
Tubuh Bayu mulai menghilang ditelan kegelapan di alam Timbul yang yang jahat. Dia sudah masuk terlalu dalam hingga sulit mengenali siapa dirinya sendiri. Jika anak itu terlalu lama berada di dimensi alam lain, maka dia akan sulit kembali ke alam manusia.
Jero Mangku Sakti terus mengikuti jejak Bayu di alam bawah. Jero Mangku Sakti sedikit menyadari mungkin ikatan anak itu sudah kuat sehingga jiwanya rela diajak ke sini. Pria yang akrab di sapa Mangku ini terus mengamati dari kejauhan. Dengan mata batin dan jiwa yang sudah bisa menebus berbagai dimensi alam yang ada, memang tidak sulit bagi Mangku untuk menemukan persembunyiannya.
"Aku harus membawa jiwa anak itu kembali, kalau tidak dia tidak akan bisa kembali ke dunia", kata Jero Mangku dalam benaknya.
Sementara di dunia nyata, Suda masih memegangi tubuh Bayu sembari menidurkannya di ranjang. Terlihat tubuh fisik Jero Mangku masih duduk bersila dan memejamkan matanya. Marni yang kakinya sudah membaik mencoba berjalan mendekati suaminya, dia ikut duduk mengawasi tubuh anaknya yang masih tergolek lemas.
Di depan rumah, Timbul tidak langsung masuk. Dia mengawasi sekitar rumahnya dan merasakan kalau ada yang mengikuti dari belakang. Matanya melihat ke kanan dan ke kiri lalu mencoba menoleh ke belakang.
"Hai, siapa di sana? Cepat keluar, aku tahu kau mengikuti kami dari tadi", seru Timbul dengan nada yang keras yang menandakan dia marah.
Menyadari kehadirannya di ketahui oleh Timbul, Jero Mangku Sakti keluar dari persembunyiannya dan memperlihatkan sosok saktinya di alam halus. Jero Mangku Sakti keluar diapit oleh pengawalnya halus serta dengan pusaka keris sakti.
"Hai, Timbul lepaskan anak itu baik-baik, kasian dia dan orang tuanya", kata Jero Mangku Sakti sedikit memohon kepada Timbul.
Namun muka timbul mengeluarkan ekspresi yang sedikit tidak mengenakkan. Dia berniat mengadu kesaktian dengan Jero Mangku Sakti.
"Apa melepaskan anak ini? Tidak akan aku lakukan, anak ini telah memilih jalannya", kata Timbul bersikeras tidak mau menuruti kata Jero Mangku, bahkan dia berkacak pinggang dengan menantang pria rambut panjang itu.
__ADS_1
Mendengar kata-kata Timbul yang seperti itu, Jero Mangku sedikit naik darah dan mencabut keris pusakanya. Namun melihat keselamatan Bayu adalah yang utama, maka dia masih ingin bernegosiasi.
"Tidak ada hal yang seperti itu, dunia kalian berbeda. Bayu lahir sebagai manusia dan dia akan hidup di alam manusia, sadarilah itu Timbul", kata Jero Mangku memperingati Timbul yang masih ngeyel dengan pendiriannya.
Timbul tidak mau kalah dalam menjawab dan menyanggah semua pernyataan yang di sampaikan Jero Mangku.
"Hai Mangku, Bayu adalah temanku. Dia sudah sepakat akan terus bermain di sini bersamaku. Apa hakmu melarang kami berteman? Kau tidak mengerti perasaan kami", ujar membela diri tanpa mau mendengarkan kata-kata Jero Mangku.
Suasana semakin memanas dan saling adu argument. Bayu hanya bisa melongo bengong tanpa kata sepatah pun. Yang dia tahu hanya bisa bermain dan menghabiskan waktu bersama Timbul. Tapi dia sadar hal itu akan sulit dengan kehadiran Jero Mangku yang akan memisahkan.
Timbul memegang Bayu erat dan memberinya sedikit ruang untuk bergerak. Dari dalam hatinya dia tidak ingin kehilangan seorang teman dan sadar kalau dunia mereka berbeda. Namun Bayu adalah anak spesial yang memiliki kelebihan khusus yang tidak di miliki oleh orang lain.
