
Bayu terperanjat dengan wajah kebingungan, dia merenung sejenak dan mengingat-ingat kejadian yang baru saja dia alami. Dia masih ingat betul dengan wajah Timbul yang lucu. Rumah sepi yang menjadi arena mereka bermain seharian. Dan sekarang dalam sekejap mata semua sudah berubah kembali normal. Anak ini masih berpikir dengan keras untuk mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi.
Dikejauhan Marni sibuk mencari anaknya dibantu warga sekitar. Suaminya yaitu Suda juga telah datang dengan wajah yang panik. Peluh yang mengucur membasahi badan menandakan ayah ini begitu mencemaskan anaknya. Apalagi Bayu adalah anak kesayangan yang tak mungkin dibiarkan begitu saja.
Hari mulai sore mendekati pukul 17.00, Marni dan Suda mulai merasa putus asa. Mereka berhenti sejenak dan mendengarkan sebuah suara samar-samar. Mata mereka berusaha mencari sumber suara yang masuk ke telinga mereka.
"Ayah, Ibu aku di sini...", suara itu terdengar samar dan merintih.
Suda dan Marni merinding dan saling mendekatkan dirinya.
"Pak, suara itu, apa itu anak kita?" bisik Marni kesuaminya sambil melihat keadaan sekitar.
"Bapak gak tahu Bu, coba cari dari arah mana suara itu?" jawab Suda dengan nada ketakutan.
Ayah, Ibu cepat kemari! Aku takut", suara itu makin menjadi-jadi diiringi suara tangis yang menyayat hati.
Hari makin gelap, beberapa warga mulai ada yang pulang meninggalkan mereka. Beberapa warga menyalakan lampu di ponsel mereka sebagai sumber cahaya. Hari itu begitu sepi, hanya terdengar jangkrik dan belalang yang menyanyi di balik dedaunan.
Dari balik semak Bayu mulai ketakutan, dia tidak bisa melihat dengan jelas. Suara-suara aneh di balik kegelapan membuat kaki anak itu lemas dan sulit bergerak. Dia hanya merintih sambil sesekali memanggil ayah dan ibunya.
Nuja seorang pesuruh di TK tersebut masih ikut mencari di tengah kegelapan bersama beberapa warga lainnya. Dia sedikit ingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Kejadian yang hampir sama pernah terjadi. Dia berinisiatif mendekati Suda dan Marni.
"Bapak dan Ibu mohon maaf, bisa minta waktunya sebentar", kata Pak Nuja menghampiri Suda dan istrinya Marni di dekat batu besar angker tadi.
"Iya Pak, ada yang bisa saya bantu?" sahut Suda mendekatkan dirinya ke arah belakang.
"Begini Pak, dulu juga ada kejadian yang seperti ini, orang tua anak tersebut hanya menghaturkan permen di batu itu dan anaknya di temukan", kata Nuja sambil memberikan 3 buah permen kepada Suda.
"Baik Pak, akan saya coba semoga bisa cepat ketemu anak saya", sahut Suda sambil menerima permen pemberian Pak Nuja.
__ADS_1
Orang paruh baya itu berlari menuju ke selatan menuju batu besar yang mengeluarkan aura mistis. Suara-suara mulai terdengar di kegelapan malam itu. Tangan Suda mulai gemetar menjelang lima meter mendekati batu. Langkah kakinya berat seakan ada yang menarik dan menahan kakinya. Bulu kuduknya mulai berdiri saat langkahnya terasa ada yang mengikuti. Langkahnya terasa begitu ringan dan cepat seketika menangkap tangan Suda yang sudah berceceran keringat dingin.
Tangannya merasakan aura dingin dari seseorang dan jantunya berdegup dengan kencangnya. Dengan rasa takut yang amat sangat menghinggapi tubuhnya, Suda berusaha menoleh ke belakang dan melihat siapa yang mengikutinya.
"Marni, kenapa kamu ke sini? Bikin kaget saja", kata Suda kepada orang yang mengikutinya tadi.
"Aku...aku ikut saja Pak, enggak boleh?" sahut Marni memalingkan wajahnya yang juga terlihat ketakutan di tengah malam.
"Iya, tapi jangan mengendap-endap seperti itu", suara Suda sedikit kesal seraya melanjutkan langkah menuju batu itu.
Sesaat kemudian Suda dan Marni telah berada di depan batu besar itu. Mereka segera menghaturkan tiga buah permen lalu berdoa kepada Sang Pencipta agar anaknya segera ketemu.
Melihat kejadian itu, Timbul yang berada di rumahnya di dimensi yang yang berbeda dengan manusia, melihat Suda dan istrinya datang membawa tiga buah permen. Dia terlihat gembira mendapat suguhan permen, dan mengambilnya.
"Ibu, semoga dengan doa tulus kita Sang Pencipta memberi petunjuk dimana anak kita", kata Suda sambil menggandeng tangan Marni.
"Iya Pak, kita sudah berusaha mencarinya. Kita hanya bisa pasrah kepada beliau", sahut Marni dengan nada sedih dan hampir menangis.
