MELIK

MELIK
Pohon Taru Curiga dan Pura Tegal Penangsaran


__ADS_3

" Salam Ayahanda," ucap Gandi dan Lio bersamaan.


" Duduklah," ucap Raja Wong Samar pada mereka.


"Gandi , tolong maafkan Ayahanda. Gara-gara Ayahanda semuanya jadi seperti ini," ucap Raja Wong Samar seraya menatap putranya.


" Lalu sekarang kita harus bagaimana , Ayahanda ? Aku tidak ingin berpisah dengan Gayatri. Aku sangat menyayagi Gayatri" ujar Gandi seraya menatap Ayahnya.


"Maafkan Ayahanda , saat ini Ayahanda tidak punya solusi apapun. Tapi Ayahanda akan coba bertanya dengan Kakek , siapa tahu Kakek punya solusi mengenai masalah ini,"kata Raja Wong Samar seraya menatap putranya yang terlihat begitu sedih.


" Tapi Kakek saat ini sedang pergi ke rumah sahabatnya. Entah kapan Kakek akan pulang," ujar Lio seraya menatap Raja Wong Samar.


" Nanti Ayahanda akan mengirim surat untuk Kakek agar dia segera pulang. Kita berdoa saja supaya Kakek punya solusi,"


" Baiklah, kalau begitu kita permisi dulu Ayahanda," ujar Lio dengan tubuh sedikit membungkuk.


Lio keluar dari ruangan Raja Wong Samar di ikuti oleh Gandi yang dari tadi hanya diam saja. Dia terlihat tidak bersemangat sama sekali. Berkali-kali Lio mengajaknya bicara tapi pikiran Gandi entah berada di mana saat ini.


Saat sepupunya mengejeknya ,dia bahkan tidak peduli dengan ucapan sepupunya yang menganggapnya sangat cengeng . Dia juga tidak membalas ejekan mereka

__ADS_1


" Gandi ...Gandi ..." Kadek Ayu berkali-kali memanggil putranya , namun Gandi seperti tidak mendengar panggilan darinya.


Gandi terus berjalan dan menuju ke kamarnya.


" Kasihan Gandi , dia pasti sangat sedih saat ini," ucap Kadek Ayu seraya memandang pintu kamar Gandi yang saat ini sudah tertutup .


" Iya ,Ibunda. Lebih baik kita biarkan saja dulu Gandi sendiri," kata Lio seraya menatap Kadek Ayu yang juga terlihat sedih memikirkan putra pertamanya.


Di dalam kamarnya Gandi menangis memikirkan semuanya . Menurutnya ini adalah pilihan yang sangat berat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Di rumah Wayan Rasta.


" Gayatri , sudah jangan melamun terus. Mungkin Gandi sedang sibuk di sana ," ucap Luh Ani pada putrinya. Dia mengerti putrinya itu pasti merasa kesepian , karena biasanya Gandi dan Gayatri selalu mengobrol dan tertawa di ruang tamu kalau jam segini.


" Aku hanya khawatir saja pada Gandi ,Bu. Karena tidak seperti biasanya dia seperti ini," kata Gayatri seraya membantu Ibunya memotong sayur-sayuran.


" Sabar ya ,nak. Jangan berpikir negatif dulu. Mungkin Gandi saat ini memang sedang ada kerjaan di sana,"

__ADS_1


Tiba-tiba Rara datang dan duduk disamping Ibunya.


" Ibu , sebenarnya apa itu Pohon Taru Curiga ? " tanya Rara seraya menatap Ibunya.



" Dalam kepercayaan Bali , Taru Curiga atau dalam bahasa sansekerta disebut asapitra. Taru Curiga merupakan sebuah pohon raksasa yang tumbuh di Tegal Penangsaran, atau bisa disebut Nerakaloka, tempat para arwah mempertanggungjawabkan karma buruk mereka semasa hidup di dunia fana. Taru Curiga ini adalah salah satu perwujudan dari karma buruk manusia yang menanti kita di Suniyaloka atau dunia akherat. Kata curiga di sini diartikan keris atau belati yang memiliki dua sisi yang tajam dan satu ujung yang runcing. Taru Curiga digambarkan sebagai pohon yang tak memiliki daun sehelaipun, batangnya dipenuhi dengan duri berupa taji yang sangat tajam dan setiap cabangnya ditumbuhi buah berupa keris atau belati yang jumlahnya tak terhingga yang siap menghujami para arwah yang berada di bawahnya."


