MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA

MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA
Bab 19 : Kembali pulang


__ADS_3

Alvino kembali ke tempat di mana Helena tadi berada.


"Helena, ada apa?" tanya Alvino saat melihat Helena tertunduk.


"Alvino... aku mohon kepadamu jangan tinggalkan aku." ucap Helena sambil menangis dan memeluk Alvino.


"Helena, apa yang kamu lakukan?" pekik Alvino sambil berusaha melepaskan pelukan Helena.


"Aku sudah mendengarnya, kamu berjanji akan segera pulang pada Husna. Lalu, bagaimana janjimu terhadapku? janji bahwa kamu akan tetap berada di sisiku hingga aku sembuh?"


Alvino menghela nafas panjang, dia baru menyadari bahwa perkataan Husna memang benar adanya.


Jangan mudah untuk membuat janji jika ternyata tidak akan bisa ditepati. Karena, itu hanya akan menyakiti hati orang lain.


Alvino kemudian menenangkan Helena, setelah berhasil menenangkan Helena. Alvino mendatangi kedua orang tua Helena dan mengutarakan niatnya untuk membawa Helena pergi bersamanya.


"Nak, Helena itu sedang sakit. Bagaimana jika terjadi sesuatu?"


"Insyaallah, saya akan menjaga Helena hingga Helena jauh lebih baik. Ini juga atas permintaan istri Alvino, Husna."


Mama dan Papa yang mendengar itu tentu saja saling berpandangan dan dalam hatinya terharu.


"Semoga, suatu saat nanti mama dan papa berkesempatan untuk bertemu dengan istrimu yang memiliki hati mulia." ucap mama.


Helena tersenyum bahagia saat dia mengetahui bahwa kedua orang tuanya mengizinkan Alvino untuk membawanya pergi.


Helena merasa bahagia karena sekarang dia akan selalu bersama dengan Alvino.


Sementara Alvino, sedikit bingung dan mulai berpikir apakah keputusannya membawa Helena masuk ke dalam bahtera rumah tangganya adalah hal baik atau justru akan membawa hal buruk.


Husna memutuskan untuk tinggal di rumah, karena dia tidak ingin mama dan kakak iparnya tahu tentang kesedihan yang dia rasakan.


Husna semakin menangis tak kalah dia mengetahui bahwa dirinya positif hamil.


"Ya Allah, sungguh sempurna ujian yang engkau berikan. Semoga engkau memberikan aku kesabaran agar aku bisa melewati ujian yang Engkau berikan."


Husna memilih untuk menyembunyikan hasil tes itu. Karena tidak mungkin juga dia akan memberitahukan berita gembira itu di saat, dia akan bertemu dengan seseorang yang sangat dicintai suaminya dan juga mencintai suaminya.


Alvino sudah tiba di Indonesia, Alvino mengira Husna berada di mansion. Karena itu, Alvino langsung bertolak dari bandara menuju mansion.


Sesampainya di mansion. Tentu saja, mama dan kakaknya terkejut karena Alvino datang bersama dengan Helena.


Tatapan sinis langsung didapatkan Alvino juga Helena.


"Ma, tolong. Alvino bisa menjelaskan, sekarang biarkan Helena beristirahat. Dia sedang sakit." pekik Alvino.

__ADS_1


Alvino lalu meminta pelayan untuk membawa Helena beristirahat di kamar tamu, sementara Alvino mengikuti langkah kaki Mama dan Kakak perempuannya.


Setelah duduk, Alvino menceritakan tentang dirinya yang mendapat surat dari Lalisa dan kondisi Helena yang memprihatinkan.


"Jadi kamu berbohong kepada Husna, dengan mengatakan kamu sedang mencoba untuk menyelesaikan pendidikan? suami macam apa kamu yang sudah berani membohongi istri kamu sendiri demi wanita seperti dia?"


"Maafkan aku ma, aku memang sudah berdosa kepada Husna. Ini juga permintaan Husna untuk membawa Helena datang ke sini."


Brak !!


Mama yang sudah sangat kesal menggebrak meja.


"Wow, santai mom. Ada apa ini?" Tanya Elvio yang saat itu datang untuk mengunjungi mama dan dua keponakannya.


"Tanyakan saja pada kakakmu itu apa yang sudah dia lakukan sehingga membuat Mama sangat murka."


Pandangan Elvio langsung beralih menatap Alvino.


Alvino Tentu saja tidak berani mengatakan apa yang terjadi kepada Elvio, mengingat Elvio pernah mengatakan kepada Alvino jika saja Elvio tidak bisa membuat Husna bahagia dan menyakiti hati Husna maka, Elvio tidak akan segan-segan untuk merebut Husna darinya.


