
Kerajaan Wong Samar ( kerajaan jin )
Saat ini Raja Wong Samar begitu gembira karena akhirnya Kadek Ayu melahirkan seorang bayi berjenis kelamin laki-laki.
" Akhirnya apa yang aku inginkan terwujud juga. Bayi ini akan menjadi penerusku nantinya," ucap Raja Wong Samar seraya tersenyum.
" Suamiku ? Apa Gandi sudah datang ? Dia kemarin bilang akan kesini bersama Gayatri." Kadek Ayu menatap suaminya yang saat ini menggendong bayinya.
" Ngapain sih kamu peduli dengan anak itu ? Biarkan saja dia di dunia manusia. Aku sudah tidak peduli lagi dengannya. Bahkan aku sudah menganggapnya telah tiada," kata Raja Wong Samar dengan wajah merah padam.
" Kenapa kamu begitu membenci Gandi ? Memangnya kesalahan apa yang sudah di lakukan Gandi hingga kamu membenci putramu sendiri ? " tanya Kadek Ayu yang juga tidak mengerti dengan sikap suaminya.
" Aku begitu membencinya karena dia tidak pernah mendengarkan apa yang aku ucapkan. Dia selalu membantah apa yang aku ucapkan. Bahkan aku menyuruhnya untuk mencari kelemahan Gayatri tapi dia tidak menjalankan tugas dariku, dia malah melindungi gadis itu hingga semua rencanaku menjadi gagal semua," gerutu Raja Wong Samar dengan wajah yang sudah tampak marah.
" Tapi mau bagaimanapun dia adalah putramu," balas Kadek Ayu
" Kehilangan satu putra bagiku tidak masalah , karena aku masih memiliki seorang putra selain dia,"
" Kamu memang keras kepala. Oh iya , suamiku aku mau minta izin mengunjungi kedua orang tuaku," ucap Kadek Ayu yang terus menatap wajah suaminya.
" Aku tidak mengizinkanku pergi ke sana. Untuk apa kamu ingin pergi ke sana ? Bukankah lima bulan yang lalu kamu dapat pergi ke sana ?" tanya Raja Wong Samar sembari menaikkan sebelah alisnya.
" Mereka adalah kedua orang tuaku yang telah melahirkan dan membasarkanku. Aku hanya rindu pada mereka. Bukankah kamu sudah berjanji padaku ? Kalau aku bisa melahirkan anak laki-laki lagi , maka aku boleh mengunjungi kedua orang tuaku kapanpun aku mau. Apa kamu mau mengingkari janjimu itu ? Kalau kamu mengingkari janjimu itu, lebih baik kita berpisah saja. Aku mengerti kenapa Gandi tidak pernah betah tinggal di sini , itu karena sikapmu yang selalu marah-marah dengannya," ujar Kadek Ayu dengan tegas.
" Maafkan aku, sayang. Aku hampir lupa dengan janjiku itu. Kamu boleh pergi mengunjungi kedua orang tuamu, asalkan kamu ingat untuk kembali lagi ke sini," ucap suaminya seraya membelai kepala istrinya dengan penuh kelembutan.
Raja Wong Samar lalu memanggil Lio, dan meminta Lio agar menemani Kadek Ayu pergi ke dunia manusia.
__ADS_1
" Ibunda, apa Ibunda sudah siap ? " tanya Lio sambil duduk di samping adik Gandi.
" Iya , Ibunda sudah siap. Sekarang ayo kita pergi ke rumah Nenek Gandi," kata Kadek Ayu sambil tersenyum ke arah Lio .
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di rumah Kakek Parjo.
" Tok...tok..tok..om swastiastu ," teriak Kadek Ayu sembari mengetuk pintu rumah itu.
" Om swastiastu ," balas Nenek Ratih seraya membuka pintu rumahnya. Setelah melihat siapa yang datang . Dia langsung menyungingkan senyum lebar-lebar dan dengan wajah yang langsung ceria.
" Ya Tuhan , Ibu kira siapa yang datang. Ayo masuk ke dalam ," kata Nenek Ratih sambil menatap putri dan cucunya.
" Bapak dimana ,Bu ? " tanya Kadek Ayu seraya menatap Ibunya.
" Bapak ada di belakang rumah , kalau begitu Ibu akan memanggilnya sebentar, " balas Nenek Ratih yang langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke belakang rumahnya.
" Iya Ibunda, kalau begitu aku permisi dulu," ucap Lio
Tidak berselang lama Kakek Parjo datang sambil tersenyum lebar.
" Ternyata anak dan cucuku datang. Sini sama Kakek dulu," ucap Kakek Parjo yang langsung menggendong cucu keduanya.
