MELIK

MELIK
Pura Langgar


__ADS_3

Sore hari keluarga Wayan Rasta dan mertuanya sedang duduk di depan rumahnya. Mereka baru saja selesai membersihkan taman yang ada di depan rumah Kakek Surya.


" Wayan Rasta ? Lalu bagaimana ? Apakah pepasangan yang di tanam di rumahmu sudah di keluarkan oleh Jro Balian ( dukun ) ?" tanya Kakek Surya seraya menatap Wayan Rasta.


" Sudah, Pak. Besok pagi akan saya buatkan upacara pembersihan agar terhindar dari hal-hal negatif," ucap Wayan rasa menjelaskan.


" Untung Gayatri mengetahui semuanya duluan, kalau tidak mungkin kita sudah jatuh sakit," ungkap Luh Ani seraya menatap Gayatri.


" Aku tidak tahu apa-apa ,Bu. Tuhan yang memberi kita petunjuk melalui aku," balas Gayatri.


" Tapi kita harus tetap berhati-hati. Siapa tahu Nenek Tari mempunyai rencana lain lagi," ucap kakek Surya.


" Kakek, benarkah di Bali ada Mushalla di dalam Pura ?"tanya Gayatri dengan wajah penasaran.



" Iya benar , lokasinya di Desa Bunutin Taman Bali, Kabupaten Bangli," jawab Kakek Surya


" Aku baru tahu kalau ada Mushalla di dalam Pura," sahut Luh Ani tampak terkejut.


__ADS_1


"Bagaimana ceritanya ,Kek ? Kok bisa ada Mushalla di dalam Pura ? " tanya Gayatri dengan alis mata terangkat.


" Mushalla di dalam Pura , mungkin bagi kita yang belum pernah mendengar atau melihat Mushalla di dalam Pura merasa janggal. Artinya agak aneh jika ada tempat ibadah umat Islam berada di dalam tempat sembahyangnya umat Hindu. Di Bali ada Mushalla di dalam Pura yang dikenal dengan Pura Langgar. Mungkin dari sederetan Pura yang ada di Bali, dikatakan hanya ada sebuah Pura di Kabupaten Bangli yang di dalamnya menyediakan tempat ibadah umat muslim," terang Kakek Surya menjelaskan.


" Kenapa Pura itu disebut dengan Pura Langgar ?" tanya Wayan Rasta yang juga baru mengetahuinya.


" Pura ini disebut dengan Pura Langgar , karena kata Pura dimaksud sebagai tempat persembahyangan bagi umat Hindu di Bali, sedangkan Langgar dimaksudkan sebagai tempat ibadah bagi umat muslim. Pura ini sudah ada sekitar ratusan tahun yang lalu. Perpaduan dan keharmonisan kedua umat dapat dilihat tatkala hari upacara persembahyangan bagi umat Hindu di Bali yang bertepatan dengan Hari Besar Islam atau jatuh pada hari Jumat. Orang Islam berjamaah shalat Juma'at di Langkar di areal dalam Pura, dan orang Hindu juga melaksanakan persembahyangan Purnama. Menurut sejarahnya,Pura Langgar ini memang dibangun oleh Dalem Dewa Agung Willis yang merupakan Raja Kerajaan Bunutin di Bangli.Begitu menurut cerita Ida I Dewa Ketut Gede atau juga di sebut Anak Agung Ketut Gede. Dia adalah seorang tokoh Agama Hindu yang merupakan keturunan Raja Kerajaan Bunutin. Sang Raja memiliki dua istri. Yang pertama memiliki dua putra dan istri kedua memiliki tiga putra. Suatu ketika, putra pertama dari istri pertama yang bernama I Dewa Agung Mas Blambangan menderita penyakit aneh yang sulit disembuhkan. Usianya masih remaja. Namun sakitnya cukup sulit, sehingga tabib-tabib yang diutusnya untuk mengobati semua menyerah. Hingga akhirnya seorang tokoh agama Hindu mendapatkan wangsit dalam persemediannya. Wangsitnya cukup jelas, mengarahkan sang Raja untuk membangun Langgar ( Mushalla kecil ). Awalnya mereka tidak memahami apa yang dimaksud dengan Langgar . Namun setelah bertanya-tanya, didapatkan informasi bahwa yang dimaksud dengan Langgar adalah tempat ibadah umat Islam. Maka dipanggillah seorang ahli dari Blambangan ( Banyuwangi ) untuk membangun Langgar. Dan benar saja, entah bagaimana setelah pembangunan Langgar itu, penyakit yang diderita oleh putra pertama Raja pun berangsur sirna," tutur Kakek Surya


" Lalu apa yang terjadi selanjutnya ? " tanya Gayatri semakin penasaran.


