
Di rumah Nenek Tari.
Semenjak Wayan Rasta mengetahui kalau dirinya penekun Ilmu Leak , Nenek Tari setiap hari selalu marah-marah.
" Ibu , tenanglah dulu . Apa Ibu tidak capek marah-marah terus ? Mau sampai kapan Ibu marah-marah seperti ini ? " tanya Ketut Erni sambil menatap Ibunya dengan cemberut.
" Bagaimana Ibu tidak marah ? Semenjak Kakakmu itu menikah , dia tidak pernah takut pada Ibu. Apalagi kemarin, dia begitu marah pada Ibu . Walaupun Ibu sudah menjelaskan alasannya tapi dia tetap marah dan membawa putrinya pulang. Dia itu memang anak yang sangat durhaka. Berani sekali bicara seperti itu pada seorang Ibu yang sudah melahirkan dan membesarkannya. Dia tidak pernah berpikir bagaimana perjuangan Ibu saat melahirkannya. Seharusnya dia membalas semua pengorbanan Ibu , tapi dia malah begitu tega menyakiti hati Ibunya cuma karena masalah kecil . Ibu terpaksa belajar Ilmu Leak karena dulu Ibu tidak kuat dengan sikap Bapakmu. Kamu sendiri pasti tahu bagaimana sikap almarhum Bapakmu pada Ibu. Almarhum Bapakmu setiap hari kerjanya marah-marah terus pada Ibu. Wanita mana yang kuat di perlakukan seperti itu ? Pasti tidak akan ada yang kuat," tutur Ibu Tari dengan wajah merah padam. Hingga sekarang dia tidak bisa melupakan semua ucapan Wayan Rasta. Dari dulu dia sudah berusaha membuat anaknya itu patuh padanya tapi tetap saja semua usahanya tidak pernah berjalan dengan lancar.
" Aku mengerti apa yang Ibu rasakan. Aku juga dari dulu tidak suka dengan Bli Wayan, tapi mau bagaimana lagi ,Bu ? Saat ini aku malah takut ," ujar Ketut Erni menunduk. Dari kemarin dia merasa begitu ketakutan setelah Ibunya memberitahu kalau Kakaknya sudah tahu mengenai dirinya dan sang Ibu yang mempelajari Ilmu Leak. Dia takut Kakaknya memberitahu orang lain mengenai dirinya yang sebagai penekun Ilmu Leak. Dari kemarin dia terus memikirkan semuanya hingga kepalanya menjadi teramat sakit.
" Memangnya apa yang kamu takutkan hingga wajahmu menjadi pucat begitu ?" tanya Nenek Tari sambil menatap Ketut Erni yang seperti banyak pikiran.
" Bu , saat ini Bli Wayan sudah tahu kalau kita Penekun Ilmu Leak. Aku takut Bli Wayan memberitahu orang lain mengenai semuanya. Kalau Bli Wayan memberitahu orang lain dan keluarga suamiku tahu maka rumah tanggaku bisa hancur. Aku tidak mau rumah tanggaku hancur ,Bu. Kalau rumah tanggaku hancur lalu apa gunanya aku belajar Ilmu Leak ? Ibu juga pasti tidak ingin kalau rumah tanggaku jadi hancur kan ? " tanya Ketut Erni sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
" Jadi dari tadi kamu diam saja karena memikirkan hal itu ?"
" iya ,Bu." Jawab Ketut Erni
__ADS_1
" Kamu tenang saja , dia tidak akan memberitahu siapapun mengenai hal ini," balas Ibunya sambil mengusap rambut Ketut Erni.
" Kenapa Ibu begitu yakin kalau Bli Wayan tidak akan memberitahu siapapun ? " tanya Ketut Erni dengan alis mata terangkat. Dia jadi penasaran kenapa Ibunya begitu yakin kalau Kakaknya tidak akan memberitahu siapapun mengenai dirinya dan sang Ibu yang belajar Ilmu Leak.
" Ibu sangat tahu bagaimana sifat Kakakmu itu. Walaupun dia marah pada keluarganya , tapi dia tidak mungkin memberitahu orang lain. Apalagi dia tidak memiliki sebuah bukti. Bicara tanpa bukti tidak akan ada yang percaya. Jadi kamu tidak usah sampai takut begitu," ujar Ibunya yang berusaha meyakinkan Ketut Erni.