Beberapa kali mata Timbul melirik Bayu dan memandangnya penuh kasih sayang. Seperti sebuah keluarga yang sudah tidak bisa di pisahkan lagi, Timbul memeluk erat menghindar dari terkaman Jero Mangku.
Sabetan demi sabetan terus dilancarkan oleh Jero Mangku Sakti hingga menimbulkan beberapa luka tebas di tubuh Timbul. Beberapa taring dan kuku juga ikut rontok bersamaan dengan terjungkalnya tubuh tambun itu di semak-semak.
"Hentikan Jero, hentikan. Aku menyerah, aku menyerah", ujar Timbul sambil melepaskan pelukannya.
Timbul mengerang kesakitan dengan darah yang terus mengucur dari dalam lukanya. Matanya terus memandangi Bayu. Dia meneteskan air matanya sama seperti manusia yang kehilangan sesuatu yang dicintainya.
Bayu bengong sambil memikirkan sesuatu di dalam otaknya. Di satu sisi dia ingin kembali ke orang tuanya, tapi disisi lain dia tidak mau melihat timbul menderita. Hal itu membuat anak kecil itu mulai menangis melihat dirinya yang tak sanggup mengungkapkan isi hatinya kepada Timbul. Tubuhnya meronta ingin melawan kekejaman namun dia begitu naif tak mampu berbuat banyak.
__ADS_1
Sekitar lima meter dari Bayu, Timbul dengan wajahnya dan tubuh yang bonyok berusaha bangkit dan mendekat. Dari luka dan mulutnya masih menetes darah segar yang menyayat hati.
"Bayu, jangan pergi lagi, aku...aku...", Timbul ambruk lagi karena tak kuat berdiri dengan tubuh menggigil seperti itu.
Timbul berusaha memastikan Bayu tak meninggalkannya, namun matanya mulai berkunang-kunang membuat kepalanya pusing. Melihat kejadian itu, Bayu berlari mendekati Timbul.
Jero Mangku yang sedari tadi masih siaga penuh melesat ke depan. Tangannya meraih dengan cepat tubuh mungil yang mulai melemah itu.
"Sudah Bayu, kita pulang sekarang. Jangan ke sini lagi", kata Jero Mangku memberi nasihat kepada Bayu.
Tubuh kecil itu tak mampu meronta di bekap dengan kuat oleh Jero Mangku. Pria itu menggendong dan segera kabur dari alam dimensi rumahnya Timbul.
Mendekati subuh, sekitar pukul 04:00 pagi, Jero Mangku Sakti membuka matanya diikuti oleh Bayu yang sudah siuman. Tubuh Bayu yang masih lemas berusaha memeluk ibu dan ayahnya sembari menangis. Mereka bertiga akhirnya berpelukan satu sama lainnya, dan mengucap syukur kepada Sang Maha Pencipta karena Bayu selamat dan bisa berkumpul lagi dalam keluarga.
Jero Mangku Sakti ikut tersenyum bahagia melihat keluarga yang dia tolong bisa selamat dari ancaman makhluk gaib. Namun berbeda dengan Bayu, anak itu masih sangat terlihat sedih. Dari raut mukanya, dia terlihat masih memikirkan keadaan Timbul yang sekarat akibat serangan Jero Mangku Sakti. Anak itu nampaknya memendam perasaanya dan tidak berani memberi tahu siapa pun.
Setelah fajar mulai bersinar, Jero Mangku kembali memperingatkan akan ancaman kepada Bayu dan keluarganya. Dia masih belum persis apa penyebabnya.
"Suda, Marni kalian harus benar-benar menjaga anak kalian ini, dia spesial karena lahir memiliki kelebihan. Untuk keselamatannya aku akan melakukan sesuatu", kata Jero Mangku seraya berkemas akan pulang ke rumahnya.
"Baik Jero, nanti siang kami akan ke sana, ke rumah Jero", jawab Marni sambil mengantar kepergian Jero Mangku Sakti.
__ADS_1
Setelah kepergian Jero Mangku Sakti, Marni sibuk mempersiapkan segala kebutuhannya untuk nanti. Dari raut mukanya dia masih trauma dengan kejadian mistis tadi malam. Tak jauh beda dengan Suda yang terus menjaga Bayu yang tidur lelap di kamarnya.