
Di rumah Wayan Rasta.
" Gayatri , hari ini Ayahku akan pergi selama beberapa hari mengunjungi temannya , dan aku hari ini berniat ingin membawa Ibuku ke rumah Kakek dan Nenek," tutur Gandi
" Lalu apa Ibumu mau ? "
"Awalnya dia tidak mau , alasannya karena dia takut kalau Ayah nanti tahu semuanya, tapi aku memaksanya hingga dia setuju," balas Gandi
" Pasti Kakek dan Nenekmu akan sangat senang," kata Gayatri sambil tersenyum
" Itu pasti, apalagi mereka sudah lama tidak bertemu ," sahut Gandi.
" Iya sudah, kalau begitu aku pergi ke Sekolah dulu. Nanti setelah aku pulang dari Sekolah, tolong ceritakan lagi semuanya ya!" kata Gayatri
" Ya ,baiklah." Jawab Gandi dan setelah itu dia langsung menghilang.
Setelah Gayatri ke Sekolah, Luh Ani menghampiri suaminya.
" Pak, bagaimana dengan upacara penebusannya Gayatri ? Bulan depan kita seharusnya membeli banten penebusan untuk Gayatri dan Jro Balian ( dukun ) juga sudah mengingatkan hal itu pada kita dulu." Kata Luh Ani terlihat cemas
" Uangku sudah habis semua,Bu. Semuanya sudah habis aku gunakan untuk membeli banten saat upacara kematian Gayatri kemarin. Dan banten itu juga terbuang sia-sia karena putri kita hidup kembali. Sekarang aku bingung bagaimana mencari uang," balas Wayan Rasta terlihat Frustasi.
" Putri kita itu adalah seorang gadis Melik. Dia juga seorang gadis Melik yang paling tinggi dari yang lain.Jadi dia harus melakukan penebusan dengan sebuah banten dan kita baru melakukannya sekali. Menurut kata Jro Balian( dukun) Gayatri harus di tebus dengan sebuah banten hingga 3 kali, kalau tidak putri kita akan meninggal , dan jika Gayatri meninggal sebelum melakukan penebusan banten hingga tuntas ,maka rohnya akan gentayangan karena tidak di terima oleh para Dewa. Makanya kemarin Gayatri hidup lagi ,dan itu karena dia belum selesai melakukan penebusan banten. Aku tidak ingin putriku seperti itu ,Pak." Kata Luh Ani terlihat sedih
" Aku juga saat ini sedang memikirkan itu, dan bulan depan adalah waktunya Gayatri untuk melakukan penebusan banten. Sedangkan saat ini uangku sudah habis , dan Ayahku juga saat ini sedang sakit, " tutur Wayan Rasta yang terlihat sangat bingung.
" Lalu sekarang kita harus bagaimana , Pak ? " tanya Luh Ani
" Aku juga bingung ,Bu. Kalau kita menjual kebun untuk biaya Gayatri lalu besok-besok kita mendapatkan uang untuk makan dari mana ? Karena sumber penghasilan kita dari kebun itu." Balas Wayan Rasta.
" Apa aku coba bertanya dengan orang tuaku ? Siapa tahu mereka memiliki uang , kalau punya kita bisa meminjamnya dulu pada mereka," ujar Luh Ani lagi
__ADS_1
" Jangan Bu, hidup mereka sudah susah dan kita juga tidak bisa membantunya , kalau kita memberitahu masalah ini takutnya mereka kepikiran pada kita dan terutama pada Gayatri,"
"Bapak benar, " sahut Luh Ani
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Di Kerajaan Wong Samar ( bangsa Jin )
Hari ini Gandi akan mengajak Ibunya pergi ke alam manusia untuk bertemu dengan Kakek dan Neneknya.
" Gandi, Ibunda takut Nak ." Kata Ibunya terlihat cemas
" Ayahanda sedang pergi, jadi dia tidak akan tahu. Ibunda tidak usah takut, karena aku akan melindungi Ibunda," Gandi melakukan itu karena dia sudah berjanji dengan Kakek dan Neneknya.