" Kesembuhan sang Kakak membuat putra kedua Raja dari istri pertama pun penasaran. Apa gerangan yang terjadi dengan kakaknya, dan apa hubungannya dengan Langgar ? Kira-kira demikian rasa penasaran yang menggelayuti pikiran putra kedua Raja yaitu I Dewa Agung Mas Bunutin. Maka ia segera memohon izin kepada Ayahnya untuk pergi ke Blambangan. Awalnya Sang Ayah berat untuk mengizinkannya , namun setelah sekian kali memohon izin, akhirnya dibolehkan juga. Sayangnya hal inilah yang menjadi kedukaan bagi sang Raja, sebab I Dewa Agung Mas Bunutin tidak pernah kembali sejak kepergiannya. Bahkan saat dicari oleh para punggawa kerajaan ke Blambangan pun tidak ditemukan. Sementara itu, tiga putra Raja dari istri kedua justru tidak menyukai pembangunan Langgar tersebut. Untuk menghilangkan terlalu men-sakral-kan Langgar, maka masing-masing dari ketiganya membangun Pura sisi-sisi Langgar. Inilah yang menjadi penyebab disebutnya Pura Langgar. Langgar itu hingga kini masih terawat. Ia memiliki nilai sejarah yang sangat berharga dalam perjalanan kerajaan Bunutin di Bangli. Tentu kesembuhan putra pertama Raja itu adalah atas kehendak Tuhan. Namun, sejarah ini kiranya dapat menjadi entry point untuk menjelaskan tentang fungsi Langgar bagi umat Islam."


" Keberadaan Pura Langgar ini contoh nyata toleransi yang sangat baik tercipta antara umat Hindu dan Muslim di Bali. Pura Langgar ini menjadi contoh toleransi, baik beragama kehidupan sosial, sehingga kita bisa melaksanakan dengan baik dan juga bermasyarakat dengan baik," ujar Kakek Surya.


" Kalau begitu kapan-kapan kita harus pergi ke sana," sahut Wayan Rasta.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Di rumah Nenek Tari.


" Ibu, bagaimana Bu ? Apa Bli Wayan sudah kembali ke rumahnya ? " tanya Ketut Erni dengan wajah penasaran.

__ADS_1


" Rencana kita gagal semua. Mereka tidak jadi kembali ke rumahnya," ungkap Ibu Tari dengan wajah berapi-api. Dia merasa bingung dengan rencananya yang terus gagal.


" Apa ? Kenapa bisa begitu, Bu ? Apakah ada yang melihat Ibu saat menanam pepasangan itu , lalu memberitahu Bli Wayan ? " tanya Ketut Erni dengan bingung.


" Tidak ada yang melihat ibu saat menanam pepasangan itu , karena Ibu sudah menggunakan Ilmu Sesirep,"ungkap Ibu Tari menjelaskan.


" Lalu kenapa semua rencana kita bisa gagal ? " tanya Ketut Erni dengan wajah yang merah padam.


" Ibu juga tidak tahu . Besok Ibu akan bertanya pada Nenekmu dan sekalian Ibu ingin mencari rencana lain untuk menyakiti keluarga Wayan Rasta," terang Ibu Tari


" Ibu , jangan-jangan suami Gayatri yang menggagalkan semua rencana kita ? " tanya Ketut Erni sambil menatap wajah Ibunya.


" Ibu juga sempat berpikir ke sana,"


" Kalau dugaan kita benar , berarti kita tidak akan pernah bisa menyakiti keluarga Bli Wayan. Lalu kita harus bagaimana ,Bu ? Aku rasanya takut sekali ," ujar Ketut Erni dengan wajah pucat.


" Dan yang Ibu dengar , Wayan Rasta sudah menerima pernikahan Gayatri dengan putra Raja Wong Samar ( Raja Jin ) . Setelah Gayatri lulus SMA , mereka juga ingin membuat upacara agar pernikahan Gandi dan Gayatri semakin sempurna," tutur Ibunya


" Kalau begitu aku jadi semakin takut ,Bu. Pasti orang lain akan bertanya macam-macam dan lalu Bli Wayan mengatakan semuanya pada orang lain mengenai kita yang sebagai penekun Ilmu Leak," kata Ketut Erni dengan wajah yang terlihat semakin takut.


" Iya kamu memang benar. Kali ini Ibu juga merasa takut," sahut Ibu Tari.

__ADS_1


__ADS_2