MELIK

MELIK
Nenek Tari minta maaf


__ADS_3

Pagi-pagi sekali , Gayatri terlihat sibuk mencari sesuatu.


" Gayatri, kamu sedang cari apa nak?" tanya Ibunya seraya menatap Gayatri  yang terlihat begitu sibuk.


"Aku sedang mencari ponselku ,Bu ."


" Memangnya tadi di taruh di mana ? " tanya Luh Ani seraya menaikkan alisnya.


"Aku taruh di atas nakas, lalu aku tinggal mandi ," sahut Gayatri dengan wajah bingung.


" Coba kamu tanya Gandi, siapa tahu dia melihatnya,"ucap Ibunya yang ikut membantu Gayatri mencari ponselnya.


Tak berselang lama, Gandi datang bersama Bapaknya.


" Gandi, kamu dapat melihat ponselku tidak ? " tanya Gayatri sambil menatap Gandi


" Tadi aku lihat Rara yang mengambilnya. Coba kamu tanya pada dia," kata Gandi seraya duduk di sebelah Kakek Surya


" Kalau begitu biar Ibu yang memanggilnya," sahut Luh Ani yang kemudian menuju ke kamar Rara.


Beberapa menit kemudian Rara keluar dari kamarnya.


" Gandi , tadi Rara bilang dia tidak dapat mengambil ponsel Gayatri," ucap Luh Ani


"Tapi Rara beneran mengambilnya , karena aku melihatnya secara langsung . Ponsel itu saat ini di sembunyikan di dalam tas sekolahnya," ungkap Gandi seraya melirik Rara.


" Rara , kalau kamu berbohong , maka Ibu akan menghukum Rara," balas Luh Ani seraya menatap tajam ke arah Rara.


" Mana mungkin Ibu berani menghukum putri Ibu sendiri," sahut Rara yang kemudian duduk di samping Kakeknya.

__ADS_1


" Siapa bilang Ibu tidak berani ? Ibu berani menghukum putri Ibu kalau dia benar-benar salah. Ratu Shima saja berani menghukum putranya , masa Ibu tidak berani,"


" Siapa Ratu Shima ,Bu ? " tanya Gayatri seraya menaikkan sebelah alisnya.


" Ratu Shima adalah penguasa Kerajaan Kalingga yang terletak di pantai utara Jawa Tengah sekitar tahun 674 masehi. Dia adalah istri Raja Kartikeyasinga yang menjadi Raja Kalingga ( 648-674 ) masehi. Ketika suaminya meninggal, anak-anaknya yakni Narayana dan Parwati masih kecil, maka Sang Ratu naik tahta bergelar Sri Maharani Mahissasura Mardini Satyaputi Keswara. Dalam pemerintahannya, Shima terkenal legendaris yang menjunjung tinggi prinsip keadilan dan kebenaran dengan keras tanpa pandang bulu, sehingga dijuluki Dewi kejujuran. Dia menerapkan hukum tegas untuk memberantas pencurian dan kejahatan, serta mendorong agar rakyatnya senantiasa jujur. Dia menjantuhkan hukuman potong tangan kepada pencuri dan tidak segan-segan menjatuhkan hukuman mati kepada para pejabat kerajaan yang koruptor serta menyalahgunakan kekuasaan demi kepuasan sendiri, karena tindakan tersebut dianggap sebagai penghianatan terhadap kerajaan, selain itu pemimpin adalah contoh bagi rakyat, jadi dia harus menerima hukuman yang jauh lebih berat."


" Ngeri juga ya ,Bu ? " sahut Gayatri


" Kerajaan Kalingga terkenal jujur dan taat hukum terkenal sampai seantero Nusantara. Lalu didengar oleh seorang raja bernama Ta-Shih dari luar pulau Jawa. Dia lalu berniat menguji rumor tersebut dengan menempatkan sekantung keping emas di wilayah pasar. Tapi tidak seorangpun rakyat Kalingga yang berani mengambil maupun menyentuh kantung itu, hingga tiga tahun berlalu, Pangeran Narayana tidak sengaja menyentuh kantong emas itu dengan kakinya. Demi menjunjung hukum, Ratu Shima menjatuhkan hukuman untuk anak kesayangannya itu. Dewan menteri memohon agar Ratu mengampuni kesalahan putranya karena tidak disengaja. Namun, hukum tetap harus ditegakkan. Lantaran kaki Narayana yang menyentuh kantong emas itu , maka Ratu Shima menghukum memotong kaki sang putra mahkota. Ratu Shima memang kerap dicitrakan sebagai sosok pemimpin cenderung keras.'Shima' berarti ' Singa' dalam sansekerta . Kendati begitu , sang ratu sangat di cintai oleh rakyatnya. Baginya, rakyat bukanlah sekumpulan sapi betina yang di lepas untuk mencari rumput sendiri dan di perah susunya sebanyak mungkin demi kepuasan si pemilik," tutur Luh Ani seraya menatap Rara yang terus menunduk.


" Kasihan juga putranya Ratu Shima,Bu," ucap Gayatri.


