MELIK

MELIK
Kedatangan Tante Riri


__ADS_3

Sampai kos aku mengecek ponselku lagi. Berharap Nonik membalas pesanku tadi. Namun ternyata tidak ada. Seharian ini aku bahkan tidak dapat makan apapun. Rasa laparku mendadak hilang karena memikirkannya. Yang ada di pikiranku saat ini hanyalah Nonik. Aku melihat ke sekeliling kamarku.


Saat melihat meja makan aku membayangkan Nonik duduk di sana sembari mengajakku mengobrol. Saat menatap ke arah kamar mandi, aku membayangkan Nonik sedang memanggilku dan memintaku agar mengambilkan dia handuk. Gadis itu memiliki kebiasaan selalu lupa membawa handuk jika sedang mandi, karena itu aku selalu menaruh handuk terlebih dahulu di dalam kamar mandi.


Ketika aku menatap tempat tidur kami, aku teringat dengan kebiasaan Nonik yang selalu bercerita sebelum memejamkan matanya dan aku selalu setia mendengarkan apapun yang dia ucapkan, walaupun kadang mataku terasa begitu mengantuk tetapi aku selalu berusaha menahannya hingga dia tertidur duluan.


Tanpa sadar air mataku telah menetes mengingat yang kini aku sedang sendirian di sini. Besok aku akan berusaha membujuk Nonik agar dia mau kembali bersamaku. Aku lalu memutuskan untuk tidur, tapi tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku.


Dalam seketika mataku langsung berbinar-binar .


" Itu pasti Nonik yang datang ,karena tidak mungkin orang lain yang datang saat larut malam begini," gumamku yang langsung beranjak dari tempat tidurku.


Dengan langkah yang terburu-buru aku membuka pintu kamarku, namun alangkah terkejutnya aku karena yang datang bukanlah Nonik , melainkan Tante Riri dengan beberapa orang pria bertubuh besar.


" Tante ? Kenapa Tante ada di sini ?" tanyaku seraya menatapnya dengan tajam.


" Tante ke sini karena ingin menjemputmu. Sekarang lebih baik kamu pulang ke rumah,"


" Maaf, Tante . Aku tidak mau pulang ke rumah,"


" Kamu tidak bisa menolak perintah Tante. Sekarang lebih baik kita pulang atau Tante akan menggunakan kekerasan ," ancam Tante Riri dengan alis mata pada saat yang sama tersimpul dan melengkung.


" Tapi aku tetap tidak mau pulang. Aku benci Tante. Gara-gara Tante Nonik jadi pergi meninggalkan aku. Aku tidak akan pernah memaafkan Tante. Lebih baik sekarang Tante pergi dari sini," kataku dengan wajah berapi-api.


Aku lalu memutar tubuhku hendak masuk ke dalam kamar. Baru saja mau melangkah, tapi tiba-tiba ada yang memukulku dari belakang hingga aku pingsan.


Satu jam kemudian, kelopak mataku mengerjap melihat sekeliling ruangan yang serba biru. Langit-langit kamarnya juga berbeda dari kamar milikku yang ada di kosan. Aku sangat kenal dengan kamar ini. Kamar ini adalah kamarku yang ada di rumah Nenek .

__ADS_1


" Apa yang sebenarnya terjadi ? Kenapa aku bisa ada di sini ? " pikirku seraya mengingat-ingat apa yang telah terjadi.


Setelah beberapa menit akhirnya aku bisa mengingat semuanya. Ini adalah perbuatan Tante Riri. Dia sungguh keterlaluan sekali. Dulu dia sendiri yang memberiku solusi agar menikah dengan Nonik ,sekarang dia juga yang meminta Nonik agar menjauhiku. Dia kira kami adalah sebuah barang mainan ?


Aku beranjak dari tempat tidurku dan bergegas ke arah pintu kamarku. Dengan pelan aku menarik ganggang pintu kamarku. Sudah berkali-kali aku menarik ganggang pintu kamarku , namun pintunya tidak bisa dibuka sama sekali .


" Sial ! Sepertinya pintunya dikunci dari luar oleh Tante Riri," gerutuku dengan sangat marah.


" Tante, tolong buka pintunya ! Tante , aku mohon buka pintunya," teriakku seraya menggedor-gedor pintu kamarku dengan sangat keras. Namun pintu kamarku tidak dibuka juga.