" Seram banget ya ,Bu ? Rara jadi takut,"


" Makanya jangan jadi anak yang nakal. Simbol pohon Taru Curiga bisa kita jumpai di areal Pura Dalam Puri Besakih, tepatnya di belakang palinggih Tegal Penangsaran ada sebuah pohon yang menjadi penggambaran Taru Curiga ini , di mana jiwa orang mati akan berteduh di bawah Sang Taru Curiga dan mendapatkan penghakiman atas karma buruknya dalam mengucapkan sesuatu yang tidak baik. Seluruh arwah yang memasuki dunia akhirat akan mendapatkan giliran untuk berteduh di bawah Sang Taru Curiga, karena dalam ajaran Bali setiap manusia pasti melakukan karma buruk, maka semua orang sudah pasti akan merasakan hujaman buah pohon ini, namun bagi arwah yang karma buruknya terlalu banyak, Sang Taru Curiga akan menjulurkan akar-akarnya lalu menjerat sang arwah dan menghujaminya dengan buah senjata berkali-kali, sehingga ketika reinkarnasi arwah itu akan terlahir dengan cacat fisik."


" Kalau Tegal Penangsaran itu apa ,Bu ?"


" Tegal Penangsaran adalah area yang luar biasa kering seperti padang pasir. Di sana terlihat banyak orang yang berbaring tidak bisa jalan dan di sini banyak mayat-mayat yang belum di upacarai," terang Luh Ani


" Ibu , benarkah di Pura Dalem Puri Besakih ada Pura Tegal Penangsaran ? "


" Pura Tegal Penangsaran tak hanya ada di Pura Dalem Puri Besakih, namun juga ada di desa Tukadmungga,Buleleng . Di tempat inilah para roh ditentukan, apakah menuju tempat yang baik ataukah buruk. Dan keputusannya disesuaikan dengan perbuatannya semasa hidup di dunia. Menurut cerita terdahulu dari para tertua, sebelum pelinggih dibangun di Pura itu, areal itu hanya terdapat satu Pohon Bunga Menori Putih yang tumbuh di sebuah tanah lapang di desa Tukadmungga. Tanah tersebut tidak berbentuk persegi seperti lahan kosong pada umumnya, namun berbentuk segitiga sempurna. Konon karena warga sekitar tidak mengetahui tempat tersebut angker , ada salah satu warga yang mencabut Pohon Menori tersebut ,dan ditanam di rumahnya."

__ADS_1


" Lalu apa yang terjadi setelah itu ? " tanya Gayatri yang ikut penasaran.


" Tidak berapa lama, warga tersebut pun dibayang-bayangi makhluk gaib. Dia juga selalu diteror dan diminta untuk mengembalikan benda yang diambil dari tanah lapang tersebut. Benda yang dimaksud adalah Pohon Menori itu. Selain dibayang-bayangi makhluk gaib, kejadian aneh juga dirasakan oleh warga itu. Seperti ketika usai memasak, nasi yang telah matang tiba-tiba habis bersama lauk-lauknya. Padahal, warga itu belum sempat menikmati masakannya. Akhirnya warga tersebut mengembalikan dan menanam kembali Pohon Menori di tempat semula, sembari menghaturkan sebuah Banten. Saat itulah terkuat jika tanah lapang berbentuk segitiga itu merupakan tempat berkumpulnya para roh yang akan di adili. Kejadian lain juga terjadi saat akan dilakukan pembangunan untuk mendirikan pura tersebut. Pohon Kamboja besar yang ada di tanah lapang itu dicabut dan dijual ke salah satu pemilik Villa. Setelah itu, si penjual tidak pernah merasakan tidur dengan tenang. Setiap malam terbangun dan mendengar suara agar mengembalikan Pohon Kamboja itu ke tempatnya. Kejadian itu terjadi berulang kali, hingga akhirnya penjual pohon tersebut tidak tahan, dan mengembalikan Pohon Kamboja itu dan menanamnya kembali di tempat semula. Kini posisi Pohon Kamboja tersebut terletak di dalam area pura sebelah kanan pintu masuk. Sebelumnya banyak warga yang melihat hal-hal aneh di sekitar tempat itu saat belum dibangun pura seperti sekarang. Dari sana muncul inisiatif warga untuk membuatkan pelinggih." Terang Luh Ani seraya tersenyum.


__ADS_2