
Siang itu matahari memancarkan sinarnya begitu terang menembus celah dedaunan yang rimbun di sepanjang jalan. Marni terlihat menggendong Bayu dalam dekapan yang hangat. Bocah mungil itu masih dalam keadaan lemas namun sudah sadar dari pingsannya. Mobil Suda pun melaju dengan kencang melahap setiap tikungan dan tanjakan yang mereka temui di jalan.
Sesekali Suda melempar matanya ke arah anaknya yang tidak bersuara sedari tadi. Raut mukanya kembali dihinggapi rasa cemas.
"Bu, gimana keadaan Bayu?" Suda sedikit menghela nafas sebelum tikungan tajam di lewatinya.
Marni membenahi posisi Bayu yang agak tertelungkup. Kini tubuh mungil anak itu tegak menatap ayahnya. "Pak, lihat Bayu sudah sadar, tapi...", Marni menghentikan perkataanya sembari menatap suaminya yang sibuk dengan setir mobilnya.
"Syukurlah", Suda menjawab pendek dengan pandangan yang serius menatap setiap tikungan di depannya.
Mobil melaju dengan kencang dan meninggalkan rumahnya yang sudah tak terlihat dari mata. Sekitar lima belas menit menuju rumah Jero Mangku Sakti, laju mobil semakin berat dan melambat. Jalanan yang menanjak serta memasuki daerah hutan lebat dengan pepohonan dengan cahaya remang-remang. Sesekali kuping Marni menangkap suara-suara di kejauhan yang menyayat hatinya. Jantungnya mulai berdebar dengan cucuran keringat di badannya. Raut wajahnya kian gelisah setelah angin berhembus dingin membuat bulu kuduknya berdiri.
"Pak, apakah masih jauh?" Marni mengajukan pertanyaan dengan nada sedikit ketakutan.
"Lagi bentar juga nyampe", sahut Suda mencoba tenang dengan semua keanehan di dalam mobilnya.
Belum selesai dengan semua keganjilan itu, Bayu yang sedari tadi diam di dalam pelukan ibunya mulai berteriak. Anak itu tiba-tiba histeris sambil memalingkan pandangan dari luar mobil. Tangannya menunjuk ke arah luar yang membuat Marni panik tak karuan. Suda mencoba memelankan laju mobilnya.
"Tenang Bu, tetap peluk Bayu. Jangan biarkan dia melihat keluar mobil!" seru Suda mencoba menenangkan Marni yang sudah menangis di sampingnya.
"Ibu, Ibu ada banyak orang seram di sana", lagi-lagi Bayu histeris dan terus menunjuk ke luar mobil.
"Nak, tutup matamu. Jangan di lihat lagi", kata Marni menenangkan anaknya yang mulai menggigil ketakutan.
Bayu terus menangis histeris tanpa mau membuka matanya. Dia sangat takut dengan objek yang dia liat sekilas di luar mobil. Melihat keadaan Bayu yang tak terkendali, Suda tancap gas memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia ingin cepat sampai di rumah Jero Mangku Sakti. Deru mesin membelah kesunyian jalanan itu. Pria paruh baya itu sudah pasrah dengan keadaan Bayu yang semakin histeris.
Setelah melewati dua tikungan tajam serta tanjakan yang cukup menantang, mobil sudah akhirnya berhenti. Mobil itu berhenti tepat di depan rumah dengan gaya lama yang terkesan jauh dari kata mewah. Pagarnya masih menggunakan pagar hidup dengan tanaman yang rimbun. Di depan pintu masuk Bayu dan orang tuanya di sambut dua patung macan gading sebagai patung penjaga gerbang.
Keluarga yang lagi tertimpa malang ini melangkah pelan sambil merapikan pakaian mereka. Marni memakai kain kuning dan selendang putih sementara Suda memakai kain batik warna hitam kecoklatan. Sementara Bayu karena masih kecil hanya menggunakan baju dan celana yang rapi.
__ADS_1
Setelah memasuki halaman rumah Jero Mangku Sakti, mata Marni melihat keadaan rumah yang begitu sepi. Marni melihat Jero Mangku Sakti hanya ditemani isteri tercintanya, Jero Darsi. Mereka terlihat sibuk membuat sesajen serta beberapa perlengkapan upacara keagamaan.
Dengan ramah, Jero Mangku Sakti mempersilakan Marni dan Suda serta anaknya Bayu untuk duduk di teras rumah. Teras rumah yang tidak terlalu luas namun sangat bersih dan teratur rapi. Walaupun tanpa keramik namun masih layak untuk di tinggali.
"huk huk huk, heeeemm".
Jero Mangku Sakti batuk-batuk sambil mengunyah kapur sirih hingga mulut dan giginya terlihat merah. "Tunggu sebentar ya, saya masih membuatkan sedikit sesajen untuk nanti", ujar Jero Mangku Sakti sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang merah karena sirih.
"Baik Pak Jero", jawab Suda pendek sambil menyerahkan sesajen yang dibawa dari rumah.
Tangan Jero Mangku Sakti menerima sesajen itu lalu dia menuju kamar sucinya. Beberapa saat kemudian kakek itu keluar dan ikut duduk di sebelah Suda.
"Ayo, diminum dulu kopi sama tehnya", Jero Darsi tiba-tiba muncul membawa tiga gelas kopi dan segelas teh.
