MELIK

MELIK
Dia baik-baik saja


__ADS_3

Gandi terus berusaha membangunkan Gayatri , namun gadis itu tidak juga membuka matanya.


" Gayatri, ayo bangun Gayatri ," ucap Gandi yang terus berusaha membangunkan Gayatri.


Gadis itu tetap tidak bangun. Gandi terlihat begitu khawatir melihat keadaan Gayatri yang seperti itu Dia lalu pergi ke kamar Wayan Rasta.


" Pak...bangun Pak !"  kata Gandi seraya menggoyang-goyangkan tubuh Wayan Rasta.


Tak menunggu waktu lama Wayan Rasta telah membuka mata . Dia tampak terkejut melihat Gandi yang ada di kamarnya.


" Gandi , kapan kamu datang nak ? Dan kenapa malah kemari ? " tanya Wayan Rasta seraya menatap Gandi dengan bingung.


" Maaf , Pak. Aku kesini begitu mendadak , soalnya aku merasakan kalau Gayatri dalam bahaya. Sepertinya telah terjadi sesuatu padanya, karena sudah berkali-kali aku bangunkan tapi dia tidak bangun-bangun juga," terang Gandi dengan wajah yang tampak begitu khawatir.


Luh Ani yang mendengar kalau suaminya sedang bicara dengan seseorang langsung membuka matanya.


Mendengar ucapan Gandi tersebut, wajah Wayan Rasta langsung terlihat cemas. Dia lalu beranjak dari tempat tidurnya dan pergi menuju ke kamar Gayatri.


" Gayatri...bangun nak," ucap Wayan Rasta ketika telah berada di kamar putrinya.


" Ada apa dengan Gayatri ? " tanya Luh Ani dengan wajah yang terlihat begitu cemas.


" Aku juga tidak tahu ,Bu. Saat aku baru datang Gayatri sudah seperti ini ," sahut Gandi seraya menatap Gayatri.


Kakek Parjo dan Nenek Ratih yang sedang menginap di sana langsung terbangun saat mendengar suara begitu berisik di luar kamarnya.


" Gandi , kamu di sini nak  ? " tanya Kakek dan Neneknya.


" Kenapa Nenek bisa ada di sini ? " tanya Gandi bertanya balik dengan wajah yang bingung.


" Tadinya kami ke sini karena ingin mencari Gandi. Sudah satu bulan Gandi tidak menemui kami , jadi kami sangat khawatir," terang Kakek dan Neneknya.


" Maaf Kek , Nek. Saat ini di kerajaan sedang ada masalah , jadi aku belum bisa meninggalkan kerajaan. Sekarang saja aku datang kemari karena merasa begitu khawatir pada Gayatri," sahut Gandi seraya menatap Kakek dan Neneknya.

__ADS_1


" Memangnya apa yang terjadi pada Gayatri?" tanya Kakeknya yang juga ikut khawatir.


" Aku juga tidak tahu,Kek. Saat aku baru sampai ,Gayatri sudah seperti ini,"


" Sepertinya telah terjadi sesuatu pada Gayatri,," jawab Kakek Parjo seraya menatap wajah Gayatri.


" Tapi bagaimana bisa ? Bukankah para mahkluk halus dan para Leak sudah tidak bisa mendekati Gayatri karena dia sudah tidak makan daging ? " ujar Wayan Rasta dengan wajah yang semakin bingung .


" Lebih baik kita memanggil Jro Balian dan bertanya padanya mengenai semua ini," balas Kakek Parjo menjelaskan.


Besok paginya mereka lalu memanggil Jro Balian ( dukun ) ke rumahnya.


" Tenang saja, putri kalian tidak apa-apa. Hanya saja tenaganya saat ini masih lemah. Biarkan saja dulu dia istirahat, nanti juga dia akan bangun," ucap Jro Balian pada mereka.


" Kenapa Gayatri bisa begitu Jro ? Soalnya baru kemarin dia baik-baik saja ," ujar Wayan Rasta seraya menaikkan sebelah alisnya.


" Sepertinya putri kalian baru saja habis berkelahi dengan seorang penekun Ilmu Leak. Jadi tenaganya terkuras habis,"


" Untung saja Gayatri tidak apa-apa," kata Wayan Rasta yang akhirnya bisa bernafas lega.


"Ternyata Kakak sangat hebat . Dia bisa melawan Leak itu," ucap Rara seraya menatap Kakaknya yang masih berbaring dan menutup matanya.


" Itulah hebatnya orang yang memiliki kelebihan seperti Kakakmu. Tapi dia  tidak akan sadar dengan apa yang dia lakukan," tutur Kakek Parjo seraya duduk di samping Gandi.


" Kakek ,apa ada seorang Leak yang berkelahi atau bertempur dengan sesama Leak ?" tanya Rara seraya menaikkan sebelah alisnya.


