MELIK

MELIK
Mengganggu Gayatri


__ADS_3

Malam harinya, keluarga Wayan Rasta sedang berkumpul di ruang tamu bersama Kakek Parjo dan Nenek Ratih yang saat ini sedang menginap di rumahnya.


" Aku kira Gandi ada di sini. Soalnya sudah sebulan dia tidak berkunjung ke rumah kami," ucap Kakek Parjo dengan raut wajah yang sedih.


" Dia juga sudah sebulan tidak mengunjungi Gayatri," kata Wayan Rasta yang juga merasa sangat sedih. Karena biasanya Gandi selalu menemani dan membantunya bekerja .


" Sepertinya Gandi sedang ada masalah di bangsanya. Kita doakan saja supaya mereka dalam keadaaan baik-baik saja ," sahut Nenek Ratih


" Kakek , siapa itu Bhuta Bukal . Aku sering mendengar namanya di sebut-sebut , tapi aku tidak tahu siapa dia"ujar Rara memotong pembicaraan mereka karena dia merasa kasihan pada Kakaknya yang setiap hari memikirkan suaminya. Walaupun Rara tidak bisa melihat suami Kakaknya ,tapi dia percaya kalau suaminya itu benar-benar ada, karena dia sering melihat Kakak dan orang tuanya saat mengobrol dengan suami Kakaknya.


" Dalam ajaran Bali mengenal berbagai macam jenis Bhuta Kala. Makhluk halus yang wujudnya menyerupai iblis menyeramkan, yang bertugas mengganggu manusia yang lalai dalam hidupnya. Dalam lontar-lontar kuno Bali terdapat ribuan nama Bhuta Kala yang memiliki tugasnya masing-masing. Salah satunya adalah Bhuta Bukal, jenis iblis dari Bali yang masih sedikit orang yang tahu. Sesuai namanya Bhuta Bukal disebutkan berwujud iblis kelelawar raksasa. Makhluk ini juga kerap digambarkan sebagai iblis berbadan manusia yang memiliki sayap dan kepala kelelawar, karena itu dia juga dikenal sebagai Kala Hulu Bukal yang berarti iblis berkepala kelelawar. Disebutkan dalam kitab Lontar Purwa Bhumi Kamulan ,Bhuta Bukal adalah salah satu dari seratus delapan iblis yang diciptakan oleh Bhatari Durga Bhairawai ketika beliau melakukan semedi. Iblis ini diberikan anugerah sebagai penguasa ruang dan waktu ketika pergantian antara siang dan malam, atau istilah Balinya ' Sandikala'. Bhuta ini bertugas memastikan di saat sore hari menjelang malam tidak ada manusia yang beraktifitas di luar rumah tanpa maksud dan tujuan yang jelas terutamanya pada anak-anak. Bilamana larangan ini tetap dilanggar pastinya dapat memicu kemarahan Sang Kala Bukal sebagai pemilik waktu tersebut. Sang Bhuta Bukal dipercaya menjadi penyebab terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan ketika hari telah menjelang malam. Seperti timbulnya rasa marah, kebencian, keributan bahkan musibah dan kecelakaan. Dia memiliki kemampuan untuk mempermainkan emosi manusia. Orang Bali mempercayai orang akan lebih mudah marah dan tidak bisa mengendalikan dirinya ketika Sandikala, karena dikendalikan oleh Sang Bhuta Bukal. Bhuta Hulu Bukal adalah personifikasi dari kekuatan gelap yang muncul ketika pergantian siang dan malam. Digambarkan sebagai kelelawar karena hewan tersebut keluar ketika menjelang malam. Jadi saat waktu tersebut diharapkan kita harus selalu berpikir positif, rajin sembahyang dan tidak melakukan hal negatif. Niscaya , tidak akan terjadi hal yang tidak diinginkan."tutur Kakek Parjo menjelaskan.


" Oh begitu, aku kira larangan itu hanya sekedar menakut-nakuti anak-anak kecil," sahut Rara seraya menggaruk kepalanya yang tidal gatal.


" Oh iya ,Pak. Tadi pagi Bu Siti kehilangan uang. Dia sampai menangis memikirkan uangnya yang hilang semua. Padahal uang itu mau di pakai untuk membawa anaknya yang sedang sakit berobat. Lalu aku kasih saja uang hasil menjual canangku padanya, karena tidak tega padanya. Apalagi dia begitu baik dengan kita," tutur Luh Ani pada suaminya.


" Memang uangnya di simpan di mana ,Bu ?" tanya Wayan Rasta dengan raut wajah penasaran.


" Uangnya di simpan di lemari kamarnya. Saat aku datang membawa canang ke rumahnya, Ibu Siti pergi mengambil uang di lemarinya, namun uangnya malah tidak ada. Padahal kata Bu Siti uang itu baru saja dia taruh di lemari. Dia juga di rumah hanya bersama dengan anaknya yang sedang sakit. Saat Ibu Siti sedang menangis banyak tetangga datang dan menghibur Ibu Siti. Lalu ada seorang Jro Balian datang dan memberitahu Ibu Siti kalau uangnya di ambil oleh Brerong ," terang Luh Ani seraya mengingat kejadian tadi sore.


" Kasihan sekali dia. Suami Ibu Siti juga sedang pergi bekerja ke kota," sahut Wayan Rasta.

__ADS_1


" Bapak, apa itu Brerong ? " tanya Rara seraya menaikkan sebelah alisnya.


" Brerong dalam kepercayaan masyarakat Bali adalah mahkluk gaib yang gemar mencuri uang. Bagi masyarakat Bali yang kehilangan uang secara serius pada tempat penyimpanan uang sering diasumsikan bawa uang tersebut raib diambil Brerong," terang Kakek Parjo menjelaskan.


