
Malam harinya.
Suasana malam ini sedikit berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Suara cicak terus berbunyi tiada henti , menandakan akan ada yang datang ke rumah Kakek Surya.
Dari jauh ada Leak Celuluk sedang menatap ke arah rumah Gayatri. Leak Celuluk itu adalah jelmaan dari Nenek Tari.
Saat ini Gandi sedang pergi ke bangsa Wong Samar melihat Ibunya yang baru saja melahirkan.
Di belakang rumah Kakek Surya juga ada banyak Leak Monyet. Mereka semua menunggu Gayatri tertidur lelap .
" Gayatri, biar Bapak temani ya ? Kalau tidur sendiri, nanti malah ada yang mengganggu Gayatri," ucap Wayan Rasta pada putrinya.
" Tidak usah , Pak . Tidak akan ada yang bisa menggangguku saat ini. Apa Bapak lupa kalau semenjak aku tidak makan daging mereka tidak bisa menggangguku," kata Gayatri menjelaskan.
" Tetap saja Bapak merasa takut. Takut keadaan Gayatri seperti kemarin lagi," sahut Wayan Rasta sambil menatap wajah putrinya.
" Baiklah , kalau begitu Bapak boleh menemaniku, " balas Gayatri yang memilih mengalah. Dia mengerti kalau Bapaknya pasti khawatir dengannya.
Ketika larut malam , Gayatri terbangun karena ingin pergi ke kamar mandi.
Leak Celuluk itu menari-nari di depan Gayatri. Tapi Gayatri tidak menghiraukannya sama sekali. Dia juga ingin menyentuh Gayatri tapi usahanya tetap gagal.
Setelah Gayatri tidak makan daging, tidak ada yang berani mengganggu. Dia juga merasa lebih tenang dan rasa takut yang sering menghantuinya juga hilang begitu saja. Dulu dia begitu takut jika tidur sendiri, tapi setelah tidak makan daging rasa takutnya itu juga hilang.
Karena tidak bisa menyakiti Gayatri sedikitpun, para mahkluk halus dan para Leak akhirnya pergi.
Besok paginya Gayatri membantu Ibunya membuat pesanan canang.
__ADS_1
" Gayatri, apa Gandi masih di bangsa Wong Samar ? " tanya Luh Ani sambil menatap putrinya.
" Masih ,Bu. Kan baru kemarin dia pergi ke sana," sahut Gayatri sambil mengambil bunga.
" Walaupun Gandi baru pergi kemarin , tapi Ibu yakin kalau kamu pasti merindukannya. Apalagi kalian dari kecil selalu bersama," ucap Luh Ani sambil menatap putrinya yang terlihat malu-malu.
"Ibu , apaan sih ? " sahut Gayatri dengan wajah merona.
" Tidak usah malu begitu . Lagian kamu juga akan lulus SMA lagi satu bulan. Dan lagi beberapa minggu kami juga akan menyempurnakan pernikahan kalian," tutur Luh Ani.
" Apa Ibu tidak marah karena aku di nikahkan dengan mahkluk Wong Samar ? " tanya Gayatri dengan penasaran.
" Awalnya kami marah , tapi mau bagaimana lagi ? Pernikahan itu sudah terjadi. Kalau kami menyuruh kalian berpisah dengan statusmu yang sudah menjadi istri Wong Samar itu sangatlah sulit. Orang yang sudah menikah dengan bangsa Wong Samar sangat sulit di pisahkan . Kalau kami memaksa kalian berpisah maka salah satu dari kalian bisa saja akan sakit atau meninggal jika kalian tidak kuat menerima perpisahan itu. Apalagi kalian sudah bersama-sama dari kecil, dan Gandi juga selalu baik dengan kita. Dan satu lagi dia juga putra dari Kadek Ayu, jadi walau Gandi bangsa Wong Samar, tapi masih ada campuran darah manusia di tubuhnya. Jadi karena itu kami menerima pernikahan kalian," terang Luh Ani sambil menjahit canang.
" Terima kasih ,Bu."
" Dan satu lagi. Ibu sama Kakek Surya akan membuka mata batin kami. Soalnya Ibu ingin melihat wajah menantu Ibu," ucap Luh Ani tersenyum.
" Ibu akan melawan rasa takut itu seperti Gayatri yang selalu melawan rasa takut Gayatri. Lagian kamu juga sudah memberikan minyak penangkal Leak untuk kami, jadi rasa takut Ibu langsung hilang," ungkap Ibunya.
