MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA

MENANTI CINTA DIANTARA CINTA MEREKA
Bab 30 : Ada apa dengan Helena?


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Husna kini sudah diperbolehkan pulang dan langsung dibawa ke Mansion.


Elvio memutuskan untuk tinggal di sana juga selama beberapa waktu, demi bisa memantau kesehatan Husna dan juga bayi yang ada di dalam kandungannya.


"Husna, kenapa kamu mengizinkan Alvino dan Helena untuk berbulan madu?" Tanya Alviana saat Husna membantu Alviana menyiram tanaman. Di sisi lain, ada Elvio yang sedang bermain dengan keponakannya.


"Dengan adanya bulan madu, kamu dan pasangan akan makin mesra. Kamu dan pasangan pun bisa makin mematangkan langkah-langkah berumah tangga setelah bulan madu selesai."


"Seharusnya, kamu memberitahukan kondisimu juga kepada Alvino. Agar dia mempertimbangkan waktu bulan madunya. Coba bayangkan jika saat itu Elvio tidak datang ke rumah kamu."


Deg !!


Husna sedikit melirik ke arah Elvio.


Sepertinya setelah ini aku harus berterima kasih kepadanya, jika dia tidak datang ke rumah. Mungkin, bayi yang ada di dalam kandungan ku tidak akan selamat.


"Husna, kakak tahu. Niat kamu meminta Alvino untuk menikahi Helena baik. Tapi bukan berarti kamu harus terus-terusan mengalah dengannya. Kamu adalah istri pertama, kamu yang lebih berhak atas Alvino."


"Seharusnya, kamu membicarakan masalah ini dengan mama sebelum kamu memutuskan untuk meminta Alvino menikahi Helena."


"Aku pikir, aku dan Mas Alvino bisa mengatasi masalah kamu sendiri. Kami juga tidak ingin menambah beban Kakak dan juga mama."


"Bukan kami, tapi kamu. Kamu yang tidak ingin berbagi kesulitan kamu dengan kakak ataupun mama. Husna, kamu adalah bagian dari keluarga sejak papa membawa kamu datang ke rumah ini."


"Apa kamu tahu dampak psikologi dari wanita yang rela dimadu?"


"Dia akan lebih sering merasakan kekecewaan karena melihat suaminya bersama dengan wanita lain." lirih Husna.


"Bukan hanya itu. Merasa rendah diri, tidak berharga ataupun menyalahkan dirinya sendiri karena merasa tidak mampu memenuhi kewajibannya sebagai wanita."


Husna terdiam, tidak bisa dipungkiri jika selama ini Husna juga beranggapan hal yang baru saja dikatakan oleh kakak iparnya itu.


"Wanita akan kehilangan sumber rasa aman, nyaman dan kasih sayang dari suaminya. Ia merasa tidak disayangi oleh suami. Ketika suami menikah lagi, berarti suami harus membagi waktu dan perhatiannya untuk istri-istrinya."


"Wanita menjadi cemas dan khawatir dengan kondisi dan masa depan diri maupun anak."


Husna langsung memegang perut dengan kedua tangannya, Alviana tidak mengetahui hal itu mengingat pakaian Husna yang selalu syar'i.


"Membina rumah tangga tidaklah mudah. Ada banyak tanggung jawab besar yang harus dipikul. Masing-masing, suami dan istri punya kewajiban dan haknya. Jika salah satu saja dilanggar, hal itu dapat menggoyang biduk rumah tangga. Ada kalanya berbagai ujian dan cobaan datang menghadang. Seperti rasa lelah, bosan bertemu setiap hari, faktor ekonomi, perbedaan prinsip, dan masih banyak lagi lainnya."

__ADS_1


"Sekarang, kehidupan rumah tanggamu bukan hanya diisi oleh dua orang, tapi tiga. Jika kamu terus bersikap seperti ini. Kamu akan kalah dan Helena bisa saja merebut posisimu sebagai istri pertama."


"Salah satu yang bisa digunakan untuk menambah keharmonisan dalam rumah tangga yakni dengan melakukan kegiatan bersama-sama dan menghadapi segala ujian keluarga dengan cinta. Rasa kasih sayang yang besar akan mampu membuat semuanya tetap indah. Tapi bagaimana jika sikap atau perilaku dari salah satu pasangan, perbuatan suami misalnya, berubah dan membuat kecewa?"