Mereka pergi secara diam-diam dan bahkan tanpa sepengetahuan para pengawal .
Setelah sampai di depan rumah Kakek dan Neneknya Ibunya terdiam begitu lama memperhatikan semuanya.
" Semuanya masih sama," ucap Kadek Ayu sambil meneteskan air matanya. Dia menangis menatap semuanya,dia menangis karena mengingat kenangan dirinya bersama orang tuanya.
" Kamu duluan saja, Ibunda ingin melihat-lihat halaman rumah ini." Jawab Kadek Ayu.
Gandi lalu mengetuk pintu rumah itu. Dia sengaja tidak langsung masuk karena jika dia langsung masuk maka Kakek dan Neneknya pasti akan kaget dengan kedatangannya yang secara tiba-tiba.
Neneknya langsung membuka pintu rumahnya.
" Gandi,kenapa tidak langsung masuk saja ? Kamu kan sudah sering kemari," kata Neneknya sambil menggelengkan kepalanya
" Kalau aku datang secara tiba-tiba, maka kalian pasti akan sangat terkejut seperti kemarin. Bukankah kalian sendiri yang menyuruhku agar mengetuk pintu dulu ? " tanya Gandi sambil menatap mereka
" Oh iya ,Kakek lupa. Kalau begitu duduklah di samping Kakek ! " panggil Kakeknya dan Gandi langsung menuruti.
__ADS_1
" Aku kemari ingin memberikan kejutan untuk kalian," sahut Gandi tersenyum
" Kejutan apa ? Pasti kamu mau mengerjai Kakek dan Nenekmu lagi, " jawab Kakeknya pura-pura cemberut
" Tidak Kek, kali ini aku serius. Lebih baik kalian lihat sendiri di depan rumah , karena kejutannya ada di depan rumah ," ucap Gandi tersenyum
Kakek dan Neneknya saling pandang untuk beberapa menit dan setelah itu menatap cucunya lagi.
" Baiklah, kami akan kesana. Tapi awas saja kalau kamu membohongi kami," jawab Kakeknya.
Mereka lalu menuju ke halaman rumahnya.
" Gandi, mana kejutannya ? Kamu mengerjai Kakek lagi ?"tanya Kakeknya karena belum melihat dengan jelas.
Sedangkan mata Nenek Gandi sudah berkaca-kaca menatap Kadek Ayu yang lagi melihat-lihat halaman rumahnya yang dulu di jadikan tempat bermain olehnya .
" Pak , lihatlah itu ! " ucap Nenek Gandi sambil menunjuk ke arah Kadek Ayu dengan air mata yang sudah menetes. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan putrinya.
Suaminya langsung melihat ke arah yang di maksud oleh istrinya.
" I-itu bukannya Kadek Ayu ,Bu ?"tanya Suaminya dengan mata berkaca-kaca
Kadek Ayu belum menyadari kehadiran kedua orang tuanya yang ada di belakangnya. Ibu Kadek Ayu sudah meneteskan air mata melihat putrinya.
" Kadek Ayu ? " panggil Bapaknya sambil berusaha menahan air matanya.
Kadek Ayu langsung menoleh ke belakang.
" Ibu , Bapak, " ucap Kadek Ayu yang langsung menghampiri kedua orang tuanya. Dia langsung berlutut di kaki kedua orang tuanya
" Maafkan aku ,Pak ,Bu." Kata Kadek Ayu yang menangis terisak-isak.
__ADS_1
" Bangunlah Nak, kamu tidak salah apa-apa, dan kami juga tidak pernah marah denganmu. Seandainya Raja Wong Samar ( raja Jin ) tidak menolongmu waktu itu, maka hari ini kita tidak mungkin bisa bertemu seperti ini," sahut Bapaknya yang sudah meneteskan air mata.
Mereka lalu mengajak Kadek Ayu masuk ke dalam. Gandi yang melihat senyum di Kakek dan Neneknya langsung ikut tersenyum.