kenapa jam segini kamu kesini ?" ujar Gandi bertanya balik pada Lio.
"Aku kesini karena ingin menyampaikan pesan dari Ibunda ," jawab Lio
" Pesan apa ? " tanya Gandi dengan alis mata terangkat
" Ibunda bilang kalau Ayahanda ingin menyakiti Kakek dan Nenekmu jika kamu tidak membawa Gayatri ke bangsa Wong Samar," ucap Lio
" Aku sudah tahu mengenai itu. Baru saja Ayahanda pergi dari sini," balas Gandi yang langsung duduk di samping Gayatri.
" Lalu sekarang bagaimana ? " tanya Lio.
" Aku juga bingung. Aku hanya merasa takut membawa Gayatri ke sana ," terang Gandi
" Takut kenapa ? " tanya Lio merasa bingung
" Aku takut Ayahanda memiliki rencana lain di balik permintaannya itu," ungkap Gandi
" Kamu memang benar . Kalau begitu biar aku yang menyelidiki semuanya," balas Lio sambil menepuk bahu Gandi.
Setelah Lio pergi, Gandi menyuruh Gayatri tidur, namun gadis itu tidak mau tidur .
" Gayatri , kenapa kamu tidak mau tidur ? Apa kamu tidak mengantuk ? " tanya Gandi
" Aku takut tidur," jawab Gayatri dengan bibir mengerucut.
" Kenapa takut ? " tanya Gandi sambil menaikan sebelah alisnya.
" Saat ini gelangku tidak ada kekuatannya sama sekali, jadi kalau aku tidur pasti akan ada yang datang membunuhku," terang Gayatri dengan cemberut .
" Tenang saja , biar aku yang melindungimu. Aku tidak akan tidur malam ini," ucap Gandi
" Tapi kamu pasti mengantuk,"
" Aku tidak mengantuk kok, kan tadi sudah dapat tidur ," jawab Gandi sambil tersenyum
__ADS_1
" Baiklah kalau begitu. Jika nanti kamu mengantuk, tolong bangunkan aku ya ?"
" Ya , tenang saja." Balas Gandi
Beberapa jam kemudian Gayatri telah tidur begitu lelap . Gandi hanya tersenyum menantap wajah Gayatri , hingga dia tidak sadar kalau Lio sudah datang dan berdiri di sampingnya.
" Gandi ? " Lio menyentuh bahu Gandi.
" Kapan kamu datang? " tanya Gandi terlihat bingung.
" Aku sudah dari tadi berdiri di sini. Sampai segitunya menatap Gayatri. Apa kamu mencintai Gayatri ? " ujar Lio
" Tidak kok, " jawab Gandi sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
" Tidak usah bohong deh. Aku tahu kamu mencintai Gayatri. Tadi saja senyum-senyum sendiri saat menatap wajah Gayatri," terang Lio
" Hmm, kamu memang benar. Aku memang sangat mencintainya . Perasaanku ini sudah ada sejak kami masih kecil," ungkap Gandi menunduk
" Kenapa kamu tidak mengungkapkan perasaanmu itu pada Gayatri ? " tanya Lio sambil menaikan sebelah alisnya.
"Aku tidak akan mengungkapkan perasaanku ini. Aku akan menyimpannya hingga selamanya."
" Kita ini berbeda alam . Orang tua Gayatri pasti tidak setuju jika putrinya menikah dengan bangsa Wong Samar ( bangsa Jin ). Kalau Gayatri hidup di bangsa kita maka hidupnya mungkin tidak akan lama lagi ,karena di bangsa kita banyak yang menginginkan darahnya," tutur Gandi menunduk.
" Kamu memang benar. Oh iya, aku sudah menyelidiki semuanya," terang Lio.
" Lalu bagaimana ? " tanya Gandi merasa penasaran.
" Ayahanda memang tidak merencanakan apapun. Dia memang hanya ingin memperkenalkan Gayatri pada keluarga besar kita," ungkap Lio
" Baiklah kalau begitu. Aku akan coba bicara sama Gayatri. Mudah-mudahan dia mau pergi ke bangsa Wong Samar ( bangsa Jin )," balas Gandi sambil menatap Gayatri
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Besok paginya
Saat ini Nenek Tari mengajak Gayatri berbelanja ke Pasar .
"Nenek, lihat di sana ada bule ," ucap Gayatri sambil menunjuk ke arah seorang wanita yang berkulit putih,dan berambut coklat emas.