"Insyaallah, setelah ini Husna akan lebih tegas kepada mereka berdua." Ucap Husna.


...----------------...


Di sebuah villa dengan nuansa pemandangan laut dan alam yang sangat indah...


Helena terlihat sangat bahagia sambil berendam di kolam yang berada di luar villa.


Kolam renang luar ruangan dengan suguhan pemandangan alam, benar-benar membuat Helena merasakan kebahagiaan.


Sayangnya, hanya Helena yang merasakan kebahagiaan. Tidak dengan Alvino.


Alvino terus saja memikirkan Husna, entah karena dia merasa khawatir, atau merasa bersalah karena Alvino tidak mendapatkan kabar dari Husna.


"Helena, mau sampai kapan kamu akan berendam di kolam itu?, Aku ingin keluar untuk berjalan-jalan sebentar. Apa kamu mau ikut?" Tanya Alvino.


"Tidak, aku akan tetap tinggal di villa untuk beristirahat. Jangan lupa untuk segera kembali, mengingat beberapa jam lagi kita akan melakukan SPA. Aku sudah memesan spa untuk dua orang."


Alvino hanya menghela nafas panjang, karena tidak ingin berdebat dengan Helena. Alvino segera keluar rumah untuk mencari udara segar.


Alvino mencoba kembali menghubungi telepon rumah dengan menggunakan nomor yang ada di pos satpam, berharap Husna akan mengangkatnya.


Alvino akhirnya memutuskan untuk menelpon nomor telepon mansion.


"Kediaman Winata.." Suara Alviana.


"Kakak, ini aku Alvino. Aku ingin bertanya apakah Husna ada di sana?"


"Bagi kamu, pria yang jadi kepala keluarga, harus mampu sekuat tenaga menempuh cara lain untuk mempertahankan pernikahan. Jangan biarkan goyangan angin dan masalah membuat pernikahanmu hancur. Akan tetapi rasa kecewa yang teramat besar dan memuncak, tak jarang membuat hatimu seakan meletup kesakitan. Setidaknya katakan dan utarakan pada sang istri, apa yang sekiranya baik dan tepat demi keberlangsungan hubunganmu."


"Kakak, ini Alvino."


"Seharusnya kamu mendahulukan kepentingan istri kamu. Seharusnya kamu bisa melihat mana yang membutuhkan perhatian lebih darimu."


Alvino terdiam, dan menyadari kesalahannya bahwa dia lupa meminta izin kepada sang Mama untuk pergi berbulan madu.

__ADS_1


"Maafkan aku kak, aku tidak bermaksud untuk langsung pergi tanpa meminta izin kepada mama. Tapi..."


"Sudah lah, lebih baik setelah ini kamu segera pulang agar bisa menjaga Husna dan calon bayinya. Husna hampir saja kehilangan calon bayinya jika saja elvio tidak datang ke rumahmu dan membawanya ke rumah sakit."


"Husna dibawa ke rumah sakit?"


Di Villa..


Helena memutuskan untuk berhenti berendam.


Helena mengambil handuk kimono dan segera masuk ke dalam untuk berganti pakaian, Helena memilih pakaian yang sedikit terbuka dan juga seksi. Dia berniat menggoda Alvino ketika dia sudah pulang.


Helena memakai parfum yang sangat disukai Alvino.


Sekarang, Helena berada di depan cermin dan memoles sedikit wajahnya.


Tes...


Tes...


Tes...


Helena melihat cairan merah yang menetes dari hidung dan jatuh di tangannya. Helena yang sebelumnya sedang menunduk untuk mencari lipstik, terkejut dengan cairan itu dan langsung melihat ke arah cermin.


Helena buru-buru mengambil tisu dan menutupi hidung yang terus mengeluarkan cairan merah itu.


Helena merasa sedikit pusing, dengan sedikit sempoyongan, Helena bacalah menuju lemari dan mengambil obat yang ada di tas kecil.


Helena meminum obat itu dengan tubuh yang gemetar.


"Aku harus kuat.." pekik Helena sambil meminum 2 butir obat yang rutin dia konsumsi selama beberapa bulan terakhir.


Helena merasakan pusing yang sangat hebat sehingga dia tidak dapat lagi menahan diri..


Brak !!


Helena pingsan.


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2