MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA

MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA
Bab 73 : Kedatangan Lalisa


__ADS_3

Mama menangis sambil melepas kepergian Lalisa membawa putri cantik yang belum memiliki nama itu.


"Hati hati di jalan, segera memberi kabar kepada Mama begitu kamu sudah sampai di rumah Alvino,"


Lalisa tersenyum sambil memeluk mamanya. Lalisa kemudian masuk ke dalam mobil yang memang sudah termasuk dalam bagian perjalanannya menuju negara tempat di mana Alvino berada.


Lalisa tidak henti-hentinya memanjang bayi mungil yang ada di pangkuannya saat ini.


"Semoga kamu akan mendapatkan kebahagiaan seperti yang selalu diinginkan oleh ibu kamu. Doakan agar ibu kamu mendapatkan kesembuhan sehingga bisa melihatmu." Lalisa mencium pipi keponakannya itu sebelum memasuki pesawat yang sudah siap lepas landas.


...----------------...


Alvino sedang berdiri sambil memandangi foto pernikahannya dengan Husna.


"Ini sudah beberapa bulan dan aku sudah mencoba mencarimu ke segala tempat yang kemungkinan kamu akan ada di sana. Tapi, tidak satupun dari banyaknya tempat yang Aku datangi, aku akan menemukan kamu."


"Husna, kamu dimana?"


Alvino memejamkan mata dan mencoba untuk menetralisir rasa sedih dan juga kecewa karena selama beberapa bulan ini usahanya tidak membuahkan hasil.


"I close my eyes. Trying to forget all the good memories. About you, about love and also about my dream."


(Kupejamkan mata ini. Mencoba untuk melupakan segala kenangan indah. Tentang dirimu, tentang cinta dan juga tentang mimpiku.)


"The more I try. Your shadow is getting real, Penetrating to the soul. God, help me, who can't stop thinking about and regretting the things I've done, that made my wife leave my life."


(Semakin aku mencoba. Bayangmu semakin nyata, Merasuk hingga ke jiwa. Tuhan, tolonglah diriku yang tidak bisa berhenti untuk memikirkan dan menyesali atas perbuatan yang sudah aku lakukan, sehingga membuat istriku pergi dari kehidupanku.)


"I beg God to give me the opportunity to meet my wife, I want to apologize and correct the fatal mistake that I have done."


(Aku mohon Tuhan berikanlah aku kesempatan untuk bertemu dengan istriku, Aku ingin meminta maaf dan memperbaiki kesalahan fatal yang sudah aku lakukan.)

__ADS_1


"Husna, where are you. My life feels empty without you. Do you miss me there, Husna?"


"Husna I always miss you. Always miss you, I can not deny. You are the only one who can make my lost soul find the light again. Have you never realized the meaning of your love for me? come back husna."


(Husna, di mana dirimu berada. Hampa terasa hidupku tanpa dirimu.


Apakah di sana kau rindukan aku, Husna?)


(Husna diriku selalu merindukanmu. Selalu merindukanmu, tak bisa aku ingkari. Engkaulah satu-satunya yang bisa membuat jiwaku yang pernah tersesat kembali menemukan cahaya. Tak pernahkah kau sadari arti cintamu untukku? kembali lah Husna.)


Alvino mengusap wajahnya saat dia mendengar suara bel pintu berbunyi. Alvino melihat ke arah jam yang menunjukkan tengah hari.


Alvino segera berjalan menuruni tangga untuk mengetahui siapa yang akan datang, dengan penuh pengharapan Alvino berharap bahwa yang datang adalah Husna. Mengingat rumah itu tidak pernah lagi kedatangan tamu sejak kepergian Husna dan juga Helena.


Alvino terkejut saat melihat Lalisa yang datang dengan membawa bayi kecil di tangannya.


"Lalisa?"


Alvino menangis dan menerima bayi yang diserahkan Lalisa kepadanya.


Lalisa mengatakan bahwa ini adalah keinginan terakhir Helena untuk memberikan bayinya setelah dia lahir agar dirawat dan di besarkan dengan penuh cinta oleh Alvino.