" Ibu memang benar. Orang lain tidak akan percaya dengan ucapan Bli Wayan karena dia tidak memiliki bukti apapun," ucap Ketut Erni sambil tersenyum .
" Seharusnya aku mikir kesana dari kemarin," pikir Ketut Erni yang terlihat senang.
" Itu ide yang bagus ,Bu. Tapi apa Ibu bisa melakukannya ? " tanya Ketut Erni dengan alis mata terangkat.
" Itu masalah gampang bagi Ibu. Serahkan saja pada Ibu," ucap Ibunya sambil tersenyum licik.
Gandi yang berada di sana mendengar dengan sangat jelas semua percakapan mereka. Pria itu begitu membenci Nenek Tari karena menurutnya Nenek Tari seperti memiliki dua wajah. Di depan Gayatri dia terlihat begitu baik dan lemah, tetapi di belakang Gayatri dia seperti iblis. Gandi lalu pergi menemui Gayatri.
Setelah sampai di kamar Gayatri , dia melihat Lio yang sedang bercerita pada Gayatri. Gandi lalu duduk di samping Gayatri sambil menatap gadis itu.
__ADS_1
" Gandi , kamu sudah datang ? Lalu bagaimana ? Apakah ucapan Lio benar ? "tanya Gayatri yang sudah tidak sabar menunggu jawaban Gandi.
" Yang di ucapkan oleh Lio memang benar. Nenek Tari ingin balas dendam dengan Bapakmu," jawab Gandi
" Memangnya Bapak melakukan apa pada Nenek ,sehingga Nenek ingin balas dendam ? " tanya Gayatri penasaran.
" Nenek Tari ingin balas dendam karena Bapakmu telah mengetahui kalau dirinya penekun Ilmu Leak. Dia juga tidak terima ketika Bapakmu marah-marah padanya. Aku heran , kenapa Nenekmu benci banget pada Bapakmu ? " tanya Gandi sambil menaikkan sebelah alisnya.
" Aku juga tidak tahu. Tapi menurut Bapak kalau dari kecil dia sudah sangat menderita. Dulu kalau almarhum Kakek Danar ke kota , Nenek Tari sering menghukum Bapak. Aku bahkan mendengar semua kisahnya tidak hanya dari mulut Bapak sendiri. Aku bahkan juga mendengarnya dari tetangga dekat rumah Nenek Tari dan juga dari Kakek Parjo. Kalau almarhum Kakek Danar ke kota , Nenek Tari sering menyembunyikan makanannya dan tidak mengizinkan Bapak makan. Bapak di izinkan makan jika sudah bekerja dan membawa uang. Makanya dulu Bapak sering kelaparan dan Kakek Parjo sering memberi makanan. Bahkan Bapak pernah mencuri makanan di rumah tetangga karena perutnya begitu lapar. Setelah Nenek Tari tahu kalau Bapak mencuri makanan, Bapak langsung di pukul lalu kemudian mulutnya di masukkin abu kayu bakar," tutur Gayatri
" Kejam banget ," sahut Lio
" Bapak juga di larang pergi ke sekolah. Lalu di suruh bekerja di kebun . Ketika almarhum Kakek pulang , dia mengadu pada Kakek kalau Bapak tidak ingin pergi Ke Sekolah dan sering bolos. Padahal nyatanya Nenek Tari tidak mengizinkan Bapak pergi ke sekolah. Kalau almarhum Kakek tidak ada , Nenek ngasi makanan ke Bapak sangat sedikit sekali. Makanya kalau almarhum Kakek pulang Bapak pasti sangat senang sekali, karena kalau Kakek pulang dia tidak perlu pergi bekerja," terang Gayatri sambil meneteskan air matanya.Dia begitu kasihan pada Bapaknya.
" Mungkin Nenek Tari membenci Bapakmu karena almarhum Kakek Danar membeda-bedakan anaknya ?" ujar Gandi
" Dari yang aku tahu dari Kakek Parjo. Almarhum Kakek Danar tidak pernah membedakan anak-anaknya. Hanya saja saudara Bapak sangat malas sekali dan sering menyuruh-nyuruh Bapak. Karena itu almarhum Kakek Danar jadi kasihan pada Bapak. Almarhum Kakek Danar juga sudah tahu kalau Nenek Tari sering menyiksa Bapak , karena Kakek jadi begitu perhatian pada Bapak,"
__ADS_1