Tabir penghalang mulai memudar dan melepaskan tubuh Bayu yang sudah menggigil kedinginan. Dia sudah benar-benar berada di alam manusia dan merasakan keberadaan ayah ibunya. Dari balik batu besar itu dia mencoba berdiri dan menemukan orang tuanya.
"Ayah, Ibu aku disini", suara Bayu begitu jelas terdengar dari balik batu.
Suda dan Marni menoleh ke arah batu tersebut memastikan apakah itu memang Bayu atau makhluk jadi-jadian. Dengan rasa takut dan was-was mereka mendekati batu itu. Sedikit demi sedikit mata mereka melihat tubuh mungil yang meringkuk dan menggigil di balik batu.
Betapa terkejut mata Suda dan Marni menyaksikan anaknya begitu ketakutan dan menggigil sendirian. Tangan Suda segera meraih anak itu dan menggendongnya.
"Nak, kamu kenapa? Kamu kemana tadi?" tanya Suda sambil menggendong Bayu menuju depan sekolah di mana warga berkumpul di sana.
"Nak, Ibu cemas denganmu, kamu tidak apa-apa bukan?" Marni bertanya sambil menangis sesenggukan mengikuti langkah Suda yang dengan cepat menerobos kegelapan malam.
Di sana warga dengan hati lega telah menunggu kedatangan Bayu dan orang tuanya. Beberapa warga ada yang ikut mengantar pulang, takut jika terjadi sesuatu lagi kepada Bayu di jalan.
__ADS_1
Keesokan harinya, Bayu tidak mengikuti pelajaran seperti biasanya. Dia terpaksa di rumah sementara menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Suda yang merasa sangat khawatir dengan keadaan Bayu memutuskan untuk cuti bekerja selama beberapa hari. Anak itu sekarang di jaga ketat dan tidak boleh keluar rumah.
Sementara itu, Timbul telah menunggu di sebelah rumahnya menantikan kedatangan Bayu. Dia sedikit marah karena sudah lewat beberapa jam Bayu tidak muncul. Dia mulai geram dan mulai ganas. Makhluk itu mendelik dengan merubah tubuh lucunya ke wujud aslinya. Matanya mendelik merah dengan taring tajam yang keluar dari mulutnya. Lidah menjulur disertai ludah yang menyerupai api menyala jatuh bercucuran. Rambutnya panjang hingga menyentuh tanah. Timbul mengibas-ibaskan kukunya yang panjang dan tajam.
Tepat pukul 18.00 mendekati senja kala, Timbul melesat dengan kecepatan tinggi mencari keberadaan Bayu. Dengan pencuimannya yang tajam Bayu dapat ditemukan di kamar.
Suda dan Marni masih sibuk tidak sempat melihat keadaan itu. Marni baru selesai memasak untuk makan malam. Suda baru selesai sembahyang. Keduanya masih tidak sadar dengan hal yang akan terjadi.
Di luar rumah, suara anjing tiba-tiba melolong dengan kerasnya memecah kesunyian malam. Mereka melolong dan saling bersahutan memberi kode bahaya. Marni yang penasaran segera mengintip dari balik jendela, namun matanya tidak menangkap apapun.
Angin dingin mulai mendesis di antara jendela yang belum tertutup sempurna. Di tempat duduknya, Suda terus memperhatikan suasana yang menurutnya janggal. Dia menutup jendela dan pintu masuk agar angin tidak mengganggunya.
Timbul dengan kekuatannya berhasil masuk pekarangan rumah Bayu. Dia mulai beraksi mencari dan menakut-nakuti anak itu. Suda dan Marni yang duduk di kamar tamu mulai gelisah. Udara tiba-tiba panas dan tak mengenakkan menyeruak di tengah rumah.
"Bu, Bayu di mana?" Suda mulai cemas dan menanyakan keberadaan Bayu.
"Dia di kamar, baru habis makan", jawab Marni tanpa merasakan hal aneh yang akan terjadi.
Suda tetap masih cemas dan jantungnya berdegup kencang. Suara lolongan anjing semakin menjadi-jadi membuat bulu kuduk merinding.
"Duuukkkkk".
"Brrrruuuuukkkkk".
Tiba-tiba plafon rumah bergetar keras seperti ada sesuatu yang jatuh dari atas menabrak atap rumah.
"Suara apa itu Bu?" Suda terkesiap dan seraya berlari keluar melihat atap rumahnya.
"Apa itu Pak?" Marni ikut di belakang suaminya berlari mendongak keatas.
Mereka terdiam, ternyata atap rumahnya baik-baik saja. Mereka saling menoleh dengan muka yang bingung. Suami istri itu masuk kembali ke rumahnya dengan langkah yang lemas. Belum sampai di dalam rumah, suara tangisan anak kecil menjerit terdengar dari dalam kamar.
__ADS_1
Bayu menangis dan menjerit histeris serta tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Badannya tiba-tiba panas dengan suhu yang tidak normal. Matanya mendelik serta kaki dan tangannya kaku. Marni yang ketakutan ikut menjerit dan lemas. Suda yang terkejut juga ikut panik malam itu.