
Gayatri lalu pergi ke rumah Jro Balian ( dukun ) bersama Gandi dan Kakek Parjo ,sedangkan Rara bersama dengan Nenek Ratih.
Beberapa menit kemudian , mereka telah sampai di rumah seorang Jro Balian. Kebetulan rumah Jro Balian yang mereka tuju tidak jauh dari rumah Kakek Parjo.
" Tok...tok...tok...om swastiastu ," ucap Kakek Parjo sambil mengetuk pintu rumah itu.
" Om swastiastu , " balas seorang pemuda sambil membuka pintu rumahnya . Di lihat dari wajahnya pemuda itu seperti seumuran dengan Gayatri. Dia menatap Gayatri dan Kakek Parjo secara bergantian.
" Maaf ,nak . Jro Ardi ada ? " tanya Kakek Parjo pada pemuda itu
" Kakek ada di dalam. Kalau begitu silahkan masuk," kata pemuda itu sambil mempersilahkan mereka duduk.
Pemuda itu terus menatap Gayatri secara diam-diam. Wajah Gandi langsung merah padam melihat hal itu , tapi dia berusaha bersikap tenang.
Tidak berselang lama Jro Balian Ardi pun datang.
" Bagaimana kabarmu ? Tumben kamu kesini ," ucap Jro Balian Ardi pada Kakek Parjo.
" Kabarku baik-baik saja. Oh iya, perkenalkan ini cucu-cucuku. Yang ini namanya Gayatri dan yang di sebelah Gayatri adalah Gandi. Gandi adalah putranya Kadek Ayu yang pernah aku ceritain ke kamu," terang Kakek Parjo menjelaskan.
Cucu dari Jro Balian Ardi tampak terkejut mendengar ucapan Kakek Parjo. Dia terkejut karena Kakek Parjo memiliki seorang cucu dari bangsa Wong Samar.
Kakek Parjo lalu menjelaskan maksud dan tujuannya datang ke sana.
" Kalau begitu kamu oleskan minyak ini di tubuh adik dan orang tuamu . Minyak ini saya buat dari tanaman Penangkal Leak dan minyak ini juga sudah di mantrai dengan mantra Penangkal Leak ," ucap Jro Balian Ardi sambil menyerahkan sebuah botol kecil yang sudah berisi minyak.
Ketika urusan mereka sudah selesai , mereka lalu kembali ke rumah Kakek Parjo. Sesampai di rumah Kakek Parjo , Gayatri melihat Rara sedang makan kue bersama Nenek Ratih.
" Kalian pasti capek. Kalau begitu Nenek buatkan minuman dulu ya ? Kebetulan Nenek baru saja membuat kue klepon," kata Nenek Ratih yang langsung beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke dapur.
" Gandi , apa Ibumu sudah melahirkan ?"tanya Kakek Parjo pada Gandi.
__ADS_1
" Belum ,Kek. Tapi Ibu bilang perkiraan dia melahirkan lagi satu bulan," ucap Gandi.
"Nah , ini kue sama minumannya. Ayo di makan dulu ," kata Nenek Ratih sambil meletakkan kue dan minuman di meja.
" Terima kasih ,Nek," sahut Gayatri
Gayatri lalu makan kue itu sambil mengobrol.
*****
Sore harinya
" Gandi, ini sudah sore. Lebih baik kita pulang sekarang," ucap Gayatri sambil duduk di samping Gandi.
" Ya sudah, kalau begitu kita pamitan dulu sama Kakek dan Nenek," balas Gandi .
" Kakek , Nenek , aku mau pamit pulang. Takut kemalaman," ujar Gayatri sambil mencium punggung tangan Kakek Parjo dan Nenek Ratih.
" Kalau begitu tunggu dulu di sini . Kakek mau ke dalam dulu," balas Kakek Parjo yang langsung buru-buru masuk ke dalam kamarnya.
Tidak berselang lama , Kakek Parjo keluar dari kamarnya sambil membawa sebuah kotak .
" Gayatri , ini untuk Gayatri ," ucap Kakek Parjo sambil menyerahkan sebuah ponsel pada Gayatri
Mata Gayatri dan Gandi terbelalak lebar melihat ponsel itu.
" Maaf ,Kek. Aku tidak bisa menerima ini," tolak Gayatri. Dia tidak mau menerima ponsel itu karena harganya pasti sangat mahal.