Wajah Marni nampak kebingungan dengan gelas di depannya. Dia tidak pernah minum kopi sebelumnya. Beberapa kali melirik suaminya yang masih asyik mengobrol dengan Jero Mangku Sakti.
"Bagaimana keadaan Bayu sekarang?" Jero Mangku Sakti melemparkan pertanyaan serius kepada Suda.
"Bisa Jero lihat sendiri, anak kami masih sering histeris. Bahkan tadi siang saat dijalan dia sempat teriak histeris", ujar Suda dengan nada pasrah dan lelah dengan semua kondisi saat itu.
Jero Mangku Sakti langsung menatap Bayu dengan tatapan yang serius. Mata Jero Mangku Sakti mengamati setiap jengkal tubuh anak itu. Dia menggunakan mata batinnya dan mulai melihat di dalam tubuh anak itu. Tidak sampai disitu Jero Mangku Sakti masuk ke alam bawah sadar anak itu.
Angin berhembus pelan diantara pepohonan merusak keheningan yang ada. Selagi Jero Mangku Sakti dia mengamati Bayu, tak satu pun orang yang berani bersuara. Seakan semut pun berhenti bergerak. Bahkan lalat menjauh dari tempat mereka.
"Heeeemmmmm", Jero Mangku Sakti menarik nafas panjang setelah selesai mengamati tubuh mungil Bayu. "Bayu ini, kalau sakit secara medis tidak ada, kemungkinan non medis", ujar Jero Mangku Sakti.
"Nonmedis?" Suda terlihat bingung sambil menatap wajah Jero Mangku Sakti. "Saya tidak mengerti, tolong jelaskan Pak Jero!"
Jero Mangku Sakti tersenyum dan tidak heran dengan sikap Suda yang tidak tahu dengan penyakit ini. Jero Mangku Sakti membenahi posisi duduknya mendekatkan dirinya dengan Suda.
__ADS_1
"Suda, penyakit nonmedis itu penyakit yang disebabkan ilmu hitam", kata Jero Mangku Sakti kepada Suda.
"Penyakit ilmu hitam?" Suda kembali bingung dibuatnya.
"Begini, jangan bingung. Ikuti saja prosesnya. Saya akan bantu nanti bersama istri saya Jero Darsi. Kalo memang kena ilmu hitam, akan saya obati segera.
Suda kembali bengong karena ia bingung dengan semua ucapan dari Jero Mangku Sakti. Wajahnya terlihat manyun dan guratan keras di dahinya menandakan sebuah rasa penasaran.
Di sisi lain, Marni yang memeluk Bayu memperhatikan tingkah suaminya. Dia mengerti betul akan keadaan Suda yang seperti itu. Maka dia bergegas mendekati Jero Mangku Sakti di sebelah kanan.
"Baik Pak Jero, kami sekeluarga akan ikuti semua arahan Pak Jero. Saya tidak mau ambil pusing dan ingin semua masalah ini beres".
"Baiklah kalau begitu, mari kita ke kamar suci, agar saya bisa cek lebih mendalam", ujar Jero Mangku Sakti.
Mereka akhirnya berjalan beriringan menuju kamar sucinya Jero Mangku Sakti. Kamar kecil dengan hiasan kain putih di setiap dindingnya. Sebuah arca suci di setanakan di sana sebagai simbol kekuatan maha dahsyat dari Tuhan Yang Maha Esa.
Suasana hening nan sunyi menghiasi tempat itu. Aroma harum dupa serta asap yang mulai mengepul di sudut kamar. Jero Darsi ternyata telah mempersiapkan segalanya. Wanita itu terlihat sudah sepuh namun masih energik dan cekatan ketika menghaturkan berbagai sesajen di kamar itu.
Jero Mangku Sakti mulai mengambil sikap duduk bersila dengan sebuah dupa menyala di tangannya. Matanya terpejam sambil melafalkan beberapa bait mantra khusus. Suasana mencekam kembali terlihat dengan suara dengusan Jero Mangku Sakti.
"Silakan duduk di sebelah sini. Bayu dekatkan ke sini, karena Pak Jero mau mengeceknya", seru Jero Darsi kepada Marni.
Marni mendekat dengan memasang wajah takut sambil perlahan mendekatkan Bayu ke arah samping Jero Mangku Sakti. "Pak Jero, ini Bayu sudah duduk di samping Pak Jero", ucap Marni dengan nada sedikit takut.
"Baik, sekarang semua mohon diam, saya akan memeriksanya", kata Jero Mangku Sakti sambil melihat tubuh Bayu.
Alunan mantra-mantra khusus terus bergema dari mulut Jero Mangku Sakti. Bahkan kini jari-jemari Jero Mangku Sakti tak henti-hentinya bergerak menunjuk bagian tubuh Bayu. Bayu sedikit ketakutan melihat gerakan kakek tua di sampingnya.
Selang beberapa saat, Jero Mangku Sakti menghentikan aktifitasnya. Dia menarik nafas serta meletakkan kembali sebuah dupa di hadapannya. "Saya sudah amati, anak ini ternyata juga tidak memiliki penyakit non medis".
__ADS_1
Jero Mangku Sakti bicara singkat yang membuat seisi ruangan itu kebingungan. Penyakit apa yang diderita oleh Bayu sampai menderita seperti itu? Suda dan Marni mulai kebingungan.