Rara mendonggakkan kepalanya dan menatap Ibunya.


" Ibu, maafkan Rara. Memang aku yang sudah mengambil ponsel Kakak, soalnya aku ingin sekali memiliki ponsel seperti Kakak. Tolong ,maafkan aku Bu !" kata Rara yang kemudian menunduk karena tidak berani menatap wajah Ibunya.


" Rara , lain kali tidak boleh seperti itu lagi ya ? Jangan menggambil barang yang bukan milik Rara. Apa Rara mau di hukum sama Tuhan ? Kalau Tuhan yang menghukum, maka hukumannya jauh lebih berat dari hukuman yang di lakukan oleh Ratu Shima, " terang Luh Ani seraya menatap Rara dengan tajam.


" Rara, kalau kamu ingin menggunakan ponsel seharusnya bilang dulu sama Kakak. Kalau Kakak tidak menggunakannya , maka kamu boleh meminjam ponsel itu, tapi kamu harus menggunakan ponsel itu untuk belajar. Bagaimana , mau tidak ? " tanya Gayatri


" Iya,aku mau. Terima kasih Kak,"ucap Rara seraya tersenyum.


Sore harinya, Wayan Rasta dan keluarganya kembali ke rumahnya karena keadaan Kakek Surya sudah membaik. Rumah Wayan Rasta yang kemarin di isi Pepasangan oleh Nenek Tari juga sudah di bersihkan menggunakan upacara pembersihan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dua minggu kemudian...


Hari ini Nenek Tari sudah bersiap akan pergi ke rumah Wayan Rasta untuk minta maaf dengan putranya itu.

__ADS_1


" Kamu harus ingat apa yang Ibu katakan. Kalau sepulang dari rumah Wayan Rasta Ibu hanya diam saja , maka itu artinya rencana kita berhasil. Setelah Ibu minta maaf, jangan pernah membahas mengenai rencana itu, karena Ibu takut suami Gayatri kemari menyelidiki kita. Apalagi kita tidak bisa melihatnya," kata Ibunya


" Iya ,Bu . Aku mengerti," balas Ketut Erni yang kemudian pergi menuju ke kamarnya.


Semenjak suaminya pergi ke kota, Ketut Erni tinggal bersama Ibunya.


Setelah sampai di depan rumah Wayan Rasta , dia lalu mengetuk pintu rumah itu.


" Tok...tok...tok...om swastiastu," ucap Nenek Tari


" Om swastiasti, " pintu rumah itu lalu terbuka lebar. Tampak di sana sedang berdiri seorang gadis kecil. Wajah gadis itu begitu mirib dengan wajah almarhum Kakek Danar.


" Nenek ? " ucap Rara saat melihat Nenek Tari berdiri di depan pintu.


"Rara ? Cucu Nenek semakin cantik," kata Nenek Tari seraya menatap Rara.


" Ayo masuk ,Nek. " Rara mengajak Nenek Tari ke ruang tamu.


Wayan Rasta yang saat ini berada di dapur langsung menuju ke ruang tamu saat mendengar suara Ibunya.


Dia lalu meminta Rara pergi ke kamarnya , karena dia tidak ingin percakapannya di dengar oleh putrinya.


" Ibu, buat apa Ibu kemari ? " tanya Wayan Rasta seraya menatap tajam Ibunya. Dia masih sakit hati dengan apa yang Ibunya lakukan.


" Ibu kemari karena ingin minta maaf . Tolong, maafkan Ibu. Apa kamu tidak ingin memaafkan wanita yang telah melahirkanmu ? Ibu terpaksa belajar Ilmu Leak , karena tidak kuat dengan sikap Bapakmu. Kamu kan tahu sendiri bagaimana sikap Bapakmu dengan Ibu. Setiap hari dia selalu marah-marah pada Ibu. Rasanya hati Ibu sakit sekali setiap mendengar Bapakmu yang terus marah-marah pada Ibu. Awalnya Ibu takut belajar Ilmu Leak , tapi Nenekmu terus memaksa Ibu. Saat ini kamu juga memiliki anak perempuan , jika nanti anak perempuanmu di perlakukan oleh suaminya sama seperti Bapakmu memperlakukan Ibu. Lalu bagaimana perasaanmu ? " tanya Nenek Tari seraya menatap Wayan Rasta yang terus diam.


" Ibu janji akan menggunakan Ilmu Leak yang Ibu miliki saat ini untuk hal-hal yang baik." Ibu Tari ingin berlutut di depan putranya , namun Wayan Rasta langsung menghentikannya.


" Ibu , apa yang Ibu lakukan ? Ayo bangun ,Bu !"ucap Wayan Rasta yang kemudian membantu Ibunya berdiri.

__ADS_1


" Ibu tenang saja, aku sudah memaafkan Ibu ," ucap Wayan Rasta seraya menatap wajah Ibunya. Mana tega dia melihat Ibunya memohon seperti itu , apalagi dia adalah wanita yang sudah melahirkannya.


__ADS_2