__ADS_1
" Gayatri, gadis itu bukan bule. Dia adalah anak keturunan Wong Samar ( bangsa Jin ) , " terang Nenek Tari sambil memilih-milih ikan
" Hah ? Kok bisa ada keturunan bangsa Wong Samar di sini ? tanya Gayatri sambil mengerutkan alisnya karena merasa bingung.
" Iya bisa dong . Di dekat sini ada sepasang suami istri bernama Ibu Luh Rahayu dan Pak Nyoman Andi. Pak Nyoman Andi setiap hari pergi ke Sawah. Suatu hari suaminya pergi mengairi Sawah malam hari, dan Ibu Luh Rahayu tinggal di rumah sendirian. Tiba-tiba ada seorang Wong Samar ( Jin ) menyamar menjadi Pak Nyoman Andi. Waktu itu Ibu Luh Rahayu merasa bingung , karena suaminya cepat sekali pulang . Dia juga langsung bertanya , kenapa cepat sekali pulang, lalu Wong Samar yang sedang menyamar itu bilang kalau dia sudah menyuruh temannya yang ada di sebelah untuk mengairi sawahnya. Ibu Luh Rahayu langsung percaya dengan ucapannya . Kemudian Wong Samar itu mengajak Ibu Luh Rahayu berhubungan intim , dan Ibu Luh Rahayu mau saja , karena dia mengira kalau itu adalah suaminya sendiri," tutur Nenek Tari
" Lalu Nek ? "
" Ketika dia sudah tidur , tiba- tiba ada yang mengetuk pintu rumahnya. Lalu dia keluar membuka pintu, namun dia begitu terkejut karena yang mengetuk pintu rumahnya adalah Pak Nyoman Andi. Melihat hal itu ,Ibu Luh Rahayu langsung bertanya pada suaminya kenapa bisa ada di luar, dan suaminya bilang kalau dia baru saja selesai mengairi Sawah. Melihat hal itu , Ibu Luh Rahayu semakin bingung . Dia kemudian menceritakan semuanya pada Pak Nyoman Andi . Besoknya mereka bertanya dengan seorang Jro Balian ( Dukun ) mengenai yang mereka alami kemarin malam. Jro Balian ( Dukun ) bilang kalau kemarin ada Wong Samar( Jin ) menyamar menjadi Pak Nyoman Andi ," tutur Nenek Tari sambil berjalan menuju ke rumahnya.
" Apakah Pak Nyoman Andi marah dengan istrinya, Nek ? Soalnya istrinya berhubungan intim dengan Wong Samar," ujar Gayatri
" Tidak kok . Dia tidak marah sama sekali . Bagi Pak Nyoman Andi, itu bukan kesalahan istrinya. Lalu ketika dia hamil , Ibu Luh Rahayu mengira kalau dia hamil anak suaminya. Begitu juga dengan suaminya, dia berpikir kalau istrinya mengandung anaknya. Tapi setelah bayi itu lahir semuanya terkejut melihat bayi itu , begitu juga dengan tetangganya. Beruntung suaminya Ibu Luh Rahayu bisa menerima anak itu,"
" Nek , apakah anak itu tahu kalau Ayahnya seorang Wong Samar ? " ujar Gayatri merasa penasaran
" Tentu dia tahu,karena Ibu Luh Rahayu sudah menceritakan semuanya pada putrinya itu. Pernah putrinya itu sakit keras , dan Ayah kandungnya lalu datang membawakan obat," balas Nenek Tari
" Wah , ternyata dia peduli juga dengan putrinya."
" Tentu dia peduli, karena itu darah dagingnya sendiri. Ya sudah , kalau begitu sekarang Nenek mau ke dapur dulu ya ? " ujur Nenek Tari yang langsung membawa belanjaan tadi ke dapur.
" Iya ,Nek," jawab Gayatri
"Gandi, apakah yang dikatakan Nenek Tari benar ? " tanya Gayatri sambil duduk di samping Gandi.
" Benar kok,bahkan ada yang menikah dengan Wong Samar, " sahut Gandi
" Maksudmu aku ? " tanya Gayatri sambil menunjuk dirinya sendiri
" Bukan hanya kita , tapi ada lagi orang selain kita ,"
" Oh, aku kira hanya aku yang memiliki suami Wong Samar ," balas Gayatri
" Berarti kamu menganggapku suamimu ? " tanya Gandi sambil menatap Gayatri
" Kan kamu sendiri yang bilang kalau kita sudah menikah. Kalau kita sudah menikah berarti kamu adalah suamiku. Kakek Parjo juga bilang begitu. Memangnya kenapa sih ? "
" Tidak apa-apa kok," sahut Gandi
__ADS_1