" Wajahnya mirib dengan Gandi, namanya siapa ? " tanya Kakek Parjo sambil menatap Kadek Ayu
" Namanya Ganda ,Pak . Oh iya Pak,apa Gandi dapat datang kemari ?"
"Setiap pagi atau sore dia selalu datang kemari untuk membantu Bapak di kebun. Memangnya kenapa ? " tanya Kakek Parjo dengan wajah penasaran
__ADS_1
" Tolong jaga Gandi selama dia berada di sini. Aku kasihan pada putraku itu, soalnya suamiku begitu marah padanya gara-gara rencananya gagal. Suamiku juga tidak mau menganggap Gandi sebagai putranya,"kata Kadek Ayu dengan raut wajah yang terlihat begitu sedih.
" Kamu tenang saja ,kami semua selalu memperlakukan putramu dengan sangat baik. Apalagi Gandi adalah anak yang sangat baik dan penurut. Buktinya Wayan Rasta tidak marah saat tahu Gandi dan Gayatri telah menikah. Dia juga memperlakukan Gandi dengan sangat baik di rumahnya," ucap Kakek Surya.
" Walaupun suamimu saat ini sedang marah dengan Gandi , tapi di dalam hatinya pasti masih ada rasa sayang untuk putranya ," terang Nenek Ratih seraya menaruh nampan berisi minuman dan kue di meja.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Rumah Kakek Surya.
Saat ini Luh Ani dan Kakek Surya sudah membuka mata batinnya.
" Gandi, ayo di ambil kuenya," kata Luh Ani pada Gandi.
" Iya ,Bu," jawab Gandi yang kemudian mengambil kue yang ada di depannya.
" Kakek ,apakah ada orang yang belajar Ilmu Leak untuk tujuan kebaikan ? " tanya Gayatri dengan wajah penasaran.
" Tentu ada, namanya Men Gumbring. Menurut penuturan pembuka adat desa Pejengaji , Tegalalang. Pada tahun 1800an di tepi sungai Ceng-ceng daerah Cemenggaon , sukawati , Gianyar. Di sana hidup seorang perempuan tua yang sangat sakti dalam Ilmu Pengeleakan.Dia bernama Men Gumbring. Dia diusir oleh warga setempat karena mereka takut terhadap kesaktian Men Gumbring. Berkali-kali Men Gumbring berpindah ke berbagai tempat namun dia tetap diusir dan dijauhi oleh masyarakat. Lalu dia bertemu Pemuka Puri Pejengaji, Cokorda Ketut Segara yang mengizinkannya untuk mengabdi di Puri. Setelah sekian lama mengabdi, masyarakat akhirnya mengetahui akan kesaktian Ilmu Leak Men Gumbring, sehingga sedikit masyarakat yang berani masuk ke Puri Pejengaji,"
" Lalu bagaimana setelah itu ,Kek ? Apa dia diusir lagi ?" tanya Gayatri sambil menatap Kakek Surya.
" Mengetahui hal itu, Men Gumbring merasa tidak layak mengabdi di Puri Pajengaji. Dia Lalu memutuskan untuk pergi menuju alam akhirat dan pamit dari Puri Pajengaji. Sebelum itu,Men Gumbring memiliki permintaan, karena walaupun dia tidak pernah menyakiti orang lain dengan ilmu Leaknya , tapi dia selalu dijauhi, difitnah dan dibenci oleh masyarakat, maka setelah meninggal dia ingin dirinya dimuliakan oleh warga. Setelah berpikir panjang , akhirnya Cokorda bersedia memenuhi permintaannya apabila Men Gumbring mampu berubah wujud menjadi sosok Rangda di siang hari. Dan Men Gumbring pun menyanggupinya. Tibalah hari yang sudah ditentukan, di bawah terik matahari, di hadapan masyarakat Men Gumbring menari-nari menjalankan yoga tingkat tinggi memuja Dewi Durga. Setelah beberapa saat, wajah Men Gumbring mulai berubah. Taring- taringnya memanjang, kedua matanya bercahaya, muncul tiga tanduk di keningnya dan lidahnya menjulur panjang mengeluarkan api. Cokorda segera menuangkan wujudnya ke dalam kayu bertuah yang ditemukan di Sungai Wos. Setelah Cokorda mengukir keseluruhan wujud Men Gumbring menjadi sebuah topeng, seketika Men Gumbring sirna dari hadapan beliau karena mempertontonkan kesaktian Leak di siang hari. Sesuai janji beliau topeng Rangda dari wujud Men Gumbring menjadi sesuhunan yang di muliakan hingga kini. Dia telah membuktikan kalau dirinya tak pernah menyakiti orang lain," tutur Kakek Surya
" Berarti dia pergi ke akhirat tanpa meninggalkan jasad ? "
__ADS_1
" Iya benar. Dia telah menghilang bersama jasadnya," terang Kakek Surya tersenyum.