" Ambillah ponsel ini. Kalau kamu menolak , lalu ponselnya untuk siapa ? Kakek juga sudah punya ponsel," kata Kakek Parjo
" Kakek , apa Gandi yang menyuruh kalian untuk membelikan aku sebuah ponsel ? Soalnya hanya Gandi yang tahu kalau aku ingin sekali memiliki ponsel," ucap Gayatri sambil melirik ke arah Gandi
__ADS_1
"Aku tidak menyuruh Kakek dan Nenek kok , "sshut Gandi . Dia tidak ingin Gayatri marah padanya karena salah paham.
" Tidak kok. Gandi hanya bercerita pada kami kalau dia ingin sekali membelikan Gayatri sebuah ponsel , tapi dia tidak tahu bagaimana caranya melakukan itu. Lalu kami membeli ponsel ini diam-diam , " terang Kakek Parjo.
" Tapi aku tidak bisa menerima barang semahal ini ,Kek," ucap Gayatri yang terus menolak.
" Nenek mohon , terimalah ponsel ini. Jangan mikirin harganya , karena semua yang kami miliki juga milik kalian," terang Nenek Ratih.
" Baiklah, Nek . Kalau begitu terima kasih atas ponselnya," balas Gayatri sambil tersenyum.
Jam 18 : 59 mereka masih ada di jalan. Di perjalanan yang lokasinya tidak jauh dari rumah Kakek Parjo listrik belum ada sehingga jalanan gelap gulita. Ketika mereka sudah mendekati jalan raya , di ujung jalan terlihat seekor babi betina yang ukurannya sebesar mobil , serta mempunyai taring yang sangat runcing.
Rara merasa ketakutan melihat mahkluk tersebut , tetapi Gayatri terlihat tenang-tenang saja. Gayatru lalu memberitahu Rara bahwa Babi Betina tersebut bukan Babi sungguhan atau mahkluk halus. Babi itu adalah manusia yang sedang mempraktekkan Ilmu Leak.
Dengan tenang Gandi dan Gayatri mendekati Babi tersebut. Si Babi dengan asyik mengais -ngais selokan mencari sesuatu. Dengan tiba-tiba Gandi meloncat dan langsung duduk di punggung si Babi sambil berpegangan erat di kupingnya. Si Babi sangat terkejut dan langsung berusaha untuk melepaskan diri dengan cara berlarian ke sana kemari serta menghantam- hantamkan tubuhnya di tembok.
Gandi terus berupaya untuk menaklukkan mahkluk tersebut , sesekali si Babi mencoba memakan Gandi yang ada di punggungnya namun tidak dapat di jangkaunya .
Setelah merasa sangat kelelahan, maka si Babi akhirnya menyerah dan berbicara memohon ampun. Lalu Gandi mencabut taring dan beberapa helai bulu si Babi dan melepaskan si Babi. Karena ketakutan si Babi berubah wujud menjadi bola api dan kemudian melesat ke salah satu rumah.
Sampai di rumah Gandi dan Gayatri menceritakan semuanya pada Wayan Rasta. Dia juga memperlihatkan taring si Leak ke pada mereka. Mata Gayatri terbelalak lebar melihat taring milik si Leak. Dia sangat terkejut karena taring yang terlihat tajam tersebut sebenarnya adalah kapas biasa dan bulu dari si Leak Babi ternyata rambut manusia.
Keesokan harinya, datang seorang wanita yang merupakan tetangga dari Kakek Parjo. Ternyata tetangga Kakek Parjo yang menjadi Leak Babi tersebut semalam. Wanita itu datang dan minta maaf pada Gayatri . Dia juga memohon agar taring dan rambut tersebut di kembalikan. Gayatri pun akhirnya mengembalikan benda rampasannya itu.
" Gandi , terima kasih karena kamu sudah melindungi Gayatri dan Rara semalam. Kamu memang selalu bisa di andalkan ," ucap Wayan Rasta
" Iya ,Pak" sahut Gandi
" Oh iya , kalau kamu ke rumah Kakek Parjo , tolong ucapkan terima kasih Bapak padanya karena sudah membelikan Gayatri sebuah ponsel"
" Iya ,Pak. Nanti akan aku sampaikan pada mereka. Kebetulan aku juga akan ke sana nanti sore," sahut Gayatri seraya menatap Wayan Rasta.
__ADS_1
" Kalau begitu ayo kita makan dulu ," ajak Wayan Rasta.