" Ada , dan bahkan sering terjadi. Dalam dunia pengeleakan , kerap terjadi pertempuran antara sesama penekun ilmu leak yang dilakukan secara gaib, yang dikenal dengan istilah ' Siat Peteng'. Bila diterjemahkan Siat Peteng itu artinya Perang Malam. Pertandingan Leak ini dilakukan oleh perguruan Ilmu Leak yang satu dengan perguruan lainnya. Adu kesaktian para Leak ini biasanya dilakukan oleh orang yang dianggap paling sakti dalam perguruan tersebut, dan untuk mengukur perguruan leak mana yang ilmunya lebih tinggi . Tetapi tidak jarang Siat Petang dilakukan oleh antar individu penekun leak karena ketersinggungan pribadi. Siap Peteng biasanya diadakan di kuburan tempat kremasi pada hari-hari keramat menurut kalender Bali. Seperti Malam Kajang Kliwon, Malam Tumpek Wayang , dan yang lebih sering dilakukan saat nanti Nyepi Malam. Sebelum bertanding mereka terlebih dahulu memohon anugerah dari Ida Bhatara di Pura Dalem, dan Bhatara Pengulun Setre agar memperoleh kemenangan. Duel Gaib Para Leak ini bisa disaksikan secara kasat mata oleh orang awam, maka yang terlihat adalah dua bola api yang berterbangan dan saling membenturkan diri satu sama lainnya. Namun bila orang awam menonton Siat Peteng berlangsung , tak jarang mereka terkena dampak dari kekuatan yang di keluarkan oleh Para Leak tersebut seperti sakit atau linglung."


" Berarti sangat bahaya sekali kalau melihat orang yang sedang melakukan Siat Peteng ? " ujar Rara


"Ya betul. Kalau Rara melihatnya, lebih baik Rara hindari. Sama seperti pertandingan di dunia nyata, Siat Peteng juga dibuatkan arena. Serta penontonnya yang terdiri dari para penekun ilmu leak lainnya. Dan pesertanya sangat menjunjung aturan pertandingan, namun pertandingan Leak ini dilakukan sampai salah satunya mati. Bahkan jika salah satu peserta sudah menyerah dan mengaku kalah maka sesuai peraturan yang kalah harus tetap mati. Tetapi dia diberi toleransi hidup beberapa tahun sesuai permintaannya, misalnya dia diperbolehkan hidup sampai anaknya sudah besar atau setelah anaknya menikah. Bila musuh yang dikalahkan sudah mati, dalam dunia nyata orang yang menjadi pemenang akan melayat ke rumah musuh dan mendoakan agar musuh yang telah dibunuh tersebut mendapat tempat yang layak sesuai karmanya," tutur Kakek Parjo seraya tersenyum


" Aturannya seram sekali ya ? Kalau aturannya seperti itu , lebih baik tidak usah ikut Siat Peteng,"ucap Rara seraya merebahkan tubuhnya di samping Kakaknya.

__ADS_1


Satu jam kemudian, Luh Ani dan Nenek Ratih datang mengajak mereka sarapan pagi.


" Rara, ayo bangun ! Kita sarapan dulu," ajak Ibunya seraya menarik kaki Rara.


" Duluan saja ,Bu. Aku lagi tidak ingin sarapan," balas Rara yang sedang asyik bermain game di ponsel Kakaknya.


" Gandi, ayo kita sarapan dulu. Gayatri biar Rara yang menjaganya," kata Luh Ani seraya menatap Gandi yang terlihat begitu sedih.


" Aku tidak lapar ,Bu," jawab Gandi seraya menatap wajah Gayatri yang sangat dia rindukan.


" Mana mungkin Gandi tidak lapar, apalagi dari tadi malam menjaga Gayatri," ucap Luh Ani seraya mengelus rambut Gandi.


" Baiklah, Bu, aku akan ikut makan bersama kalian," sahut Gandi yang kemudian beranjak dari tempat duduknya.


" Gandi, Jro Balian ( dukun ) bilang kalau Gayatri saat ini tidak apa-apa, tapi kenapa kamu terlihat sangat sedih sekali ? Memangnya masalah apa yang terjadi di kerajaan ?" tanya Kakek Parjo seraya menatap cucunya. Tadi malam dia menatap mata Gandi yang begitu sembab, dia juga hanya diam saja dari kemarin.


" Kakek sudah mengenalmu dari kecil, jadi Kakek bisa melihat kesedihan di wajahmu. Memangnya ada masalah apa ?" ujar Kakek Parjo seraya menatap Gandi yang sedang meneteskan air matanya.


" Iya ,nak. Kami sangat menyayangimu , jadi ceritakan pada kami ada masalah apa ? " tanya Wayan Rasta dengan raut penasaran .


Gandi meneteskan air matanya berkali-kali ,setelah itu dia menghampusnya lagi.


Dia lalu menceritan semua yang terjadi di kerajaannya. Mereka yang mendengar tampak sangat terkejut dan kasihan pada Gandi.


" Ya ,Tuhan. Lalu apakah sekarang kalian sudah menemukan solusinya ? " tanya Luh Ani seraya mengusap punggung Gandi.


" Belum ,Bu," sahut Gandi seraya menggelengkan kepalanya.


" Sabar ya ,Nak. Bapak percaya kalau kamu adalah anak yang baik dan sangat menyayangi Gayatri. Kamu selama ini selalu menjaga Gayatri. Bapak akan selalu mendoakan agar masalahmu segera mendapatkan solusinya," kata Wayan Rasta yang juga mengusap punggung Gandi.


" Iya ,nak. Kami di sini tidak pernah marah jika kamu bersama Gayatri. Kami di sini selalu menerimamu layaknya manusia biasa seperti kami," ucap Kakek Parjo yang langsung memeluk cucunya.


" Terima kasih ,kalian selama ini begitu baik padaku," balas Gandi seraya meneteskan air matanya.

__ADS_1


__ADS_2