" Lalu kapan Ibu akan membuka mata batin Ibu ? " tanya Gayatri dengan alis mata terangkat.
" Nanti sore . Kata Bapakmu kalau Gandi sangat tampan jadi Ibu penasaran sekali dengan wajahnya,"
" Setelah membuka mata batin Ibu , maka Ibu bisa menilai sendiri apakah Gandi tampan atau tidak . Oh iya Bu, kenapa hari ini Ibu membuat banyak sekali canang ? Biasanya tidak sebanyak ini ," ujar Gayatri sambil membungkus canang yang sudah selesai di buat.
" Ini ada pesanan dari Ibu Wati. Dia memesan banyak canang karena mau di bawa ke Pura Kereban Langit untuk meminta keturunan," kata Luh Ani menjelaskan.
__ADS_1
" Kenapa dia meminta ke turunan ke sana ? " tanya Gayatri semakin di buat bingung.
" Pura itu dari dulu memang sudah di yakini warga sebagai tempat untuk memohon keturunan atau anak. Cerita tersebut berawal dari Ayahanda Raja dari Sri Maharaja Masula dan Sri Masuli yang merupakan Raja kembar yang pernah memerintah Bali. Sebelum Sri Maharaja di lahirkan, Ayahanda beliau kebingungan karena belum di anugrahi keturunan.Kemudian beliau memohon kepada Ida Bhatara Toh Langkir ( Gunung Agung ) agar permaisurinya bisa di karuniai anak. Dari permohonan beliau yang kusuk di dapatkan petunjuk untuk mencari Tirtha Salaka. Kemudian diutuslah seorang Brahmana untuk menemukan Tirta Salaka tersebut. Dalam perjalanannya sang Brahmana sampai dan ketemu dengan seorang Pertapa di dalam goa, lalu didapatkanlah petunjuk bahwa Tirtha Salaka tersebut ada di dalam goa tersebut yang sekarang bernama Pura Kereban Langit. Oleh Sang Brahmana dihaturkanlah air suci tersebut kepada sang permaisuri,dan akhirnya beliau hamil dan melahirkan anak kembar buncing ( laki-perempuan ) dan bernama Sri Masula dan Sri Masuli. Sehingga sampai saat ini Pura Kereban Langit di Sading di yakini warga sebagai tempat untuk memohon keturunan atau anak," tutur Luh ani.
" Lokasinya di mana ,Bu ? " tanya Gayatri dengan raut wajah semakin penasaran.
" Lokasinya terletak di Desa Adat Sading, kecamatan Mengwi ,Badung. Puranya berada di dalam Goa , namun Goa itu tidak seutuhnya tertutup,"
Selesai membantu Ibunya , Gayatri pergi ke kamarnya untuk tidur siang. Wayan Rasta sedang pergi membawa pesanan canang bersama adiknya. Kakek dan Neneknya sedang pergi kundangan .
" Gayatri, Ibu mau pergi membawa pesanan canang tetangga di sini ya? Sekalian Ibu mau membeli bunga juga. Kamu tidak apa-apa kan di rumah sendiri ? " tanya Luh Ani sambil menatal putrinya yang sedang mengumpulkan buku yang akan dia kembalikan ke sekolah.
" Iya aku tidak apa-apa . Biasanya juga aku selalu sendiri," balas Gayatri.
" Sendiri apaan ? Orang setiap hari kamu selalu bersama Gandi. Kalau kamu takut sendiri panggil saja suamimu," kata Ibunya.
" Dia kan lagi melihat Ibunya , masa aku mengganggunya .Ibu tenang saja , aku berani kok sendiri ,"gumam Gayatri yang langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya. Dia lalu menutup matanya karena merasa mengantuk.
Namun tiba-tiba saja ada yang mencium pipinya. Gadis itu membuka mata, namun dia tidak melihat siapapun di sana.
" Apa aku bermimpi ? Tapi aku merasa itu nyata kok," gumam Gayatri merasa bingung.
Tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.
" Selamat siang ,istriku. " Gandi berbisik di telinga Gayatri.
" Gandi, kamu kapan datang ?" tanya Gayatri
" Baru saja. "
__ADS_1
"Gayatri, aku kangen banget denganmu,"ucap Gandi yang terus memeluk Gayatri.
Pria itu terus memeluk Gayatri hingga keduanya ketiduran.