" Kakek, bagaimana caranya agar Brerong itu tidak bisa mengambil uang kita ? " tanya Rara lagi


" Menurut orang-orang tua zaman dulu ada berbagai cara untuk menjaga uang agar tidak diambil Brerong yang dikenal dengan istilah ' Tetulak Brerong ' yaitu ranting gantung pohon beringin. Mencari ranting beringin untuk Tetulak Brerong harus pada waktu siang hari tepat. Pohon beringinnya pun harus yang belum pernah ditebang. Dalam istilah spiritual , beringin ini disebut 'Bingin Sari' yang memiliki inti sari alam dan kekuatan magis. Sebelum mengambil Bangsing Bingin harus memohon izin terlebih dahulu dengan mengaturkan segehan, kemudian potong Bangsing yang panjangnya harus tiga jengkal, lalu masukkan ke dalam periuk tanah liat dan taruh di dapur selama tiga hari untuk memohon anugerah dari Dewa Brahma. Setelah tiga hari, letakkan ranting beringin di dasar tempat penyimpanan uang atau ikatkan ke uang. Ranting beringin dianggap memiliki aura gaib yang kuat, ketika Brerong atau tuyul hendak mencuri uang, dia akan merasakan aura gaib dari Bangsing Beringin, dan merasa ketakutan serta langsung mengurungkan niatnya mencuri karena mengira ada makhluk gaib lain di tempat dia mencuri. Sarana Bangsing Beringin ini tidak bisa digunakan terus-menerus, harus diganti setiap 21 hari, dan ada satu pantangan dalam menggunakan sarana ini yaitu tidak boleh sampai dilangkahi atau ditiduri kucing, karena kucing dianggap sebagai penetral sarana magis. Tetapi bila kucing hanya diam di sebelah sarana ini diletakkan, maka kekuatan Bangsing akan bertambah," tutur Kakek Parjo seraya mengelus rambut Rara.


" Kalau begitu sekarang kalian tidur ya ? Karena ini sudah malam," ucap Luh Ani pada kedua putrinya . Sedangkan Gayatri terus saja diam. Dia memikirkan Gandi yang tidak juga datang.


Gayatri lalu pergi ke kamarnya dengan tidak bersemangat. Dia kira Kakek Parjo dan Nenek Ratih datang ke rumahnya karena membawa pesan dari Gandi, tetapi malah bertanya masalah Gandi padanya.


Gayatri meneteskan air matanya karena rindu dan cemas dengan Gandi.


" Kenapa Gandi begitu lama di sana ? " gumam Gayatri. Dia lalu mengingat-ingat mimpinya tadi.


Di dalam mimpinya dia berteriak minta tolong ,namun tidak ada yang datang menolongnya.


Tiba-tiba dia melihat pintu kamarnya terbuka sendiri. Lalu muncul sesosok Nenek dengan rupa yang sangat mengerikan sedang menari-nari di depan kamar Gayatri. Tubuh Gayatri tiba-tiba saja tidak bisa di gerakkan .


" Ya, Tuhan .Apa yang sebenarnya telah terjadi ? Kenapa Leak itu bisa menggangguku ?" gumam Gayatri di dalam hatinya.

__ADS_1


Dia begitu ketakutan , karena tubuhnya sama sekali tidak bisa di gerakkan.


" Gandi ,tolong aku ! " gumam Gayatri lagi seraya meneteskan air matanya.


Leak itu masih berdiri di depan kamar Gayatri. Dia terus tertawa seraya menari-nari . Dia kemudian mengeluarkan sebuah racun dari tangannya. Leak itu membuka mulut Gayatri yang tertutup rapat menggunakan ilmunya. Mata Gayatri langsung membulat ketika mulutnya terbuka secara sendirinya.


" Ibu , Bapak, tolong bantu aku ! " gumam Gayatri di dalam hatinya seraya terus menangis. Gayatri berusaha menutup mulutnya, namun dia tidak bisa melakukannya.


Leak itu lalu melempar racun tersebut ke arah Gayatri. Racun itu terbang menuju ke mulut Gayatri. Gayatri berusaha melawan agar tubuhnya bisa di gerakkan , namun sayang sekali dia tidak bisa menggerakan tubuhnya. Mulutnya juga masih dalam keadaan terbuka, sedangkan racun itu semakin mendekat ke arah mulutnya. Ketika racun itu sudah ada tepat di depannya , Gayatri menutup matanya sembari menyebut nama Dewa Siwa di dalam hati.


" Om Namah Shivaya...Om Namah Shivaya...Om Namah Shivaya..." Gayatri hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya.


Tiba-tiba saja keluar api dari tubuh Gayatri. Raut wajahnya langsung berubah marah.


" Berani-beraninya kamu ingin menyakitiku," teriak Gayatri dengan suara lantang dan tatapan mata tajam.


Leak itu tampak terkejut melihat Gayatri yang bisa mengeluarkan suara dan menggerakan tubuhnya.


Gayatri meniup racun itu dengan begitu keras hingga racun tersebut masuk ke mulut Leak itu. Lalu muncul ular berwarna - warni dari tubuh Gayatri. Ular-ular itu menyerang Leak tersebut hingga si Leak menghilang.


Setelah itu ular-ular tersebut juga menghilang, dan Gayatri langsung pingsan.

__ADS_1


Tak berselang lama Gandi datang dan melihat tubuh Gayatri yang penuh keringat.


Pria itu dapat merasakan kalau Gayatri tadi sedang dalam bahaya , namun dia tidak bisa datang lebih cepat karena saat ini rakyatnya terus saja berdemo.


__ADS_2