Aku membanting barang-barang yang ada di kamarku, lalu berteriak dengan keras untuk mengeluarkan amarah yang aku rasakan saat ini.


Tidak berselang lama pintu kamarku terbuka. Aku lihat Tante Riri masuk dengan membawa nampan berisi makanan.


" Aku mau keluar dari sini ," teriakku seraya menatapnya dengan mata yang tajam dan penuh amarah yang menggebu-gebu.


Dia lalu keluar dan mengunci pintu kamarnya lagi.


Aku mengacak-ngacak rambutku karena frustasi. Aku sama sekali tidak menyentuh makanan yang dibawa oleh Tante Riri. Saat ini aku akan menunggu hingga Tante Riri tertidur dan setelah itu aku akan keluar melalui jendela.


Satu jam kemudian, pintu kamarku terbuka. Aku kira yang datang adalah Tante diri, tetapi dugaanku ternyata salah. Yang membuka pintu kamarku adalah Nenek.


" Nenek, tolong biarkan aku keluar dari sini Nek ? " ujarku seraya menatapnya .


" Kamu tenang saja, Nenek pasti akan membantumu. Oh iya, apa kamu dapat memakanan makanan yang tadi di bawa oleh Tante Riri ? " tanya Nenek seraya menatapku dengan wajah penasaran.


" Tidak Nek ,aku tidak dapat menyentuh makanan itu sama sekali. Aku tidak nafsu makan ," sahutku

__ADS_1


" Bagus kalau begitu. Untung Kamu tidak memakan makanan itu," kata Nenek seraya duduk di sampingku.


" Kenapa begitu?" tanyaku dengan wajah yang sangat bingung.


" Juan, Tante Riri dan Om Yuda sedang merencanakan sesuatu hal yang buruk terhadapmu. Kemarin Nenek tidak sengaja mendengar mereka mengobrol di kamar Om Yuda," tutur Nenek seraya menatapku.


" Rencana apa,Nek ? " tanyaku seraya menaikkan sebelah alisku karena penasaran.


" Om Yuda dan Tante Riri mengincar harta kedua orang tuamu. Makanya kamu disuruh berpisah dengan Nonik, itu karena Tante Riri dan Om Yuda ingin membuatmu gila dan setelah itu membunuhmu dengan obat-obatan. Makanan yang dibawa oleh Tante Riri sudah diisi dengan obat yang akan membuatmu gila. Tapi untung kamu tidak menyentuh makanan itu. Rasanya Nenek tidak percaya kalau kedua anak Nenek begitu tega pada keponakannya sendiri,"


Mataku langsung terbelalak lebar mendengar semuanya. Cuma karena sebuah harta mereka tega ingin membunuhku. Apa mereka tidak ingat dengan kebaikan almarhum Mama dan Papa dulu ? Mereka sudah seperti orang yang berhati iblis.


" Juan, kamu harus pergi dari rumah ini sekarang juga. Sangat berbahaya kalau kamu berada di sini. Sekarang Nenek akan membantumu keluar dari sini. Dan ambillah kartu ini. Ini adalah uang tabungan Nenek. Dulu almarhum kedua orang tuamu setiap bulan selalu mengirimkan uang dengan jumlah yang tidak pernah sedikit. Jadi setiap diberikan uang bulanan oleh alharhum Mama Papamu , Nenek selalu menabung uang bulanan itu setengahnya. Kamu tenang saja Tante Riri dan Om Yuda tidak tahu mengenai uang tabungan Nenek ini," kata Nenek seraya memberikan sebuah kartu padaku.


" Maaf ,Nek. Aku tidak bisa menerima uang ini," tolakku


" Kalau kamu tidak mau menerima uang ini, lalu nanti kamu dapat uang dari mana ? Karena tidak mungkin kamu akan kembali bekerja di restoran. Apalagi sekarang kamu sudah memiliki seorang istri," terang Nenek dengan wajah serius.


Yang diucapkan oleh Nenek memang benar. Aku tidak mungkin bisa kembali bekerja ke sana.


" Baiklah ,Nek. Aku terima uangnya," ucapku seraya mengambil kartu itu.


" Kamu tenang saja, besok Nenek akan coba bicara pada Nonik agar dia kembali padamu," kata Nenek seraya mengusap kepalaku.


" Terima kasih ,Nek," balasku yang langsung memeluknya.


Jangan lupa like, vote dan komentarnya🙏

__ADS_1


__ADS_2