"Jadi saat itu Helena mengatakan yang sebenarnya bahwa dia hamil?" tanya Alvino pada Lalisa setelah dia memandang wajah bayi yang ada di pangkuannya sekarang yang memang sangat mirip dengan Helena.


"Baik aku ataupun Mama tidak ada yang tahu bahwa saat itu kakak Helena mengatakan yang sebenarnya. Kami baru mengetahui saat usia kandungannya sudah menginjak 7 bulan, saat itu aku dan mama bertanya-tanya tentang apa yang membuat perut Kak Helena semakin besar setiap hari nya."


Lalisa kemudian menceritakan awal mula mama dan Lalisa percaya bahwa Helena hamil adalah, saat Mama memutuskan untuk membawa Helena periksa ke dokter karena beberapa minggu terakhir Helena terlihat pucat dan lemas.


Mama dan Lalisa terkejut saat dokter mengatakan Helena sedang hamil dan usianya sudah menginjak 7 bulan. Kebahagiaan yang dirasakan oleh Mama Lalisa harus berakhir tak kalah dokter mengatakan bahwa bayi itu harus segera dikeluarkan kalau tidak akan membahayakan nyawa Helena.


Lalisa menangis saat menceritakan Helena sekuat tenaga untuk bangun dan berbicara tentang keinginannya yang ingin terus mempertahankan bayi ini hingga cukup usia.

__ADS_1


Helena yang begitu memohon kepada tim dokter, membuat tim Dokter akhirnya mengizinkan Helena untuk mempertahankan bayi itu sampai dua bulan ke depan. Karena Helena menderita kanker nasofaring stadium 4, di mana seseorang yang menderita kanker ini sebenarnya tidak boleh hamil. Membuat Helena harus berada di rumah sakit demi menjaga kondisinya tetap pulih dan stabil.


"Kanker itu sudah stadium 4?" tanya Alvino.


Lalisa mengangguk lemah, kemudian menceritakan bahwa Helena ingin setelah bayi ini lahir, untuk dikirimkan kepada Alvino setelah usianya 40 hari.


Lalisa menyerahkan sebuah buku catatan milik Helena, di mana isi dari catatan itu seperti menunjukkan bahwa itu adalah pesan terakhir Helena kepada Alvino.


Alvino memberikan kembali bayi yang ada di pangkuannya itu kepada Lalisa agar bisa membaca catatan Helena.


...Suasana gerimis mendung mengundang duka yang teramat dalam. Itulah saat yang terakhir aku melihatnya. ...


...Seseorang yang sangat aku cintai. Aku ingat betul bagaimana rasanya ketika aku berada dipangkuannya. Penuh kehangatan dan ketenangan. ...


...Hening kini terasa. Penyesalan yang sangat teramat mendalam....


...Ketika kini ku buka jendela hanya angin yang bertiup senja. Menceritakan suatu kenangan yang tak pernah bisa untuk terlupakan. Dan disitulah aku terdiam melihat beberapa bayang-bayang lama itu....


...Sempat kuingat beberapa memori terindah bersamanya. Bayang-bayangku ketika masih cerah pagiku menanti. Sekelibat, aku melihat aku terperanjat dari tatapan kosongku. Secara tidak sengaja, aku menjatuhkan sebuah buku. Kemudian kuambil buku itu. Kutatap satu persatu isi buku itu. ...


...Betapa merasa sedih hatiku ketika dibuai masa lalu bersamanya. Sebuah album kecil itu, ku buka satu per satu, halaman demi halaman. Terlarutlah aku dalam kesedihan. Air mata menetes sedikit demi sedikit. Begitu besar memoriku tentang cintanya padaku....


...Aku tahu jika takdir tidak akan bisa membawa aku untuk bersatu kembali bersama dengan orang yang aku cintai, karena itu Aku akan mengirimkan malaikat kecil sebagai pengganti diriku untuk tetap menjaga agar cinta kita hidup selamanya....


...Jika sama-sama mengizinkan aku untuk bertemu dengan orang yang aku cintai terakhir kalinya, Aku ingin mengatakan bahwa aku sangat mencintai nya....


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2