Saat itu, Elvio juga terang-terangan mengatakan bahwa dia menyukai Husna sejak awal Husna diminta untuk menjadi perawat pribadi almarhum Papa.


Elvio juga berharap bahwa papa akan meminta Elvio untuk menikah dengan Husna mengingat saat itu Alvino sudah memiliki kekasih yaitu Helena.


"Aku ikhlas dan merelakan Husna kepadamu karena ini adalah permintaan almarhum Papa. Tapi ingat, jika aku mendengar kamu tidak bisa membahagiakan Husna atau menyakiti hatinya. Maka, jangan salahkan aku jika aku akan mengambil Husna dan membawanya pergi jauh darimu."


"Ma, aku ingin menemui Husna sekarang." ucap Alvino sambil bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju tangga.


"Kamu pikir, Husna akan ada di sini setelah dia mengetahui kebusukan yang ada pada dirimu." ucap mama yang membuat langkah kaki Alvino terhenti.


"Apa maksud mama?" tanya Alvino.


"Husna tidak kembali sejak kamu memintanya untuk mencarikan berkas. Husna mengatakan bahwa dia akan tidur di sana sebab dia merindukan kamu. Awalnya, Mama pikir Husna benar-benar merindukan kamu jadi Mama membiarkan Husna tidur di rumah itu sendiri. Sekarang, mama baru mengetahui kenapa Husna memilih tidur di rumah itu sendiri. Husna tidak ingin Mama dan Kakak kamu mengetahui bahwa sebenarnya dia sudah kamu lukai."


"Mama, sebenarnya ada apa ini. Dan kenapa Husna terluka? siapa yang membuatnya terluka?"


Mama hanya melihat ke arah Elvio, lalu pandangannya beralih menatap Alviana.


Alviana yang seolah mengerti arti dari tatapan sang ibu, langsung berjalan mendekati Elvio dan mengajaknya pergi dari sana.


"Hei, kakak mau mengajakku kemana?"


"Sudah ikut saja..,"


Setelah kepergian Elvio dan Alviana..

__ADS_1


"Dengar, Mama memberi kamu kesempatan untuk memperbaiki semuanya, agar Elvio tidak menemukan celah untuk merebut Husna darimu."


Alvino menatap Mama.


"Kenapa kamu menatap Mama seperti itu, apa kamu pikir Mama tidak tahu jika sebenarnya Elvio menyukai Husna dan dia sudah berjanji akan merebut Husna, jika ternyata kamu tidak dapat membahagiakannya?"


"Ma, Alvino janji akan memperbaiki ini."


"Baguslah, sekarang lebih baik segera kamu pergi menemui Husna."


"Tapi Helena....,"


"Belum selesai mama memperingatkan kamu dia sekarang kamu sudah mengkhawatirkan wanita lain selain istri kamu sendiri?"


Tanpa pikir panjang lagi, Alvino segera keluar dari mansion dan bergegas menuju rumahnya untuk menemui Husna.


Alvino segera masuk menggunakan kunci duplikat setelah dia sampai di rumahnya.


Dengan hati hati, dia mencari keberadaan Husna hingga sama-sama dia mendengar suara lantunan ayat suci Alquran.


Ceklek....


Alvino melihat Husna sedang melantunkan ayat-ayat suci Alquran dengan masih menggunakan mukena, hanya saja kali ini ada yang berbeda. Jika biasanya Husna akan melantunkan ayat-ayat suci Alquran dengan suara yang merdu. Kali ini, suara Husna terdengar berat.


"Husna..."


Husna yang mendengar suara Alvino langsung berhenti, Husna menyeka air mata yang membasahi pipinya.


Lama Alvino menunggu, hingga kemudian Husna berbalik dan tersenyum.


"Mas, kamu sudah pulang?" tanya Husna sambil tersenyum.


Alvino berjalan mendekati Husna dan langsung memeluknya.


"Maafkan mas, Mas tahu tidak seharusnya Mas membohongimu. Maafkan mas."


Husna tidak bergeming, entah kenapa untuk kali ini hatinya begitu sakit atas kebohongan yang dilakukan oleh suaminya.


"Mas kapan sampai? kenapa tidak memberitahu Husna, dan dimana Helena?"


Husna, sebenarnya hatimu itu terbuat dari apa. Aku tahu kamu paling terluka atas kebohongan yang sudah aku lakukan, terutama saat tahu bahwa kepergianku untuk menemui wanita yang aku cintai. Tapi, kamu tidak sedikitpun menunjukkan kekecewaanmu kepadaku.


Marah Husna, seharusnya kamu marah kepadaku karena aku sudah berbohong kepadamu. Kenapa kamu tidak marah seperti mama yang kecewa terhadapku.


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2